Tag Archive: Nabi Musa


Bab IV: Masa Pengasingan, Bani Israel dan Ilmu Sihir

Dalam bab sebelumnya penulis telah menyajikan kepada Anda eksodus Bani Israel. Kini kita akan melihat satu sisi kehidupan Bani Israel dalam pengasingan mereka. Setelah Bani Israel selamat dari kejarahan Firaun, muncullah sekelompok orang yang menentang Nabi Musa dan Nabi Harun. Kelompok ini dikenal keras kepala dan berlumuran dosa. Tingkah pola mereka yang congkak ini nampak ketika Nabi Musa mengajak kaumnya untuk masuk ke Kana’an (Palestina sekarang) Jawaban dari kaumnya dapat Anda baca di surat ke-5 ayat ke-22.

Intinya adalah Bani Israel ingin masuk ke Kana’an tanpa bersusah payah melawan musuh yang ada di tanah tersebut. Toh, menurut mereka selama ini Allah telah banyak membantu mereka dari kejaran Firaun, terutama terbelahnya laut Merah. Demikianlah pendapat mereka. Kalimat yang terlontarkan dari mereka sangat tidak layak.

”Pergilah Engkau dan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami hanya duduk menanti saja.”

Demikianlah jawaban dari Bani Israel. Secara fisik mereka telah merdeka. Tetapi secara jiwa mereka masih tetap budak yang hina. Mereka hanya menanti kemenangan tanpa perlawanan, dan bermimpi di siang bolong bahwa toh Tuhan akan pasti memberi mereka tanah itu seperti yang dijanjikan. Bila memang demikian, tentu Tuhan tidak perlu repot-repot menyuruh berperang. Inilah pikiran picik dan sekaligus memperlihatkan sifat mereka yang penakut, tidak memiliki harga diri dan semau gue. Akhirnya, Allah membiarkan mereka selama 40 tahun menjadi pengembara di padang pasir tanpa bisa memasuki tanah Kana’an.

40 tahun ini merupakan makna bahwa Allah akan menghilangkan satu generasi yang berjiwa kecil tadi dan akan menggantikan generasi lain yang tangguh dan benar-benar tidak tersisa sedikit pun jiwa budak hina dahulu. Sebelum mereka berhasil masuk ke tanah kana’an, Nabi Musa wafat terlebih dahulu. Namun, banyak kisah di dalam Al Qur’an yang mengkisahkan beberapa kejadian yang terdapat di dalam Al Qur’an.

Patung sapi emas

Kejadian ini terkait hingga hari ini. Dan yang populer adalah cerita penyembahan anak sapi. Penyembahan anak sapi ini terjadi ketika Nabi Musa harus bertemu dengan Allah selama 40 hari.Selama itu pulalah terjadi penyelewengan di Bani Israel. Anak sapi yang terbuat dari emas bukanlah ide yang timbul begitu saja dari diri Samiri, sang tokoh pembuatnya. Seperti yang kita ketahui sebelumnya, Bani Israel telah lama tinggal di negeri Mesir , sebuah negeri yang penuh dengan dewa-dewa. Dan kontak budaya serta agama Mesir dengan Bani Israel telah terjalin lama. Dan dari sebagian Bani Israel inilah masih ada yang menyimpan budaya lokal Mesir, penyembahan terhadap dewa.

Uncle Sam atau Paman Sam
Tokoh Samiri sendiri di angkat oleh Allah dalam Al Qur’an bukanlah hanya sekedar nama. Ia rupanya memiliki ilmu sihir, sebuah ilmu wajib dipelajari di Mesir, dan belum hilang pula kepercayaannya terhadap kekuatan dewa yang ia yakini, meski ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Firaun mati tenggelam dan bagaimana pula ular-ular, sebuah makhluk binatang yang menjadi simbol kekuatan di Mesir, milik para ahli sihir kalah oleh tongkat Nabi Musa. Samiri rupanya masih menyimpan keyakinan pagan.
Dalam masa selanjutnya, ribuan tahun hingga kini, ilmu sihir, ular dan simbol-simbol peradaban Mesir kuno ini masih digunakan oleh Yahudi dalam organisasi rahasianya (pembaca harap sabar untuk masuk pada artikel ini. Penulis akan menyajikannya kepada Anda. Untuk saat ini Anda harus tahu lebih dahulu sejarah panjang Bani Israel ini. Dan adalah bukan hal yang aneh jika Allah mengangkat kisah Nabi Musa lebih banyak dari pada nabi-nabi yang lain karena ini terkait dengan zaman hari ini. Mengapa demikian, pastikan Anda mengikuti terus artikel ini).
Samiri juga tahu kalau bukan hanya dirinya yang masih menyimpan keyakinan pagan Mesir ini. Ia dengan cerdik menggunakan kesempatan emas tanpa kehadiran Nabi Musa. Adapun Nabi Harun, Samiri tahu kalau beliau tidak ‘sekeras karakternya’ seperti Nabi Musa. Kisah tentang ini dapat Anda baca lebih jauh di surat Thoha surat ke-20 ayat ke-85 hingga ke-98.
ilustrasi penyembahan anak sapi oleh Bani Israel
Selanjutnya dari kisah Samiri ini adalah ia diusir oleh Nabi Musa. Tidak dijelaskan selanjutnya bagaimana nasib Samiri. Tetapi yang menarik adalah timbul pertanyaan, apakah Samiri diusir diikuti pula oleh sebagian Bani Israel yang percaya pada apa yang Samiri bawa? Jika tidak, mengapa budaya bangsa India hari ini sama dengan cerita dalam Al Qur’an, penyembahan (anak) sapi. Perlu diselidiki lebih lanjut oleh para sejarawan kaitan yang begitu erat antara Mesir kuno dan India hari ini. Kita tahu kalau sungai Nil merupakan sungai suci bagi bangsa Mesir. Dan sungai Gangga di India pun demikian.
Hapi dewa sungai Nil

Gangga, dewi sungai Gangga
Kita tahu kalau sapi adalah dewanya bangsa Mesir dan sapi pulalah binatang suci umat Hindu.

Apis, dewa berbentuk sapi bangsa Mesir

Nandini, sapi tunggangan dewa agama hindu
Kita tahu kalau ular kobra adalah simbol kekuatan bagi Firaun dan tukang sihir di Mesir dan ular kobra pulalah binatang yang begitu dekat dengan budaya India.
Lihatlah Apopis, dewa ular bangsa Mesir ada persamaan dengan Dewa Siwa, perhatikan ular kobra yang ada di leher.

Dewa Siwa
Kita tahu kalau bangsa Mesir percaya dewa matahari Ra dan Hindu percaya pada dewa Surya.

Ra, dewa matahari bangsa Mesir kuno

Surya, dewa matahari agama Hindu

Selengkapnya lihat gambar berikut akan dewa-dewa bangsa Mesir kuno

Apakah Samiri dan pengikutnya menyeberang ke India dan membentuk peradaban dan agama baru di sana? Biarkan ini menjadi pekerjaan rumah para sejarawan untuk membuktikannya.
Kembali kepada kisah penyembahan sapi. Bangsa Mesir telah lama percaya akan penyembahan sapi dan Samiri menggunakan ilmu sihirnya untuk membuktikan bahwa budaya Mesir kunolah yang menolong mereka dari bencana Firaun. Ini dikatakan olehnya dalam Al Qur’an:

“Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa tetapi Musa telah lupa”

(Thoha-88)
Perhatikan kalimat Samiri: Musa telah lupa.
Samiri tahu kalau dulu Nabi Musa pernah dibesarkan di lingkungan istana Mesir yang penuh dengan ukiran dewa-dewa. Dan Samiri tahu jika Nabi Musa dulu pernah lama tinggal di Mesir dan hidup serta bergaul dengan budaya Mesir. Dan tentu Nabi Musa tahu persis akan Apis, dewa sapi bangsa Mesir. Maka ia mengatakan kalau Nabi Musa lupa. Lupa akan budaya dan dewa Mesir.
Tetapi Samiri lupa jika Nabi Musa bukanlah penyembah dewa!
Penyembahan Bani Israel kepada anak sapi hasil ilmu sihir Samiri merupakan bukti bahwa Bani Israel percaya akan sihir begitu kuat. Mengapa dapat dikatakan demikian?
Mereka dengan jelas-jelas melihat kekuatan Allah melalui terbelahnya laut Merah tetapi tidak percaya akan keberadaan Allah itu sendiri. Ini dapat Anda tinjau di surat AL Baqarah ayat ke-55.

Dan ayat ini merupakan petunjuk bagi kita bahwa Bani Israel yang diteruskan hingga kini adalah pelopor aliran filsafat empirisme.
Dan untuk menghapus keyakinan mereka pada kekuatan sapi ini, maka Allah membuat skenario akan terbunuhnya salah seorang Bani Israel. Dan untuk mengetahui siapa pembunuhnya tersebut mereka harus memotong seekor sapi!
Tetapi oleh Bani Israel mereka mengajak debat, sebagai keengganan mereka untuk melakukannya.
Keengganan ini ada dua. Pertama untuk menutupi pembunuh sesungguhnya dan yang kedua ada yang merasa ‘kualat’ memotong sapi ynag dulu mereka percayai sebagai binatang suci. Kalaupun sapi itu dipotong, yang mereka tahu adalah dengan ritual ala bangsa Mesir kuno bukan dengan ritual baru ala syariah Nabi Musa.
Keengganan mereka ini dapat dibaca pula di surat Al Baqarah ayat ke-67 hinga ke-74.
Ada satu hal dalam ayat tersebut di atas. Bani Israel tidak hanya pelopor aliran filsafat empirisme, tetapi juga aliran rasionalisme dengan mencoba berdebat dalam pemotongan sapi betina yang menurut mereka tidak masuk akal.
Demikianlah kisah Bani Israel dalam pengasingan yang mempertontonkan sebagian dari mereka yang percaya akan sihir.
Kedekatan Bani Israel dengan ilmu sihir ini akan kembali hadir di zaman kita saat ini. Ada terdapat istilah kabbalah, sebuah aliran kuno bangsa Mesir yang dihidupkan kembali oleh Yahudi dan juga simbol-simbol bangsa Mesir kuno lainnya yang terkait dengan mistik dan sihir.


Bab I: Flash Back

Artikel ini dimulai dari sebuah kisah Nabi yang menjadi pengikat tiga agama besar di dunia saat ini: Nabi Ibrahim. Membicarakan Yahudi adalah terasa kurang bila tidak membicarakan terlebih dahulu Nabi mulia ini. Sejarawan banyak yang sepakat bahwa Nabi Ibrahim lahir di tanah yang kini penuh dengan kekakacauan, Irak tepatnya di kota Ur, Kaldan di bagian selatan Irak. Ur terletak di pinggiran sungai Eufrat yang terkenal itu. Ada sebagian lagi mengatakan beliau lahir di kota Kutsa, selatan Irak. Sebagai tempat kelahiran Nabi Ibrahim, kota ini juga masih menyimpan puing-puing reruntuhan akan pengorbanan Nabi Ibrahim ke dewa-dewa atas perbuatan beliau yang menghancurkan patung.

Puing-puing reruntuhan ini masih tersisa hingga sekarang dan diberi nama Tel Ibrahim. Saat Nabi Ibrahim hidup, yang memegang kekuasaan adalah raja Namrud bin Kana’an bin Kusyi. Singkat kata, setelah beliau selamat dari kobaran api besar yang dijadikan sebagai “penebusan dosa” untuk para dewa, Nabi Ibrahim pun hijrah. Hal ini disebabkan selama ini kaumnya tidak pernah menghiraukan dakwah beliau. Beliau hijrah merupakan sebuah keniscayaan dari sejarah para nabi. Pada masa selanjutnya, Nabi Yakub, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad semuanya pernah berhijrah. Nabi Ibrahim hijrah ke tanah Syam (Suriah sekarang) dan tinggal di Haran, sebelah utara Syam. Tetapi di sini para penduduknya juga tidak menghiraukan dakwah beliau. Beliau pun berhijrah ke tanah Kana’an (Palestina).

Di tanah Kan’aan ini beliau mendakwakan tauhid bahwa hanya Allah semata yang patut disembah. Suatu saat tanah Kana’an mengalami masa kekeringan dan paceklik. Nabi Ibrahim pun bersama istrinya, Sarah pergi menuju Mesir. Pada saat itu Mesir sudah maju dan makmur di bawah kekuasaan raja (Fir’aun) Sanusart II dan Sanusart III. Wilayah kekuasaan Fir’aun pada saat itu membentang hingga Syam (suriah).
peta Mesir kuno
Selama di Mesir inilah Nabi Ibrahim mendapatkan istri keduanya yang bernama Hajar, yang menurut beberapa riwayat adalah seorang budak dari Fir’aun tetapi ada juga yang mengatakan Hajar adalah anak kandung Fir’aun dari rahim selirnya. Mana yang benar antara kedua riwayat ini bukan itu yang menjadi perdebatan. Inti sejarahnya adalah dari kedua rahim istri nabi Ibrahim inilah dunia saat ini menjadi sebuah wacana pertempuran tiga ideology besar: Yahudi, Nasrani dan Islam.
Selanjutnya, Nabi Ibrahim kembali lagi ke Kan’an (Palestina) dan singgah di Hebron. Di tanah Kana’an ini beliau sempat mengunjungi bebarapa tempat seperti Beersheba, AL Quds, el Khali dan tempat lainnya.
Dari istri kedua beliau, Hajar, Nabi Ibrahim mendapatkan keturunan Ismail dan dari istri pertama, Sarah, beliau mendapatkan keturunan Ishak, yang kedua-duanya kelak menjadi seorang nabi pula. Kemudian Nabi Ishak mendapatkan putra bernama Yakub yang mempunyai nama julukan Israel.
Untuk nama Israel ini, di dalam Al Qur’an hanya disebutkan sekali saja untuk merujuk ke Nabi Yakub yaitu di surat 3 ayat 93. Silakan Anda mengecek ayat tersebut.
Nabi Yakub dilahirkan di Palestina pada abad kedelapan sebelum Masehi, atau kira-kira pada tahun 1750 sebelum Masehi. Menurut riwayat beliau hijrah ke tanah Haran. Di tanah baru ini beliau menikah dan dikarunia dua belas putra: Simeon (Samson), Reuben, Levy, Judah, Issachar, Zebulun, Dan, Naphtali, Gad dan Asher. Sedangkan putra terakhir beliau Benyamin, dilahirkan di tanah Kana’an (Palestina), setelah Nabi Yakub kembali bersama anak-anaknya ke Sa’ir, dekat el Khalil (Hebron).
Yakub dan keluarganya selanjutnya hijrah ke Mesir seperti kejadian yang dialami oleh Nabi Ibrahim, masa paceklik. Selanjutnya di Mesir inilah Al Qur’an mengisahkan bagaimana kehidupan Nabi Yusuf dalam surat Yusuf.
Dan atas kebaikan Nabi Yusuf inilah anak-anak nabi Yakub dan semua keturunannya hidup dengan tenang. Dan inilah babak awal dari masa Bani Israel. Hal ini dikatakan demikian karena semua keturunan Nabi Yakub disebut Bani Israel.
Sejarah Bani Israel pun dimulai dari Mesir. Dan Sejarah besar pun mulai terukir di tanah ini hingga nanti ke Palestina.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Mesir-Palestina merupakan dua tanah sejarah semenjak Nabi Ibrahim hingga sekarang.
Dan judul artikel ini adalah tepat karena dari Mesirlah awal sejarah besar terukir dan di Palestinalah akhir sejarah akan diukir.
Sysru pernah berkata tentang Athena, “ketika kita menjejakkan kaki kita di sini, maka kita tengah berjalan di atas sejarah.”
Kalimat Sysru di atas tepat juga untuk dilabelkan ke artikel ini: tanah Mesir-Palestina, adalah dua tanah yang akan menjadi sejarah akan berawal sejarah Bani Israel dan berakhirnya Yahudi.
Bab II : Bani Israel di Mesir
Para sejarawan berpendapat ketika nabi Yakub dan semua keluarganya hijrah ke Mesir, Mesir saat itu di bawah pemerintahan dinasti Hyksos pada abad kesembilan belas sebelum Masehi (1878-1580).
Hyksos adalah bangsa penggembala asal Asia yang hijrah ke Mesir. Kisah klasik suatu bangsa pindah adalah masa paceklik. Bangsa ini berhasil memanfaatkan kelemahan penguasa Mesir pada saat itu dan membentuk empat dinasti penguasa Mesir selanjutnya.
Selama masa dinasti Hyksos, Bani Israel hidup dalam keadaan aman dan makmur. Singkat kata, Ahmes berhasil mengalahkan dinasti Hyksos pada abad keenam belas dan mengusir mereka. Maka Mesir kembali di bawah pemerintahan bangsa asli Mesir dan membentuk dinasti XVIII.
Dinasti penguasa Mesir baru ini melihat bahwa Bani Israel lebih berpihak ke Hyksos dari pada ke mereka, maka dinasti ini pun mulai merasa resah akan keberadaan Bani Israel di Mesir.
Sebagai bahan tambahan saling berganti masa penguasa tanah Mesir berikut penulis sajikan kepada Anda silsilah masa kekuasaan Mesir.
Periode sebelum masa dinasti 3500-3100 sebelum Masehi

Periode dinasti awal 3100-2686 sebelum Masehi
‘Scorpion’
Dinasti pertama c.3100-2890 sebelum Masehi

Narmer
Menes (Hor-Aha)
Djer
Wadj (Djet)
Den
Anendjib
Semerkhet
Qa’a
Dinasti kedua c.2890-2686 Sebelum Masehi
Hotepsekhemwy
Raneb
Nynetjer
Seth-Peribsen
Khasekhemwy
Kerajaan Tua c.2686-2181 Sebelum Masehi
Dinasti ketiga c.2686-2613 sebelum Masehi
Sanakhte (Nebka) (c.2688-2668)
Djoser (c.2668-2649)
Sekhemkhet (Djoser Teti) (c.2649-2641)
Khaba (c.2641-2637)
Huni (c.2637-2613)
Dinasti keempat c.2613-2494 sebelum Masehi
Snofru (c.2613-2589)
Khufu (Cheops) (c.2585-2566)
Djedefre (c.2566-2558)
Khafre (Rekhaf) (c.2558-2532)
Menkaure (Mykerinos) (c.2532-2514)
Shepseskaf (c.2514-2494)
Dinasti V c.2494-2345 sebelum Masehi
Userkaf (c.2494-2487)
Sahure (c.2487-2475)
Neferirkare Userkhau (c.2475-2455)
Shepseskare (c.2455-2448)
Raneferef (c.2448-2445)
Niuserre (c.2445-2421)
Menkauhor (c.2421-2413)
Djedkare (c.2413-2381)
Unas (Wenis) (c.2381-2345)
Dinasti VI c.2345-2181 sebelum Masehi
Teti (c.2345-2313)
Pepi I Meryre (c.2313-2279)
Merenre (c.2279-2270)
Pepi II Neferkare (c.2279-2181)
Periode pertengahan awal c.2181-2040 sebelum Masehi
Dinasti VII / VIII c.2181-2173 sebelum Masehi
Wadjkare Qakare Iby
Dinasti IX /X c.2160-2040 sebelum Masehi
Meryibre Kheti (Akhtoy) I
Merykare
Kanrferre
Nebkaure Kheti (Akhtoy) II
Wahkare Kheti (Akhtoy) III
Merikare 11th Dynasty c.2133-1991 sebelum Masehi
Intef I (Inyotef I) Sehertawy (c.2133-2123)
Intef II (Inyotef II) Wahankh (c.2123-2074)
Intef III (Inyotef III) Nakhtnebtepnefer (c.2074-2066)
Mentuhotep I ? (c.2066-2040)
Kerajaan masa pertengahan c.2040-1786 sebelum Masehi
Dinasti XI
Mentuhotep II Nebhepetre (c.2040-2010)
Mentuhotep III Sankhkare (c.2010-1998)
Mentuhotep IV Nebtawyre (c.1998-1991)
Dinasti XII c.1991-1786 sebelum Masehi
Amenemhet I Sehetepibre (c.1991-1962)
Senusret I Kheperkare(c.1962-1917)
Amenemhet II Nubkaure (c.1917-1882)
Senusret II Khakhperre (c.1882-1878)
Senusret III Khakaure (c.1878-1841)
Amenemhet III Nimaatre (c.1841-1796)
Amenemhet IV Maakherure (c.1796-1790)
Queen Sobeknerfu Neferusobek (c.1790-1786)
Periode pertengahan kedua c.1786-1567 sebelum Masehi
Dinasti XII (kira-kira ada 70 raja) c.1786-1633 sebelum Masehi
Wegaf Khawitawire (c.1783 – 1779)
Amenemhet V Sekhemkare
Harnedjheriotef Hetepibre
Sobekhotep I Khaankhre (ca.1750)
Hor
Amenemhet VII Sedjefakare
Sobekhotep II Sekhemre-Khutawy (ca.1745)
Khendjer
Sobekhotep III
Neferhotep I Khasekhemre (c.1723-1713)
Sobekhotep IV Merihotepre Khaneferre (c.1713)
Iaib (c.1713-1703)
Ay Merneferre (c.1703-1680)
Neferhotep II
dan lebih dari delapan raja pada dinasti XIV c.1786-1603 sebelum Masehi
Nehesy dinasti XV c.1674-1567 sebelum Masehi
Hyksos kings
Sheshi (Salitis?)
Yakubber (Bnon?)
Khyan (Apachnan)
Apepi I (Apophis)
Apepi II (Khamudi?) (c.1542-1532)
Dinasti XVI c.1684-1567 sebelum Masehi Raja-raja Hyksos
Anather
Yakobaam ?
Dinasti XVII c.1650-1567 sebelum Masehi
Sobekemsaf I
Sekhemre Wadjkhau
Sobekemsaf II
Intef VII
Tao I Seakhtenre
Tao II Sekenenre
Kamose Wadjkheperre
patung raja-raja (Firaun) Mesir
Kerajaan Baru c.1570-1070 sebelum Masehi
Dinasti XVIII c.1570-1293 sebelum Masehi
Ahmose I Nebpehtyre (c.1570-1546)
Amenhotep I Djeserkare (c.1546-1527)
Thutmose I Akheperkare (c.1527-1515)
Thutmose II Akheperenre (c.1515-1498)
Queen Hatshepsut Maatkare (c.1498-1483)
Thutmose III Menkhepere (c.1504-1450)
Amenhotep II Akheperure (c.1450-1412)
Thutmose IV Men-khepru-Re (1412-1402)
Amenhotep III Nebmaatre (c.1402-1364)
Amenhotep IV/Akhenaten Neferkheperure (c.1350-1334)
Smenkhkare Ankhheperure (c.1334)
Tutankhamen Nebkheperoure (c.1334-1325)
Ay Kheperkheperure (c.1325-1321)
Horemheb Djeserkheperure (c.1321-1293)
Dinasti XIX c.1293-1185 sebelum Masehi
Ramses I Menpehtyre (c.1293-1291)
Seti I Merienptah Menmaatre (c.1291-1278)
Ramses II Meriamen Usermaatre Setepenre (c.1279-1212)
Merneptah Hetephermaat Baenre Meriamen (c.1212-1202)
Amenmes Heqawaset Menmire Setepenre (c.1202-1199)
Seti II Merenptah Userkheperure Setepenre (c.1199-1193)
Merneptah Siptah Sekhaenre/Akhenre (c.1193-1187)
Queen Twosret Setepenmut Sitre Meriamen (c.1187-1185)
Dinasti XX c.1185-1070 sebelum Masehi
Sethnakhte Userkhaure Setepenre (c.1185-1182)
Ramses III Usermaatre Meriamen (c.1182-1151)
Ramses IV Usermaatre/Heqamaatre-Setepenamen (c.1151-1145)
Ramses V Usermaatre Sekheperenre (c.1145-1141)
Ramses VI Nebmaatre Meriamen (c.1141-1133)
Ramses VII Usermaatre Setepenre Meriamen (c.1133-1128)
Ramses VIII Usermaatre Akhenamen (c.1128-1126)
Ramses IX Neferkare Setepenre (c.1126-1108)
Ramses X Khepermaatre Setepenptah (c.1108-1098)
Ramses XI Menmaatre Setepenptah (c.1098-1070)
Periode pertengahan ketiga c.1070-664 sebelum Masehi
High Priests (Thebes)
Dinasti XXI sementara ada di Tanis
Herihor Siamun Hemnetjertepyenamun (c.1080-1074)
Piankh (c.1074-1070)
Pinedjem I Meriamen Khakheperre Setepenamun (c.1070-1032)
Masaherta (c.1054-1046)
Djedkhonsefankh (c.1046-1045)
Menkheperre (c.1045-992)
Smendes II (c.992-990)
Pinedjem II (c.990-969)
Psusennes (c.969-959)
Dinasti XXI
Tanite c.1070-945 sebelum Masehi
Nesbanebded Hedjkheperre Setepenre (Smendes I) (c.1070-1043)
Nephercheres (Neferkare-hekawise Amenemnisu Meramun (c.1043-1039)
Psusennes I Akheperre Setepenamun (c.1039-1000)
Amenemope Usimare Setepenamun (c.1000-991)
Osorkon the elder (Osochor) (c.991-985)
Psinaches (c.985-976)
Psusennes II Titkheprure (c.976-962)
Siamun Nutekheperre Setepenamun Siamun Meramun (c.962-945)
Dinasti XXII
Bubastite c.945-730 sebelum Masehi
Sheshonq I Hedjkheperre Setepenre (c.945-924)
Osorkon I Sekhemkheperre Setepenre (c.924–889)
Sheshonq II Hekakheperre Setepenre (ca. 890)
Takelot I Usimare (c.889–874)
Osorkon II Usimare Setepenamun (c.874–850)
Harsiese (ca. 865)
Takelot II Hedjkheperre Setepenre (c.850–825)
Sheshonq III Usimare Setepenamun (c.825–773)
Pamai (c.773–767)
Sheshonq V Akheperre (c.767–730)
Osorkon IV (c.730–712)
Dinasti XXIII
Tanite c.817-730 sebelum Masehi
Pedibastet Meriamen Usermaatre Setepenre(c.818–793)
Iuput I (ca. 800)
Sheshonq IV Usermaatre Meriamen (c.793–787)
Osorkon III Usermaatre Setepenamen (c.787–759)
Takelot III Usermaatre (c.764–757)
Rudamon Usermaatre Setepenamen (c.757–754)
Iuput II Meriamen sibastet Usermaatre (c.754–712)
Nimlot (ca. 740)
Peftjauabastet Nefer-ka-re (c.740–725)
Thutemhat (ca. 720)
Pedinemti (ca. 700)
Dinasti XXIV c.720-714 sebelum Masehi
Shepsesre Tefnakht (c.724-717)
Wahkare Bakenrenef (c.717-712)
Dinasti XXV 747-656 sebelum Masehi
Piye Usimare Sneferre (Piankhi) (747-716)
Shabaka Neferkare Wahibre (716-702)
Shebitku Djedkaure Menkheperre (702-689)
Taharka Khunefertemr (689-663)
Tanutamun Bakare (663-656)
Periode dinasti terakhir 664-332 sebelum Masehi
Dinasti XXVI 664-525 sebelum Masehi
Necho I (664-656)
Psammetic I Wahemibre Psamtek (656-609)
Necho II Wahemibre Neko (609-594)
Psammetic II Neferibre Psamtek (594-587)
Wahibre (Haaibre) (Apries) (587-569)
Ahmose II Khnemibre (Amasis) (569-526)
Psammetic III Ankhkaenre (526)
Dinasti XXVII 525-404 sebelum Masehi
Cambyses II (525-522)
Darius I (521-486)
Xerxes (486-465)
Artaxerxes I (465-424)
Darius II (423-405)
Artaxerxes II (405-359)
Dinasti XXVIII 404-399 sebelum Masehi
Amenirdis (Amyrtaeus) (404-399)
Dinasti XXIX 399-380 sebelum Masehi
Nefaarud I (Nepherites I) (399-393)
Psammuthis Userre Setepenptah Pasherienmut (ca. 392)
Hakor Khnemmaere Setpenkhnum (Achoris) (392-380)
Nefaarud II (Nepherites II) (380)
Dinasti XXX 380-343 sebelum Masehi
Nakhtnebef Kheperkare (Nectanebo I) (380-362)
Djedhor (362-360)
Nekhtharehbe Snedjemibre Setpenanhur (Nectanebo II) (360-343)
Dinasti XXXI 343-332 sebelum Masehi
Artaxerxes III (343-338)
Arses (338-336)
Darius III (336-332)
Periode Romawi Kuno Raja-raja Masedonia
Alexander the Great (332-323)
Philip III Arrhidaeus (323-317)
Alexander IV Aegus (317-311)
Dinasti Ptolemaik 323-30 sebelum Masehi
Ptolemy I Soter (305-282)
Ptolemy II Philadelphus (284-246)
Arsinoe II (278-270)
Ptolemy III Euergetes I (246-222)
Bernice II (246-221)
Ptolemy IV Philopator (222-205)
Ptolemy V Epiphanes (205-180)
Harwennefer (205-199)
Ankhwennefer (199-186)
Cleopatra I (194-176)
Ptolemy VI Philometor (180-164)
Cleopatra II (175-115)
Ptolemy VII Neos Philopator (164-145)
Ptolemy VIII Euergetes II (145)
Cleopatra III (142-101)
Ptolemy IX Soter II (116-80)
Ptolemy X Alexander I (107-88)
Ptolemy XI Alexander II (80)
Ptolemy XII Neos Dionysos (80-51)
Queen Bernice IV (58-55)
Ptolemy XIII (51-47)
Queen Cleopatra VII (51-30)
Ptolemy XIV (47-44)
Ptolemy XV (44-30)
Kembali ke nasib Bani Israel, pada masa dinasti XIX berkuasa, tepatnya pada masa Ramses II, Bani Israel mengalami masa-masa yang paling sulit dalam kehidupan mereka.
Hal ini disebabkan pada masa sebelumnya, orang-orang Mesir mendapatkan perlakuan yang berbeda dalam masa dinasti Hyksos dan juga semakin banyaknya populasi mereka hingga menjadi begitu dominan dalam masyarakat.
Dan ketika Ramses II berkuasa, Bani Israel dijadikan budak yang hina dengan hak-hak kehidupan yang begitu jauh dari orang-orang Mesir pada umumnya. Di samping alasan di atas, Bani Israel dijadikan budak karena manuver-manuver mereka yang mencoba untuk mengkudeta dinasti XIX tersebut.

ilustrasi perbudakan terhadap Bani Israel

ilustrasi Bani Israel menjadi budak dan mendapatkan hukuman
Dalam keadaan tertekan inilah, tampillah putra terbaik dari Bani Israel yang kemudian dijadikan oleh Allah menjadi nabi sekaligus pembebas Bani Israel dari kehinaan yaitu Nabi Musa.
Bagaimana nasib Bani Israel selanjutnya? Pastikan Anda terus mengikuti artikel ini karena artikel ini baru permulaan dan nantinya akan membahas freemasonry, dll.

Sumber : http://ahaeureka.blogspot.com