Tag Archive: dajjal


Pertama-tama saya mengucapkan: Maaf bila artikel kali ini mengandung unsur SARA yang mungkin sangat kental, tapi sebenarnya saya tidak mempunyai maksud apa-apa dalam menulis artikel ini selain hanya untuk memberikan informasi yang mungkin bermanfaat bagi anda semua. Dan ini yang paling penting: saya tidak memaksa anda untuk percaya pada tulisan-tulisan saya, soal percaya atau tidak, ada di tangan anda.  

Zetgeist. Apakah ada yang asing dengan kata tersebut ? Jika ya, mari saya jelaskan.

Zeitgeist adalah judul film/video yang saya temukan di YouTube. Kenapa saya membahas ini ? Masalahnya adalah karena pembahasan dan topik dalam film itu, mengenai Konspirasi. Film tersebut berusaha untuk membongkar berbagai konspirasi secara rinci dan berdasarkan fakta. Tetapi kali ini saya bukan membahas filmnya, hanya membahas videonya. Apa perbedaan video dan filmnya ? Jika videonya terdiri dari 13 bagian dan rata-rata per bagian durasinya sekitar 10 menit, tapi jika filmnya saya tidak tahu pasti ada berapa, tapi film yang pertama sekitar 2 jam. Video yang saya bahas adalah yang Part 2 of 13. Saya tidak tahu pasti yang mana yang Part 1, karena di part 2 ini di awal videonya tertulis Part 1.
Ini Videonya:
Bagi anda yang malas menunggu buffering-nya. Baca saja ini, ini subtitlenya:
Matahari, setidaknya sejak 10 ribu tahun sebelum masehi, Sejarah dipenuhi dengan ukiran yang menggambarkan kekaguman dan pemujaan atas objek ini. Dan hal ini mudah dipahami mengingat matahari terbit setiap pagi, memberi penglihatan, kehangatan, dan rasa aman. Menyelamatkan manusia dari dingin dan kebutaan akibat kegelapan malam. Tanpanya, masyarakat kuno mengerti, sumber makanan tidak akan tumbuh dan kehidupan di atas planet tidak akan bisa bertahan. Realitas tersebut menjadikan matahari sebagai objek yang paling dikagumi sepanjang masa. Begitu pula pengetahuan mereka tentang bintang-bintang. Penelusuran posisi bintang, memungkinkan mereka bisa mengetahui dan mengantisipasi kejadian yang hanya terjadi dalam rentang waktu yang lama. Seperti terjadinya gerhana dan bulan purnama. Selanjutnya mereka mengelompokkannya, menjadi apa yang hari ini kita kenal sebagai rasi bintang. 

Ini adalah salib zodiak, salah satu gambar konsep tertua dalam sejarah manusia. Ia merefleksikan matahari sebagaimana seolah-olah bergerak melintai 12 rasi bintang besar dalam waktu satu tahun. Ia juga merefleksikan 12 bulan dalam satu tahun, 4 musim, serta titik balik matahari. Istlah zodiak berhubungan dengan rasi bintang yang dibentuk atau dipersonifikasikan sebagai figur atau binatang. Dengan kata lain, masyarakat jaman dahulu tidak hanya sekedar mengikuti pergerakan matahari dan bintang, namun juga memberikan gambaran hidup melalui mitos mengenai pergerakan dan hubungan mereka.

Matahari, sesuai kapasitasnya sebagai pemberi dan penyelamat kehidupan dipersonifikasikan sebagai wakil  dari pencipta yang tidak tampak, atau Tuhan. Tuhan matahari, cahaya bagi dunia, juru selamat bagi manusia. Demikian halnya dengan ke-12 rasi bintang. yang mewakili tempat-tempat yang dilalui “Tuhan matahari” yang dikenal dengan nama yang biasanya berhubungan dengan kejadian-kejadian alam yang berlangsung selama periode waktu tersebut. Aquarius misalnya, pembawa kendi berisi air, yang membawa hujan pada musim semi.
Ini adalah Horus. Dia adalah “Tuhan matahari” dari bangsa Mesir, sekitar 3000 tahun sebelum Masehi. Dia merupakan personifikasi matahari dimana hidupnya merupakan rangkaian mitos alegoris mengenai pergerakan matahari di langit. Dari tulisan-tulisan kuno di Mesir, kita tahu banyak hal mengenai juru selamat matahari ini. Horus mempunyai seorang musuh bernama Set, personifikasi dari kegelapan atau malam hari. Dan secara kiasan, setiap pagi Horus akan memenangkan pertempuran melawan Set. Sebaliknya, di malam hari Set menaklukkan Horus serta mengirimkannya ke dunia bawah tanah.
Penting diketahui bahwa, “kegelapan melawan cahaya” atau “kebaikan melawan kejahatan” merupakan salah satu mitos dualitas terbesar yang pernah ada. dan masih diekspresikan  dalam berbagai bentuk hingga saat ini.
Secara umum, kisah Horus adalah sebagai berikut:
1. Horus dilahirkan pada tanggal 25 Desember dari seorang perawan Isis-Meri
2. Kelahirannya ditandai dengan munculnya sebuah bintang di sebelah Timur
3. Yang kemudian digunakan oleh 3 orang raja untuk menemukan dan memberkati juru selamat yang baru lahir
4. Pada umur 12 tahun, ia telah menjadi seorang guru yang hebat
5. Pada umur 30, dia dibaptis oleh figur bernama Anup dan sejak saat itu ia mulai menyebarkan ajarannya
6. Horus mempunyai 12 orang murid yang menyertai perjalanannya
7. Ia melakukan banyak mukjizat, seperti menyembuhkan orang sakit dan berjalan di atas air
8. Horus dikenal dengan banyak nama julukan, seperti: Sang Kebenaran, Sang Cahaya, Anak Tuhan yang diberkati, Gembala yang baik, dan masih banyak lagi
9. Setelah dikhianati oleh Taifun, Horus disalibkan, dikubur selama 3 hari dan kemudian bangkit dari kematian.
Ciri-ciri Horus, terlepas dari benar atau tidaknya tampaknya menyebar pada banyak kebudayaan di dunia, karena banyak ditemukan tuhan ( dewa-dewa ) lain yang memiliki mitos hampir sama.
1. Attis, dari Pirigia (1200 tahun sebelum Masehi)
lahir dari perawan Nana pada 25 Desember; disalibkan, ditempatkan dalam sebuah makam dan setelah 3 hari, bangkit dari kematian.
2. Krishna, dari India (900 tahun sebelum Masehi)
lahir dari perawan Devaki; kelahirannya ditandai dengan munculnya sebuah bintang di sebelah Timur; ia melakukan banyak mukjizat dengan para muridnya; dan bangkit setelah kematiannya.
3. Dionysus, dari Yunani (500 tahun sebelum Masehi)
lahir dari perawan pada 25 Desember; seorang guru yang melakukan perjalanan keliling, yang melakukan banyak mukjizat, seperti mengubah air menjadi anggur; dia dikenal sebagai ‘Raja segala raja”, “Anak Tuhan satu-satunya”, “Alfa dan Omega”, dan masih banyak lagi; dan setelah kematiannya ia kemudian bangkit kembali.
4. Mithra, dari Persia (1200 tahun sebelum Masehi)
lahir dari seorang perawan pada 25 Desember; ia mempunyai 12 murid dan melakukan banyak mukjizat; setelah kematiannya, ia dikubur selama 3 hari untuk kemudian bangkit kembali; ia juga dikenal sebagai “Sang Kebesaran”, “Sang Cahaya”, serta masih banyak lagi; yang menarik adalah hari yang disucikan untuk memuja Mithra adalah hari Minggu (Sun Day).
Kenyataannya adalah ada banyak juru selamat dari berbagai periode dan waktu yang berbeda dari seluruh penjuru dunia dengan ciri-ciri umum yang sama.
Pertanyaannya adalah – Mengapa demikian ?
Mengapa lahir dari seorang perawan pada tanggal 25 Desember ?
Mengapa mati selama 3 hari, untuk kemudian bangkit kembali ?
Mengapa memiliki 12 orang murid atau pengikut ?
Untuk menjawabnya, mari kita tengok juru selamat matahari yang terkini . . .
5. Yesus Kristus 

lahir dari perawan Maria pada tanggal 25 Desember di Bethlehem; kelahirannya ditandai dengan munculnya sebuah bintang di sebelah Timur; yang kemudian diikuti oleh 3 orang raja (orang Majus) untuk menemukan dan memberkati juru selamat yang baru; dia telah menjadi guru sejak berumur 12 tahun; pada umur 30 dia dibaptis oleh John Pembaptis; dan ia mulai menyebarkan ajarannya; Yesus punya 12 murid yang menempuh perjalanan bersamanya; ia mempunyai banyak mukjizat, seperti menyembuhkan orang sakit, berjalan di atas air, menghidupkan orang mati; ia juga dikenal sebagai “Raja segala raja”,”Anak Tuhan”, “Cahaya Dunia”, “Alfa dan Omega”, “Anak domba Tuhan”, dan masih banyak lagi; Setelah dikhianati oleh muridnya bernama Yudas dan dijual seharga 30 keping perak, dia disalibkan, ditempatkan dalam sebuah makam, bangkit kembali setelah 3 hari, dan naik ke surga.
Pertama-tama, saat kelahiran sepenuhnya adalah bagian dari sistem perbintangan. Bintang yang muncul di sebelah Timur adalah Sirius, bintang paling terang pada malam hari, yang pada tanggal 24 Desember berada pada posisi sejajar dengan ke-3 bintang yang paling terang pada gugusan sabuk Orion. Ketiga bintang terang tersebut, sejak jaman dahulu dikenal hingga sekarang dikenal dengan nama “3 Raja”. 3 Raja (orang Majus) serta bintang paling terang, Sirius, semua menunjuk pada tempat terbitnya matahari pada tanggal 25 Desember. Inilah alasan mengapa ke-3 raja ‘mengikuti’ bintang di sebelah Timur untuk menemukan tempat terbit (lahirnya) matahari.
Perawan (Virgin) Maria adalah rasi bintang Virgo, yang juga dikenal dengan nama Sang Perawan Virgo. Virgo dalam bahasa latin berarti perawan. Virgo juga dapat diartikan sebagai Lumbung Roti, dan lambang Virgo adalah perawan yang memegang sebatang gandum. Lumbung roti, dan lambang gandum ini menyimbolkan bulan Agustus dan September, waktu untuk melakukan panen. Bahkan “Bethlehem” jika diterjemahkan secara harafiah berarti “Lumbung roti”, sehingga Bethlehem merupakan istilah lain bagi rasi bintang Virgo, sebuah tempat di langit, bukan di bumi.
Ada fenomena menarik lain yang terjadi sekitar tanggal 25 Desember, atau saat titik balik matahari musim dingin. Dari titik balik matahari musim panas hingga titik balik matahari musim dingin, hari menjadi semakin pendek dan dingin. Dan dilihat dari belahan bumi sebelah utara, matahari tampak bergerak menuju selatan dan tampak semakin mengecil. Semakin memendeknya hari serta merangasnya tumbuh-tumbuhan saat mendekati musim dingin dianggap sebagai proses kematian oleh masyarakat pada jaman dahulu. Proses kematian matahari. Dan pada tanggal 22 Desember, kematian matahari dianggap telah sepenuhnya terjadi, sebab matahari setelah secara terus menerus bergerak kearah selatan selama 6 bulan telah sampai pada titik terendahnya di cakrawala langit. Di sini terjadi hal yang menarik: Matahari berhenti bergerak ke arah selatan, setidaknya selama 3 hari yaitu 22, 23, dan 24 Desember, dan selama 3 hari itu matahari sedang berada pada posisi “salib selatan” atau gugusan bintang Crux. Dan setelah itu, pada tanggal 25 Desember matahari bergerak 1 Derajat, kali ini ke arah utara, membawa hari yang lebih panjang, hangat, dan Musim Semi. Oleh sebab itu dikatakan: Matahari mengalami kematian pada salib, mati selama 3 hari, untuk kemudian bangkit atau terlahir kembali.
Itulah sebabnya Yesus dan banyak tuhan matahari yang lain berbagi kisah penyaliban, kematian selam 3 hari, serta konsep bangkit dari kematian. Hal tersebut merupakan periode transisi matahari sebelum ia berbalik arah kembali menuju belahan bumi bagian utara, membawa musim semi yang sekaligus bermakna keselamatan. Namun masyarakat kuno tidak merayakan kebangkitan matahari itu hingga saat titik balik matahari musim semi, atau Paskah. Sebab pada saat itu dapat dikatakan bahwa matahari telah berhasil mengalahkan kekuatan jahat kegelapan, sebagaimana durasi siang hari menjadi berlangsung lebih panjang dari malam hari, serta munculnya pertanda musim semi.
Mungkin yang paling jelas diantara semua simbol ilmu perbintangan di sekitar Yesus adalah mengenai 12 murid yang dimilikinya, yang secara sederhana mewakili 12 rasi bintang Zodiak, dimana Yesus sebagai matahari, menempuah perjalanannya bersama mereka. Angka 12 bahkan disebutkan berulang kali dalam Alkitab. Seperti: 12 suku Israil, 12 saudara Yusuf, 12 hakim Israil, 12 kepala keluarga agung, dan lain-lain.
Ada tambahan dari saya:
Gambaran akan Yesus
Gambaran akan Athens (mitologi Yunani)
Anda melihat kemiripan ?
Satu lagi…
Gambaran dewi Isis (kiri) dan Maria (kanan)
Jika ini semua benar, Ini adalah salah satu konspirasi terbesar yang pernah ada.
Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel saya sebelumnya. Bagi yang belum membacanya, silakan membaca artikel yang sebelumnya disini agar anda sebagai pembaca tidak kebingungan dengan alur ceritanya dan sekaligus memperjelas artikel kali ini. Seperti judul di atas, kali ini saya membahas Zeitgeist part 3 of 13. 

Seperti biasanya, saya memberikan video-nya terlebih dahulu. Ini dia :

Bagi anda yang malas menunggu buffering-nya, Baca saja ini :

Kembali ke salib zodiak, gambaran ‘kisah hidup’ dari matahari. Ini bukan sekedar karya seni atau alat untuk mengukur pergerakan matahari melainkan sekaligus simbol spiritual kaum Pagan, yang jika dipendekkan akan tampak seperti ini  :

Ini bukanlah simbol dari umat kristiani, melainkan bentuk lain dari salib zodiak milik kaum Pagan. Itu sebabnya mengapa Yesus pada kesenian okultis awal, selalu digambarkan dengan kepala berada di depan salib. Sebab Yesus adalah matahari. Tuhan matahari,

TERANG BAGI DUNIA
“AS LONG AS I AM IN THE WORLD I AM THE LIGHT OF THE WORLD.” (JOHN 9:5)

JURU SELAMAT YANG BANGKIT (TERBIT)
“AS GO QUICKLY AND TELL HIS DISCIPLES THAT HE IS RISEN FROM THE DEAD.” (MATT 28:6)
YANG AKAN DATANG LAGI, SEBAGAIMANA TERJADI SETIAP PAGI
“AND IF I GO AND PREPARE A PLACE FOR YOU, I WILL COME AGAIN, AND RECEIVE YOU” (JOHN 14:3)
KEAGUNGAN TUHAN
“TO GIVE THE LIGHT OF KNOWLEDGE OF THE GLORY OF GOD” (2 COR 4:6)
YANG MELINDUNGI MANUSIA DARI KERJA SANG KEGELAPAN
“LET US CAST OFF THE WORKS OF DARKNESS AND LET US PUT ON THE ARMOUR OF LIGHT” (ROM 13:12)
SEBAGAIMANA DIA TERLAHIR SETIAP PAGI
“VERILY, I SAY UNTO THEE, EXCEPT A MAN BE BORN AGAIN, HE CANNOT SEE THE KINGDOM” (JOHN 3:3)
TAMPAK MUNCUL DARI BALIK AWAN
“THEY SHALL SEE THE SON COMING IN THE CLOUDS” (MARK 12:36)
TINGGI DI SURGA DENGAN MAHKOTA DURINYA, ATAU . . . SINAR MATAHARI
“BUT HE THAT CAME DOWN FROM HEAVEN, EVEN THE SON WHICH IN HEAVEN” (JOHN 3:13) 

“THEN CAME JESUS FORTH, WEARING A CROWN OF THORNS” (JOHN 19:5)

Selanjutnya, dari banyak kiasan-kiasan astrologi-astronomi dalam Alkitab, salah satu yang paling penting, adalah tentang era (jaman). Dalam injil terdapat berbagai penjelasan yang berhubungan dengan “era”. Untuk memahami itu kita perlu mengetahui fenomena yang dikenal sebagai pergantian titik balik matahari.

Orang Mesir kuno dan banyak peradaban kuno jauh sebelum mereka, mengetahui bahwa kira-kira setiap 2150 tahun, matahari yang terbit saat titik balik matahari musim semi, akan menunjuk pada lambang Zodiak yang berbeda-beda. Ini akibat sudut pergeseran yang terbentuk secara perlahan pada saat Bumi berputar di atas porosnya. Disebut pergantian karena rasi bintang bergerak mundur, dan tidak lagi melalui siklus tahunan yang normal. Rentang waktu yang diperlukan bagi peralihan melalui ke-12 simbol adalah sekitar 25.765 tahun. Fenomena ini juga dikenal sebagai “Tahun Besar”, dan masyarakat kuno tahu mengenai hal ini. Mereka menyebut setiap satu peride 2150 tahun sebagai satu era.
Dari 4300 hingga 2150 tahun sebelum masehi merupakan era Taurus, sang Banteng. Dari 2150 tahun sebelum masehi hingga 1 masehi merupakan era Aries, sang Domba. Dan dari tahun 1 masehi hingga 2150 masehi merupakan era Pisces, era dimana kita berada saat ini. Dan memasuki sekitar tahun 2150, kita akan memasuki era baru. Era Aquarius.
Alkitab, secara simbolis menggambarkan terjadinya pergantian melalui 3 era, serta menandai yang ke-4. Dalam Perjanjian Lama, ketika Musa turun dari gunung Sinai membawa 10 perintah dari  Tuhan, dia sangat murka ketika  melihat orang-orangnya sedang memuja patung banteng dari emas. Ia bahkan membanting hancur lempeng batu yang ia bawa dan memerintahkan orang-orangnya untuk saling membunuh untuk menyucikan diri mereka. Sebagian besar ahli Alkitab merujuk kemarahan ini adalah karena bangsa Israel melakukan pemujaan terhadap Tuhan palsu. Kenyataannya adalah, banteng emas itu adalah Taurus, sang Banteng. dan Musa mewakili era baru Aries, sang Domba. 

Itulah sebabnya mengapa orang Yahudi hingga hari ini masih meniup terompet dari tanduk Domba. Musa mewakili kehadiran ere baru Aries. Dan pada saat datangnya era yang baru, semua orang harus membuang era yang lama.

Mithra

Sosok lain juga ikut menandai masa pergantian ini, seperti Mithra, salah satu Tuhan sebelum Kristen, yang secara simbolis juga membunuh banteng. Yesus adalah figur yang datang setelah era Aries, era Pisces atau 2 ekor ikan. Simbolitas ikan banyak ditemukan dalam Perjanjian Baru, Yesus memberi makan 5000 orang dengan roti dan “2 ikan”

“WE ONLY HAVE FIVE LOAVES OF BREAD AND 2 FISH” (MATT 14:17)

Pada saat Yesus mulai mengajar di sekitar Galilea, Ia menolong “2” penangkap “ikan” yang menjadi pengikutnya. Dan kita semua mungkin pernah melihat simbol Yesus bebentuk ikan di belakang mobil orang-orang. Sedikit yang tahu apa arti simbol itu sesungguhnya. Itu adalah simbol perbintangan kaum Pagan, bagi Kerajaan Matahari selam era Pisces. Selain itu, saat kelahiran Yesus juga menjadi awal berlangsungnya era yang sekarang ini.
Dalam Lukas 22:10 ketika Yesus ditanya oleh para muridnya, dimana paskah berikutnya berlangsung setelah Ia pergi, Yesus menjawab: “Apabila kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu seseorang yang membawa kendi berisi air, ikutilah dia kedalam rumah yang dimasukinya.”

Ayat tersebut hingga saat ini merupakan salah satu yang paling mengungkapkan keterkaitan antara ilmu perbintangan. Orang yang membawa kendi adalah Aquarius, si pembawa air yang senantiasa digambarkan dengan seseorang yang sedang menuangkan kendi berisi air. Ia mewakili era setelah Pisces, dan ketika matahari (Tuhan matahari) meninggalkan Era Pisces (Yesus), maka ia memasuki rumah Aquarius, sebab Aquarius mengikuti Pisces pada pergantian titik balik matahari. Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah, setelah era Pisces akan datang era Aquarius.

Selanjutnya, kita semua pasti pernah mendengar mengenai akhir waktu dan akhir dunia. Terlepas dari penggambaran kartun yang terdapat dalam Kitab Wahyu, sumber utama mengenai hari akhir datang dari Matius (Matt) 28:20), dimana Yesus berkata: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir dunia.”. Namun, dalam Alkitab versi Raja James, “dunia” merupakan terjemahan yang salah di antara banyak terjemahan salah yang lain. Kata sesungguhnya yang digunakan adalah “aeon” yang berarti “era”. “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir era.”. Dan memang benar, sebagaimana personifikasi Yesus sang matahariera Pisces akan berakhir pada saat matahari memasuki era Aquarius. Keseluruhan konsep mengenai akhir waktu dan akhir dunia merupakan alegori ilmu perbintangan yang salah diterjemahkan. Coba katakan hal itu, kepada kira-kira 100 juta orang Amerika yang percaya akhir dunia sudah semakin dekat.

Lebih dari itu, karakter Yesus, baik secara harafiah maupun hubungannya dengan ilmu perbintangan, secara jelas merupakan tiruan dari Tuhan Matahari bangsa Mesir, Horus. Sebagai contoh, dibuat sekitar 3500 tahun yang lalu pada dinding-dinding Kuil Luxor di Mesir gambar-gambar tentang proses pemberitahuan, mukjizat pengandungan, kelahiran, serta pemujaan atas Horus. Gambaran dimulai dengan Thoth memberitahukan perawan Isis bahwa ia akan mengandung Horus, Kemudian Neth, Sang Roh Kudus menghamili perawan Isis, kemudian kelahiran melalui perawan serta pemujaannya. Ini sama persis dengan kisah dikandungnya bayi Yesus. Bahkan kemiripan antara agama orang Mesir dengan  agama Kristen adalah sungguh  sangat mengejutkan.

Epik Gilgamesh

Dan peniruan pun berlanjut. Kisah Nabi Nuh dan Bahteranya, diambil secara langsung dari tradisi. Konsep mengenai terjadinya banjir besar telah ada di mana-mana sejak jaman kuno, dengan lebih dari 200 kisah serupa dari berbagai periode serta waktu yang berbeda. Namun seseorang tidak perlu mencari lebih jauh sumber sebelum agama kristen, selain kisah epik Gilgamesh yang ditulis 2600 tahun sebelum Masehi. Kisah ini bercerita terjadinya banjir besar atas perintah Tuhan, sebuah bahtera raksasa dengan binatang-binatang yang selamat di dalamnya, bahkan hingga kejadian dilepas serta kembalinya burung merpati, sebagaimana diceritakan dalam kitab Injil. diantara banyak kesamaan-kesamaan yang lain.

Ada pula tiruan kisah Nabi Musa. Konon setelah dilahirkan, Musa ditempatkan dalam sebuah keranjang yang diapungkan pada sebuah sungai untuk menghindari pembunuhan besar-besaran terhadap bayi. Kemudian ia diselamatkan oleh seorang putri kerajaan dan dibesarkan sebagai seorang pangeran. Kisah bayi dalam keranjang ini diambil secara langsung dari mitos Sargon dari Akkad, sekitar 2250 tahun sebelum Masehi. Sargon dilahirkan, ditempatkan dalam keranjang untuk menghindari pembunuhan besar-besaran terhadap bayi, lalu diapungkan di sungai. Ia kemudian ditolong dan dibesarkan oleh Akki, salah seorang istri keluarga kerajaan. Musa juga dikenal sebagai pembawa 10 perintah yang datangnya dari Tuhan. Namun, ide tentang hukum yang diberikan Tuhan melalui seorang nabi di atas sebuah gunung, juga merupakan sebuah kisah yang sangat tua. Musa hanyalah salah satu pembawa hukum Tuhan diantara banyak yang lain dalam mitos sejarah. Di India, Manou adalah sang pembawa hukum Tuhan. Di Crete, Minos mendapat berkah di gunung Dikta dimana Zeus memberikan dia hukum-hukum suci. Sementara di Mesir ada Mises, yang membawa plakat batu yang bertuliskan hukum-hukum Tuhan.

Manou, Minos, Mises, Moses (Musa)

Dan mengenai sepuluh perintah Tuhan, mereka langsung diambil dari mantera ke-125 dalam “Kitab Kematian” (Book of the Death) milik orang Mesir. Apa yang dalam buku dikatakan,

“Saya tidak mencuri” menjadi “Kamu tidak boleh mencuri”,

“Saya tidak membunuh” menjadi “Kamu tidak boleh membunuh”,

“Saya tidak berkata bohong” menjadi “Kamu tidak boleh menjadi saksi palsu”

dan seterusnya . . .
Nyatanya, keyakinan orang Mesir kuno sepertinya merupakan pondasi dasar bagi ajaran umat kristiani.

Pembaptisan, alam baka, penghakiman terakhir, kelahiran dari perawan, kematian dan kebangkitan, penyaliban, Tabut Perjanjian, penyunatan, juru selamat, komuni suci, banjir besar, paskah, natal, passover, dan masih banyak lagi, yang semuanya merupakan ciri-ciri yang dimiliki keyakinan orang Mesir kuno, jauh sebelum keberadaan agama Kristen dan Yahudi.

Seri Zeitgeist kali ini adalah seri terakhir dalam pembahasannya tentang Agama. Lalu apa yang akan dibahas selanjutnya ? hmm.. Anda akan memahami tentang peristiwa 911 serta sistem perekonomian dan politik di dunia. Saya sarankan bagi anda yang belum membaca artikel sebelumnya agar membacanya disini.

Seperti biasa, Saya akan memberikan videonya dulu :

bagi anda yang tidak ingin lama menunggu bufferingnya, baca saja ini :

Justin Martyr, salah satu sejarawan kristen awal serta pembela agama kristen menulis :
“Ketika kita mengatakan bahwa Yesus Kristus – guru kita, dikandung tanpa melalui hubungan seksual, disalibkan, mati, kemudian bangkit lagi dan naik ke Surga, kita mengemukakan hal yang sedikitpun tidak bebeda dari apa yang kalian percayai mengenai kisah putra dari Jupiter.”
Dalam tulisannya yang lain, Justin Martin mengatakan:
“Dia terlahir dari seorang perawan, anggaplah itu sebagai hal yang biasa, sebagaimana kamu memandang Perseus.”
Tampak jelas bahwa Justin serta tokoh-tokoh kristen awal mengetahui betapa mirip agama Kristen dengan keyakinan agama kaum Pagan. Bagaimanapun Justin punya sebuah jawaban. Sejauh yang dia amati, setan-lah yang melakukannya. Setan telah datang mendahului Kristus sebagaimana telah diramalkan dan menciptakan karakter Kristus di dunia Pagan.
“Penganut Kristen fundamentalis, benar-benar mempesona, orang-orang ini benar-benar percaya bahwa dunia ini berumur 12,000 tahun. Saya pernah bertanya kepada mereka: “OK, bagaimana dengan fosil dinosaurus ?” Dia menjawab: “fosil dinosaurus? Tuhan meletakkannya disana untuk menguji iman kita !” “Saya pikir Tuhan pasti meletakkan anda di sini untuk menguji iman saya!” 

Alkitab, tidak lebih dari sebentuk kiasan mengenai ilmu perbintangan, sebagaimana hampir semua mitos agama, yang telah ada sebelumnya. Bahkan aspek pemindahan ciri-ciri sosok karakter lama kepada sosok karakter yang baru, bisa ditemukan dalam Alkitab itu sendiri.

Dalam Perjanjian Lama, terdapat kisah tentang Yusuf. Yusuf merupakan prototip bagi karakter Yesus Yusuf dikandung melalui mukjizat, Yesus dikandung melalui mukjizat. Yusuf punya 12 saudara, Yesus punya 12 murid. Yusuf dijual seharga 20 keping perak, Yesus dijual seharga 30 keping perak. Saudara bernama “Yudah” yang menjual Yusuf, Murid bernama “Yudas” yang menjual Yesus. Yusuf memulai pengajarannya pada umur 30, Yesus memulai pengajarannya pada umur 30. Dan kesamaan-kesamaan itu terus berlanjut.

Selanjutnya, apakah ada bukti sejarah selain Alkitab mengenai seseorang bernama Yesus, anak Maria, yang berkeliling bersama 12 pengikutnya, menyembuhkan banyak orang dan seterusnya ? Ada banyak sejarawan yang tinggal di Mediterania dan sekitarnya, baik pada saat maupun beberapa saat setelah masa perkiraan berlangsungnya kehidupan Yesus. Berapa banyak sejarawan yang mendokumentasikan sosok Yesus ? Tidak satupun. Bagaimana juga agar lebih imbang, tidak berarti bahwa para pembela kisah sejarah Yesus tidak mengajukan klaim yang berlawanan.
Setidaknya ada empat sejarawan yang sering dijadikan acuan untuk membenarkan sejarah keberadaan Yesus. Pliny the Younger, Suetonius, Tacitus adalah tiga tokoh yang pertama. Kontribusi mereka hanya terdiri dari beberapa potong kalimat dan hanya mengacu pada “Kristus” atau “Christ”, yang sesungguhnya bukanlah sebuah nama melainkan sebuah gelar, yang artinya adalah “Yang Diberkati”. Sumber keempat adalah Joshepus dan selama ratusan tahun ia telah terbukti sebagai sumber yang memberi informasi palsu. Yang menyedihkan, tulisannya masih dijadikan bahan pembenaran.
Kalian pasti berpikir bahwa seseorang yang bangkit dari kematian dan naik ke surga dihadapan banyak orang serta memiliki banyak mukjizat hingga mendapat sorak sorai orang banyak, seharusnya masuk ke dalam catatan sejarah. Namun hal itu tidak terjadi, sebab jika bukti sejarah itu kelak diselidiki besar kemungkinan akan terungkap, bahwa figur bernama Yesus, . . . sesungguhnya tidak pernah ada.
“The Christian religion is a parody on worship of the sun, in which they put a man called Christ in the place of the sun, and pay him the adoration originally payed to the sun.”
Thomas Paine 1737-1809
Kami tidak bermaksud kasar, akan tetapi kami ingin berdasarkan fakta. Kami tidak ingin membuat sakit hati, akan tetapi kami ingin secara akademis benar mengenai apa yang kita mengerti dan ketahui sebagai kebenaran. Hanya saja, Agama Kristen memang tidak berdasarkan kebenaran. Kami menemukan bahwa Agama Kristen, tidak lebih dari sebuah kisah Romawi yang diciptakan untuk tujuan politik.
Kenyataan yang sesungguhnya adalah, Yesus merupakan pencitraan dewa matahari dari sekte gnostik kristen, dan sebagaimana semua dewa-dewa Pagan yang lain, ia adalah figur yang tidak nyata. Melalui sebuah keputusan politiklah, sejarah mengenai figur Yesus ditetapkan sebagai alat untuk mengontrol masyarakat.

Pada tahun 325 di Roma, Kaisar Konstantine mengadakan pertemuan dengan dewan di Nicea. Selama pertemuan inilah, doktrin-doktrin agama Kristen yang bersifat politik kemudian ditetapkan, dan dimulailah sejarah panjang penumpahan darah serta penipuan spiritual atas nama kristen. Dan selama 1600 tahun selanjutnya, Vatikan menancapkan kekuasaan politiknya atas seluruh wilayah Eropa. Mengantarkan Eropa memasuki masa Kegelapan, yang diwarnai dengan kejadian-kejadian mengenaskan, seperti Perang Salib dan Inkusisi.

Agama Kristen, bersama dengan semua agama teistik lainnya, merupakan bentuk penipuan sejarah. Agama digunakan untuk memisahkan manusia dari alam, dan juga satu sama lain. Agama mendorong kepatuhan yang buta kepada penguasa. Agama mengurangi tanggung jawab umat manusia melalui dogma bahwa Tuhan lah yang mengatur segalanya, dan sebaliknya, banyak kejahatan keji kemudian bisa dibenarkan atas nama Tuhan. Dan yang terpenting, ia memberi kekuasaan kepada mereka yang mengetahui semua hal itu, namun tetap menggunakan mitos untuk  memanipulasi dan mengontrol masyarakat. Mitos agama, merupakan alat paling ampuh yang pernah diciptakan, dan berfungsi sebagai ladang subur, untuk menciptakan mitos-mitos yang lain.
Epilog:
“Mitos adalah sesuatu yang dipercaya oleh masyarakat luas, padahal palsu. Dalam pengertian yang mendalam, sebagaimana dalam agama, mitos berfungsi sebagai kisah yang digunakan untuk mengarahkan atau menggerakkan massa. Fokusnya bukanlah pada hubungan diantara cerita dengan kenyataan, akan tetapi pada fungsinya. Sebuah cerita tidak akan bisa berfungsi, kecuali diyakini kebenarannya dalam sebuah masyarakat atau bangsa. Bukan satu hal penting untuk diperdebatkan, jika ada orang yang mempertanyakan kebenaran dari kisah suci agama. Penganut agama yang bersangkutan tidak akan bersedia untuk berdebat dengan mereka. Mereka mengabaikannya, atau menuduh mereka sebagai penghujat Tuhan.” 

to be continue . . .

(my comment for part 2, 3, and 4 : hmm. . . ada beberapa sisi yang saya tidak setuju, salah satunya saya tidak setuju bahwa agama hanya sebuah alat untuk mengontrol masyarakat, jika tidak ada agama, dunia akan kacau tanpa ada pembenaran antara benar dan salah)

saran bagi pembaca: jangan jadikan video ini menjadi pedoman kepercayaan anda sepenuhnya, jadikanlah hanya untuk referensi, karena ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa video ini tidak 100 % benar.

(zeitgeist part 4 of 13)

Sumber : http://thementalrealm.blogspot.com/2011/01

Iklan

Untuk yang sudah terbiasa dengan artikel tentang konspirasi akhir jaman, istilah dajjal, freemasonry, illuminati, luciferian, tahun 2012, angka 666, piramida, New World Order dan lain sebagainya tentulah bukan hal yang asing lagi.
Tapi bagi yang sama sekali awam, istilah tadi terdengar sangat asing sehingga jangankan berharap untuk mengetahui lebih lanjut, bahkan untuk tertarikpun belum tentu.
Itu baru istilah, belum lagi simbol-simbol yg digunakan oleh kelompok dajjal, banyak dari kita tidak mengetahuinya sehingga tak terpikirkan harus bersikap bagaimana. Padahal simbol-simbol itu banyak bertebaran disekeliling kita.

Lambang bintang terbalik, gambar kepala kambing, salib (yg mirip salib), jangka dan penggaris siku, pilar kembar, lantai hitam putih, tanduk setan, tangan metal (salut to setan), bentuk piramida, mata satu, bintang daud (bendera israel), dan sebagainya. Itu adalah lambang-lambang yang menjadi ciri kelompok rahasia. Mereka adalah Freemason, Illuminati, Luciferian dan lain-lain.

Kalau seseorang menggunakan salah satu atau lebih lambang tadi, maka ada dua kemungkinan. Pertama sebagai identitas anggota kelompok rahasia tertentu. Kedua karena ketidak tahuan maka dia hanya ikut-ikutan saja.

Untuk kemungkinan pertama, maka jelas orang seperti ini wajib diwaspadai dan dicurigai sebagai membawa misi atau agenda satanisme dalam setiap pembicaraannya. Sedangkan untuk kemungkinan kedua, dia adalah orang yang tidak tahu konspirasi, hanya fanatik pada tokoh tertentu yg memakai lambang tersebut lantas ikut-ikutan. Tapi orang semacam ini harus diingatkan bahwa lambang itu berbahaya. Lambang itu tidak dibuat asal-asalan, melainkan sudah dipikirkan masak-masak oleh para pengemban agenda dajjal bersama “sang master” (iblis). Maka golongan jin yang turut membantu agenda dajjal itu sangat suka dengan lambang-lambang tersebut. Itulah sebabnya para dukun (cenayang) sering memakai simbol-simbol yang khusus dibuat untuk keperluan memanggil jin (mereka menyebutnya arwah / spirit).

Para pengemban agenda dajjal (disebut juga agenda New World Order / Tatanan Dunia Baru) selalu berusaha keras, bagaimana caranya supaya lambang-lambang satanis itu bisa nampak tersebar diseluruh dunia dalam segala bentuknya, baik secara terang-terangan maupun secara terselubung (disamarkan). Dan memang lambang / simbol itu kini sudah masuk dalam kehidupan manusia. Sulit dihindari bahwa banyak barang kebutuhan manusia sudah disusupi simbol-simbol satanis seperti diatas.

Apakah Anda memiliki anak yang masih duduk di bangku sekolah, apakah itu Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), atau bahkan hingga di Sekolah Menengah Atas (SMA)? Jika iya, maka jika Anda perhatikan sejak beberapa bulan lalu hingga kini, ada satu permainan kartu bergambar asal Jepang yang sangat digemari anak-anak Indonesia, dan juga mungkin belahan negara lain. Permainan kartu itu disebut Yu-Gi-Oh!, yang mengklaim diri sebagai Trading Card Game. Di Indonesia, tren permainan ini juga disemarakkan dengan pemutaran film kartunnya yang disiarkan stasiun teve swasta, awalnya RCTI, lalu SCTV, dan sekarang  Indosiar setiap hari Ahad pukul 11.30 wib.

Yu-Gi-Oh! adalah sebuah manga karya Kazuki Takahashi yang muncul sejak tahun 1996, yang menceritakan sebuah petualangan seorang anak lelaki penyendiri yang jago dalam sebuah game bernama Yugi Mutou. Suatu hari ia diberi hadiah oleh kakeknya sebuah kotak yang berisi kepingan-kepingan Puzzle kuno, yang disebut Millenium Puzzle. Setelah bertahun tahun kemudian Yugi berhasil menyusunnya dan roh yang berada di dalam permainan itu berhasil keluar dari kartu dan merasuki tubuh Yugi. Ini menyebabkan Yugi punya “pendamping” dan mengubah anak tersebut menjadi pribadi yang baru yang disebut Yami Yugi, atau The Dark Yugi.

Di Jepang, permainan ini sukses besar, hingga merambah sukses juga di Amerika dan Kanada. Lalu seperti yang sudah-sudah, jika sukses di Amerika, maka juga dipastikan akan “menjajah” dunia, termasuk Indonesia yang masuk di tahun 2002. Yu-Gi-Oh! Sekarang kita kenal dalam berbagai versi di bawah bendera Konami, seperti game PC, komik manga, Playstation dan sebagainya, dan juga kartunya. Di Indonesia, komik Yu-Gi-Oh! diterbitkan PT. Elex Media Komputindo.

Di dalam tulisan ini Kami tidak mengupas soal bagaimana cara memainkan Yu-Gi-Oh! yang bagi orang dewasa mungkin melihatnya cukup rumit namun banyak anak-anak malah banyak yang hafal di luar kepala. Kami akan mengulasnya dalam perspektif The Mind Control yang dilakukan para Konspiran Globalis, seperti yang mereka sisipkan dalam berbagai produk Walt Disney dan sejenisnya, yang menggunakan bahasa simbol untuk meracuni otak dan pikiran anak-anak. Jika serial Harry Potter oleh para pemerhati pendidikan di Barat disebut sebagai The Handbook of Occultism, maka Yu-Gi-Oh! ini tidak berlebihan jika disebut sebagai The Dictionary Card of Occult, Kamus Okultisme berbentuk kartu.

Selain itu, kami juga akan memaparkan pada Anda tentang fakta betapa identiknya tradisi kuno Yahudi (Tradisi Mesir Kuno) dengan tradisi bangsa Jepang (Shintoisme), sebuah negeri di mana Yu-Gi-Oh! dilahirkan. Hal ini telah membuat sejumlah pakar sejarah, termasuk pakar sejarah Jepang sendiri, yang meyakini jika bangsa Jepang sesungguhnya berasal dari salah satu suku Bani Israel.

Simbol Dajjal Dalam Kartu Yu-Gi-Oh!

Sebelum menelisik lebih lanjut, agar kita mengetahui simbol-simbol apa saja yang ada di dalam kartu Yu-Gi-Oh!, maka di bawah ini akan Kami perlihatkan sebagian kecil dari ratusan kartu permainan ini yang sungguh-sungguh membawa pesan Dajjal.

Setiap pemain Yu-Gi-Oh! akan memburu Kartu Dewa (Divines Cards) yang jumlahnya bervariasi. Wikipedia menyebut jumlah nama dalam kartu dewa ada delapan yakni:

 

1. Sky God Dragon – Osiris (juga dikenal dengan nama Sliffer The Sky Dragon)

 

2.The God of Obelisk (disebut juga Obelisk The Tormentor)

 

3.The Winged Dragon of Ra

4.The Creator God of Light, Horakhty (Merupakan fusion dari Ra, Obelisk, dan Osiris)

 

5.The Devils Dread Roots (Yu-Gi-Oh!R)

 

 

6.The Devils Avatar (Yu-Gi-Oh!R)

 

7. The Devils Eraser (Yu-Gi-Oh!R)

 

8. Zorc Necrophades

Namun banyak pemain menyebut kartu dewa cuma ada tujuh yakni: Obelisk, Ra, Osiris, Devil Avatar, Devil Eraser, Devil Dread-Root, dan Horakhty.
Walau demikian, yang paling banyak dicari ada tiga buah Kartu Dewa, yakni: Winged Dragon of RA, The God of Obelisk, dan Sky God Dragon (Sliffer the Sky Dragon). Ketiganya adalah dewa tertinggi dalam Kabbalah, ilmu sihir Mesir Kuno. Dalam Yu-Gi-Oh!, ketiganya membentuk kekuatan Piramida (segitiga) di mana Winged Dragon of RA berada di puncaknya.
Dewa Ra merupakan Dewa Matahari bangsa Mesir Kuno. Dia merupakan dewa tertinggi bagi seluruh dewa-dewi yang ada. Dalam keyakinan Talmud yang bersumber dari sihir Kabbalah, Ra menempati posisi paling tinggi dan paling dihormati, bersama Osiris dan Horus.
Sedangkan Obelisk merupakan pilar utama dalam ritual sihir Kabbalah, wahana suci yang mampu menghantarkan manusia kepada dewa-dewanya. Sedangkan Sky Dragon of Sliffer secara jelas merujuk kepada Osiris, karena nama lain dari Dewa Osiris adalah Sliffer.
Dalam Yu-Gi-Oh!, terdapat satu kartu yang berisi sebuah simbol yang mungkin paling populer bagi kita semua, yakni simbol Pentagram atau Bintang David. Kartu ni termasuk dalam kelompok Spell Card, dengan nama Master Ritual, atau Ritual Tertinggi. Dalam ritual Kabbalah, simbol Pentagram ini memang merupakan syarat utama dan simbol paling suci. Bukan tanpa alasan jika Zionis Yahudi menggunakan simbol ini sebagai simbol gerakannya.

Exodia, Simbol Dajjal yang Terikat
Selain Kartu Dewa, ada lagi Kartu Exodia (Exodia-The Forbiden One) atau kartu yang menggambarkan dewa yang tengah dirantai. Kartu Exodia terdiri dari lima buah kartu yang masing-masing berisi kepala, tangan kiri, tangan kanan, kaki kiri, dan kaki kanan. Semuanya tengah dirantai. Jika seorang pemain memiliki kelima buah kartu Exodia, maka dia langsung dianggap menang.
Tahukah Anda jika Exodia yang juga disebut sebagai The Dark Master ini sesungguhnya menyimbolkan Dajjal, yang menurut hadits Rasulullah SAW memang sudah ada di suatu pulau terpencil dan tengah dirantai dengan ikatan yang paling kuat yang pernah ada di muka bumi dan baru terlepas di hari akhir?

Ini merupakan sebagian kecil dari contoh simbol-simbol Dajjal yang ada di seluruh kartu Yu-Gi-Oh!. Dengan mengkoleksi kartu ini, dan memainkannya, maka tanpa disadari anak-anak akan mempelajari karakteristik dari simbol-simbol Dajjal tersebut dan menjadi akrab. Bisa jadi, anak-anak Anda akan lebih serius mempelajari karater simbol-simbol Dajjal ini dan menghafal peraturan permainannya ketimbang menghafal surat Al-Qur’an, menghafal rumus-rumus matematika, dan sebagainya yang jelas jauh lebih berguna.

Konspiran Globalis memang sengaja meracuni otak anak-anak kita sejak dini sehingga mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih akrab dengan simbol-simbol Dajjal dan dengan segala ritualnya, ketimbang dengan Kitabullah.

Dalam tulisan kedua akan dipaparkan betapa identiknya ritual Shintoisme dengan ritual Yahudi kuno. Sehingga kita bisa mendapatkan jawaban mengapa simbol-simbol Dajjal atau simbol-simbol Yahudi ini bisa dilahirkan di negeri yang terletak relatif jauh dari Mesir, pusat dan asal dari Kabbalah, ilmu sihir kuno yang dijadikan kaum Yahudi sebagai pusat kekuatan gerakannya.

Mengapa permainan Yu-Gi-Oh! yang sarat dengan simbol-simbol ritual Mesir Kuno Kabbalah (dan kemudian diadopsi oleh Bani Israel sebagai ritual keagamaannya) bisa muncul dari tanah Jepang? Bukankah orang Jepang memiliki kepercayaannya sendiri yang diberi nama Shintoisme dan orang-orang Israel juga memiliki kepercayaannya sendiri yang dinamakan Agama Yahudi dengan kitab Talmudnya? Mengapa keduanya bisa bertemu dalam Yu-Gi-Oh! Game?

Pertanyaan ini menemukan sebuah jawaban menarik dari dua peneliti sejarah Jepang-Yahudi yakni Pendeta Arimasa Kubo dan Joseph Eidelberg. Kedua bangsa yang sepertinya beda, Jepang dan Yahudi, ternyata memiliki banyak kesamaan dalam tradisi kunonya, bahkan diyakini masih satu hubungan darah.

Yang pertama bernama Arimasa Kubo. Dia merupakan orang Jepang asli yang dilahirkan di kota Itami di Hyogo tahun 1955 dan lulus dari Tokyo Bible Seminary pada tahun 1982. Di usia ke -22 tahun Arimasa Kubo telah mendapat kepercayaan untuk memimpin majalah penginjilan Remnant dan melakukan pelayanan di Gereja Tokyo selama enam tahun. Saat ini, Pendeta Arimasa Kubo memimpin Remnant Publishing dan pengajar tetap di Bible and Japan Forum.

Arimasa Kubo melakukan penelitian mendalam atas tradisi asli bangsa Jepang dan Yahudi. Dia menemukan banyak kemiripan antara keduanya hingga meyakini jika leluhur bangsa Jepang sebenarnya masih berdarah Yahudi dari suku yang hilang. Hasil penelitiannya ini dituangkan dalam banyak artikel dan buku. Salah satunya buku berjudul “Israelites Came o Ancient Japan”.

Sedangkan yang kedua, Joseph Eidelberg yang merupakan peneliti berdarah Yahudi yang menulis buku “The Biblical Hebrew Origin of the Japanese People”.

Di bawah ini Kami paparkan sebagian kecil kemiripan antara tradisi kuno bangsa Jepang dengan tradisi kuno bangsa Yahudi atau Bani Israel yang berasal dari buku Pendeta Arimasa Kubo tersebut.

Ontohsai dan Kisah Ishaq

Salah satu kesamaan antara tradisi kuno bangsa Jepang dengan Yahudi terdapat dalam upacara tradisional. Ada sebuah festival atau upacara di Jepang yang mengilustrasikan kisah Ishaq. Di prefektur Nagano, Jepang, terdapat sebuah kuil besar Shinto bernama “Suwa-Taisha”. Shinto sendiri merupakan agama tradisional asli Jepang yang menyembah Amaterasu, Dewa Matahari, sama seperti bangsa Mesir kuno yang menyembah Dewa Ra, Dewa Matahari.

Setiap tanggal 15 April, di Suwa-Taisha diadakan festival tradisional bernama “Ontohsai”. Festival ini menggambarkan kisah Ishaq seperti yang terdapat dalam Bab 22 Kitab Kejadian (Genesis), yaitu kisah mengenai Ibrahim yang hendak mengorbankan putranya sendiri, Ishaq. Festival “Ontohsai” ini diselenggarakan sejak zaman dahulu kala dan dianggap sebagai festival terpenting di “Suwa-Taisha”.

Di sebelah kuil “Suwa-Taisha”, ada sebuah gunung bernama Gunung Moriya (dalam bahasa Jepang disebut “Moriya-san”). Penduduk di wilayah Suwa memanggil dewa Gunung Moriya dengan sebutan “Moriya no kami”, yang berarti “dewa Moriya”. Pada festival tersebut, seorang anak laki-laki diikatkan dengan tali pada sebuah pilar kayu, lalu ditempatkan di atas tikar bambu. Seorang pendeta Shinto menghampiri sang anak sambil menyiapkan sebilah pisau. Sebelum pisau itu diayunkan, tiba-tiba datang seorang pembawa pesan yang kemudian membebaskan anak lelaki itu dari ritual korban. Hal ini tentu saja mengingatkan kita pada kisah ketika Ishaq dibebaskan setelah malaikat datang pada Ibrahim.

Ritual serupa juga terdapat dalam tradisi umat Islam yang dikenal dengan Iedul Adha, hanya dalam Islam yang akan dikorbankan oleh nabi Ibrahim adalah Ismail bukan Ishaq seperti pemahaman umat kristiani. Hanya saja, di Jepang, pada festival ini yang dikorbankan adalah 75 ekor rusa, yang satu di antaranya diyakini cacat kupingnya. Rusa ini dipercaya telah dipersiapkan oleh tuhan. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan biri-biri jantan yang dipersiapkan tuhan dan kemudian dikorbankan setelah Ishaq bebas. Namun di zaman dahulu, penduduk berpikir bahwa kebiasaan pengorbanan rusa ini adalah hal yang aneh, sebab pengorbanan binatang bukanlah sebuah tradisi Shintoisme.

Penduduk menyebut festival ini sebagai “festival untuk dewa Misakuchi”. “Misakuchi” mungkin berasal dari “mi-isaku-chi”. “Mi” berarti “besar”, “isaku” mungkin saja “Ishaq” (dalam bahasa Hebrew adalah “Yitzhak”), dan “chi” adalah sesuatu (semacam partikel-pen) yang dipakai untuk akhir suatu kata. Tampaknya penduduk Suwa menjadikan Ishaq sebagai dewa, mungkin karena pengaruh dari para kaum pagan.

Kini upacara pengorbanan anak laki-laki dan pembebasannya tersebut tak lagi dipraktekkan, tapi kita di sana masih bisa melihat pilar kayu yang disebut “oniye-basira” yang berarti “pilar pengorbanan” (sacrifice-pillar). Kini penduduk menggunakan hewan tiruan sebagai pengganti bintang asli dalam melaksanakan pengorbanan. Bagi rakyat di zaman Meiji, lebih kurang satu abad silam, mengikat seorang anak laki-laki yang diikuti dengan pengorbanan binatang dianggap sebagai perbuatan biadab, dan kebiasaan tersebut dihentikan. Tapi festival itu sendiri hingga hari itu masih berlangsung.

Upacara pengorbanan anak laki-laki tersebut dipertahankan hingga permulaan zaman Meiji. Masumi Sugae, seorang terpelajar Jepang dan pencatat perjalanan yang hidup di zaman Edo, lebih kurang dua abad silam, menuliskan catatan perjalanannya dan mencatat apa yang ia lihat di Suwa.

Catatan ini memperlihatkan keterangan detail mengenai “Ontohsai”. Catatan ini mengatakan bahwa upacara pengorbanan anak laki-laki dan pembebasannya tersebut, serta pengorbanan binatang, masih berlangsung pada zaman Sugae. Catatan Sugae ini tersimpan di museum dekat Suwa-Taisha.

Festival ini dipertahankan oleh keluarga Moriya sejak zaman dahulu kala. Keluarga Moriya berpikir bahwa “Moriya-no-kami” (dewa Moriya) adalah dewa leluhur mereka. Dan mereka berpikir bahwa “Gunung Moriya” adalah tempat suci mereka. Nama “Moriya” mungkin berasal dari “Moriah” (dalam bahasa Hebrew adalah “Moriyyah”) yang juga terdapat dalam Injil kitab Kejadian 22: 2. Keluarga Moriya menyelenggarakan festival tersebut selama 78 generasi.

Fleur du Herod

Jika kita mendatangi Imperial House of Japan, di bagian atas akan kita jumpai simbol bunga matahari dengan 16 daun bunga. Simbol bunga ini sama persis dengan simbol bunga matahari yang ada di depan Kuil Herod, gerbang Yerusalem.  Kedua hiasan ini telah ada sejak zaman yang sangat lampau, baik yang ada di Jepang maupun yang ada di Herod

Simbol Bintang David sebagai simbol kuno bangsa Yahudi juga bertebaran di Ise-jingu, kuil Shinto untuk Imperial House of Japan. Ise-jingu di prefektur Mie, Jepang, merupakan sebuah kuil Shinto yang dibangun untuk Imperial House of Japan. Pada kedua sisi jalan menuju kuil tersebut terdapat lampu-lampu yang terbuat dari batu. Di setiap lampu terdapat ukiran bintang david, dekat bagian puncaknya. Hiasan  yang digunakan di bagian dala m kuil di Ise-jingu juga bintang david. Ini telah ada sejak zaman kuno. Di prefektur Kyoto, ada kuil “Manai-Jinja”, sebuah Kuil Ise-jingu asli. Bentuk bintang david juga berserak di kuil ini. Sinagog-sinagog bangsa Yahudi yang tersebar di Eropa sejak zaman dulu juga mengukir hiasannya dengan bentuk bintang david, sama seperti yang ada di Jepang.

Yamabusi dan Phylactery

Para pemimpin religi Jepang disebut “Yamabushi”. Dalam pakaian kebesarannya, mereka lazim  meletakkan sebuah kotak hitam pada dahi mereka. Ini sama dengan kaum Yahudi yang meletakkan Phylactery (kotak kecil berbahan kulit yang memuat teks-teks Ibrani) juga di dahi. Yamabushi adalah pemimpin keagamaan yang sedang dalam masa latihan dan hanya ada di Jepang. Mereka kini dianggap sebagai bagian dari Budhisme Jepang, namun anehnya Budhisme di Cina, Korea, atau India, tidak memiliki kebiasaan ini. Kebiasaan “Yamabushi” telah ada di Jepang sebelum Budhisme masuk ke Jepang pada abad ke-7.

Pakaian yang dikenakan “Yamabushi” pada dasarnya berwarna putih. Di dahinya, mereka meletakkan sebuah boks kecil berwarna hitam yang disebut “tokin”, yang diikatkan ke kepalanya dengan tali hitam. Mereka benar-benar menyerupai Yahudi yang meletakkan phylactery (kotak hitam) di dahi dengan menggunakan tali hitam. Ukuran “tokin” ini hampir sama dengan ukuran phylactery milik kaum Yahudi. Tapi “tokin” berbentuk bundar dan terlihat seperti bunga. Hanya ada dua bangsa di dunia ini yang meletakkan sebuah kotak di dahi, yakni Israel dan Jepang.

Shofar, terompet Yahudi

Selain mengenakan kotak di dahi, Yamabusi juga biasa menggunakan kerang laut berukuran besar berbentuk mirip dengan tanduk yang digunakan dengan cara ditiup untuk ritual-ritual keagamaan. Hal ini sangat mirip dengan kaum Yahudi yang meniup shofar, tanduk biri-biri jantan. Suara yang dihasilkan Yamabusi serupa dengan suara shofar. Bisa jadi, karena di Jepang tidak ada biri-biri, maka mereka menggunakan kerang berukuran besar.

Keyakinan lain dari Yamabusi adalah menganggap gunung sebagai tempat suci mereka. Ini sama dengan kepercayaan bangsa Yahudi yang menganggap gunung juga tempat suci mereka. Sepuluh Perintah Tuhan (Taurat) diturunkan di Gunung Sinai dan Yerusalem juga adalah kota yang berada di atas gunung.

Torah dan Tora-No-Maki

Di Jepang ada legenda mengenai “tengu”. Dia tinggal di gunung dan memiliki bentuk tubuh yang sama dengan “Yamabushi”. Ia memiliki kemampuan supernatural. Ninja atau mata-mata di zaman kuno yang bekerja untuk tuannya, sering mendatangi “tengu” di gunung untuk mendapatkan kemampuan supernatural darinya. Setelah memberikan kekuatan, “Tengu” memberi “Ninja” sebuah “tora-no-maki” (gulungan “tora”). “Gulungan tora” ini dianggap sebagai “kitab suci” yang berguna dalam setiap masalah. Sampai sekarang orang Jepang masih menggunakan kitab ini dalam keseharian. Tota-No-Maki amat mirip dengan nama “Torah” atau Taurat.

Omikoshi dan Tabut Perjanjian

Omikoshi di Jepang juga mirip dengan Ark of the Covenant (Tabut Perjanjian). Dalam Bibel, tertulis bahwa Daud atau David membawa tabut perjanjian dari Tuhan ke Yerusalem. “David dan para sesepuh Israel serta para komandan unit yang berjumlah ribuan pergi membawa tabut perjanjian TUHAN dari rumah Obed-Edom, dengan penuh kegembiraan. …Lalu David yang berpakaian jubah yang terbuat dari linen halus—begitu pula para Levites yang sedang membawa tabut, serta para penyanyi, dan Keniah, yang bertugas menyanyikan paduan suara. David juga mengenakan ephod dari linen. Jadi semua Israel membawa tabut perjanjian TUHAN sambil bersorak-sorai, dengan membunyikan tanduk biri-biri jantan dan terompet, dan simbal, serta memainkan lyre (instrumen bersenar yang berbentuk U, digunakan di zaman kuno-pen) dan harpa.” (15: 25-28)

Coba bandingkan dengan Omikoshi di Jepang. Ketika orang-orang Jepang mengangkut ‘Omikoshi’ yang bentuknya juga mirip dengan Tabut Perjanjian di saat festival, orang-orang Jepang juga bernyanyi dan menari di depannya, juga sambil bersorak-sorai, dengan memainkan alat-alat musik tradisional musik. Bukankah semua ini juga mirip dengan tradisi bangsa Yahudi?

Orang-orang Jepang mengangkut Omikoshi di atas pundak mereka dengan tiang – biasanya dua tiang. Begitu pula halnya dengan bangsa Yahudi, “Para Levites mengangkut tabut Tuhan dengan tiang di pundak mereka, seperti yang diperintahkan Musa berdasarkan firman TUHAN.” (Kejadian 1 15:15).

Tabut perjanjian Israel memiliki dua tiang (Eksodus 25: 10-15). Bibel juga mengatakan bahwa tiang-tiang tersebut diikatkan pada tabut oleh empat cincin “pada keempat kakinya” (Eksodus 25:12). Jadi tiang-tiang tersebut dilekatkan pada dasar tabut. Ini sama dengan Omikoshi.

Tabut Israel memiliki dua patung cherubim (malaikat urutan kedua pada hirarki surga) berbahan emas pada bagian puncaknya. Cherubim, mahluk surga atau malaikat bersayap seperti burung. Dan Omikoshi juga memiliki burung emas, yang disebut “Ho-oh”, pada bagian puncaknya, yang merupakan burung khayalan dan makhluk surga yang misterius. Tabut bangsa Yahudi seluruhnya dilapisi emas, sama dengan Omikoshi. Ukuranya juga sama, demikian pula tarian yang mengiringinya.

Dalam festival “Gion-jinja” di kuil Shinto di Kyoto, orang-orang mengangkut Omikoshi lalu masuk ke dalam air dan menyeberangi sungai. Bukankah ini mirip dengan tradis Yahudi yang mengangkut tabut ketika menyeberangi sungai Jordan setelah melakukan eksodus dari Mesir? Di sebuah pulau di Laut Inland, Seto, Jepang, orang-orang terpilih sebagai pengangkut Omikoshi tinggal bersama di sebuah rumah selama satu minggu sebelum mereka bekerja. Ini untuk mencegah pencemaran pada diri mereka. Selanjutnya, pada hari sebelum mengangkut Omikoshi, mereka mandi dalam air laut untuk menyucikan diri. Ini sama dengan kebiasaan Yahudi, “Demikianlah para pendeta dan Levites menyucikan diri mereka untuk membawa tabut Tuhan Israel.” (Kejadian 1 15:14)

Bibel mengatakan bahwa setelah tabut memasuki Yerusalem dan barisan berhenti; “David membagikan sepotong roti, sepotong daging, dan sepotong kue kismis, kepada setiap orang Israel, baik laki-laki maupun perempuan” (Kejadian 1 16:3). Ini sama dengan kebiasaan di Jepang. Di Jepang, setelah festival selesai, gula-gula dibagikan kepada setiap orang.

Garam

Orang Jepang memiliki kebiasaan menggunakan garam untuk ritual penyucian. Penduduk terkadang menaburkan garam setelah orang jahat beranjak pergi. Tradisi ini serupa dengan Israel kuno. Alkisah, setelah Abimelech merebut kota musuh, “ia menaburinya dengan garam” (Para Hakim 9:45). Orang Jepang dapat cepat memahami bahwa ini sama artinya dengan membersihkan dan menyucikan kota.

Ketika orang Yahudi menempati rumah baru, mereka menaburinya dengan garam untuk menyucikan dan membersihkannya. Ini sama dengan orang Jepang. Di restoran khas Jepang, garam biasanya diletakkan di dekat pintu masuk. Orang Jepang juga meletakkan garam di pintu masuk pemakaman. Setelah kembali dari pemakaman, seseorang harus menaburkan garam kepada seseorang yang lain sebelum ia (orang yang ditaburi garam) memasuki rumahnya, karena dalam agama Shinto terdapat anggapan bahwa semua orang yang pergi ke pemakaman atau menyentuh mayat menjadi tidak bersih. Demikian pula dengan bangsa Yahudi.

Sumo atau pegulat tradisional Jepang biasa menaburi ringnya dengan garam sebelum mereka bertarung. Sumo dalam kepercayaan Jeang merupakan satu persembahan. Ini serupa dengan kebiasaan yang dilakukan bangsa Yahudi sebagaimana Bibel mengatakan, “Saat kau melakukan persembahan, kau harus mempersembahkan garam” (Leviticus 2:13). Tradisi kuo Jepang biasa memasukkan garam ke air saat mandi pertama bayi. Demikian pula dengan orang Yahudi yang lazim membasuh bayi yang baru lahir dengan air setelah menggosok sang bayi dengan garam secara lembut (Ezekiel 16:4). Penyucian dan pembersihan dengan menggunakan garam merupakan kebiasaan umum yang terdapat dalam tradisi Jepang dan Yahudi.

Jubah pendeta Jepang Sama Dengan Jubah Pendeta Yahudi

Bibel mengatakan bahwa ketika David membawa tabut ke Yerusalem; “David berpakaian jubah yang terbuat dari linen halus” (Kejadian 1 15:27). Begitu pula dengan para pendeta dan paduan suara. Dalam Bibel berbahasa Jepang, ayat ini diterjemahkan menjadi “jubah dari linen putih”.

Pada masyarakat Israel kuno, meski pendeta tinggi mengenakan jubah berwarna, para pendetanya atau Rabi umumnya mengenakan linen putih. Para pendeta mengenakan pakaian berwarna putih pada acara-acara suci. Begitu pula dengan para pendeta Jepang, mengenakan jubah putih di setiap acara suci.

Di Ise-jingu, salah satu kuil tertua di Jepang, semua pendeta mengenakan jubah putih. Dan di banyak kuil Shinto lainnya di Jepang, orang-orang mengenakan jubah putih saat mengangkut “Omikoshi”, persis seperti yang dilakukan Yahudi. Para pendeta Budha mengenakan jubah berwarna yang mewah. Tapi dalam agama Shinto Jepang, putih dianggap sebagai warna paling suci.

Salah satu contoh dilakukan Kaisar Jepang. Setelah ia menyelesaikan upacara kenaikan tahta, dia harus datang sendirian ke hadapan dewa Shinto. Saat pergi ke sana, ia mengenakan jubah berwarna putih polos di seluruh tubuhnya. Sementara kakinya tidak mengenakan apa-apa. Hal ini sama dengan ketika Musa dan Joshua melepas alas kaki mereka di hadapan Tuhan (Eksodus 3:5, Joshua 5:15).

Marvin Tokayer, seorang rabi yang tinggal di Jepang selama 10 tahun, menulis dalam bukunya: “Jubah linen yang dikenakan oleh pendeta Shinto Jepang memiliki bentuk yang sama dengan jubah linen putih pada para pendeta Israel kuno.”

Selain itu, jubah para pendeta Shinto Jepang memiliki tali sepanjang 20-30 cm (sekitar 10 inchi) yang menggantung dari sudut jubah. Keberadaan bagian yang menjuntai ini (fringe/jumbai) merupakan kebiasaan orang-orang Israel. Deuteronomy 22:12 mengatakan: “Buatlah menggantung di sudut pakaian mereka sepanjang generasi.”

Jumbai ini merupakan sebuah tanda bahwa seseorang adalah kaum Yahudi. Dalam ajaran Perjanjian Baru, juga tertulis bahwa para Farisi (anggota sekte Yahudi kuno) “memanjangkan jumbai pada pakaian mereka” (Matius 23:5). Seorang wanita yang sedang mengalami pendarahan datang pada Yesus (Yeshua) dan menyentuh “jumbai pada mantel-Nya” (Matius 9:20). Pakaian Yahudi kuno kadang kala tidak memiliki jumbai. Namun jubah mereka benar-benar memiliki jumbai. Menurut tradisi, Tallit Yahudi (syal untuk beribadah), yang dipakai oleh Yahudi ketika berdoa, memiliki jumbai pada sudut-sudutnya.

Pendeta Shinto Jepang memasangkan kain berbentuk persegi pada jubah mereka, dari bahu hingga paha. Ini sama dengan ephod yang dipakai oleh David: “David juga mengenakan ephod dari linen.” (Kejadian 1 15:27)

Meskipun ephod yang dikenakan pendeta tinggi dipenuhi warna dengan adanya permata, pendeta biasa, yang tingkatnya berada di bawahnya, mengenakan ephod dari kain linen putih yang sederhana (Samuel 1 22:18). Rabbi Tokayer mengatakan bahwa kain persegi yang menempel pada jubah pendeta Shinto Jepang terlihat sangat mirip dengan ephod Kohen, pendeta Yahudi.

Pendeta Shinto Jepang meletakkan topi di kepalanya, persis seperti yang dilakukan pendeta Yahudi (Eksodus 29:40). Pendeta Jepang juga memasang ikat/selempang di pinggangnya. Begitu pula halnya dengan pendeta Israel. Pakaian para pendeta Shinto Jepang pasti merupakan pakaian yang digunakan oleh Israel kuno.

Melambaikan hasil panen juga merupakan kebiasaan di Jepang

Orang-orang Yahudi melambaikan hasil panen mereka, berupa tumpukan padi, 7 minggu sebelum Shavuot (Pentecost, Leviticus 23:10-11). Mereka juga melakukannya pada saat Feast of Booths (Sukkot, Leviticus 23:40). Ini telah menjadi tradisi sejak masa Musa. Pendeta Israel kuno juga melambaikan sebuah ranting tanaman ketika melakukan penyucian terhadap seseorang. David mengatakan, “Bersihkan diriku dengan hyssop (herbal aromatik berupa semak kecil, dulu sering dipakai untuk pengobatan-pen), dan aku akan menjadi bersih” [Mazmur 51:7(9)]. Ini juga merupakan adat-istiadat tradisional Jepang.

Ketika pendeta Jepang melakukan penyucian terhadap seseorang atau sesuatu, ia melambaikan sebuah ranting tanaman. Atau melambaikan “harainusa”, yang sangat serupa dengan ranting tanaman. “Harainusa” di masa sekarang lebih sederhana dan terbuat dari kertas putih yang dilipat membentuk zig-zag seperti petir kecil, namun di zaman dahulu “harainusa” adalah sebuah ranting tanaman atau rumput.

Struktur kuil Shinto Jepang sama dengan tempat ibadat (God’s Tabernacle) Yahudi

Bagian dalam tempat ibadat Israel kuno terbagi menjadi 2 bagian. Yang pertama adalah Holy Place, dan yang kedua adalah Holy of Holies. Begitu pun halnya dengan kuil Shinto Jepang, terbagi menjadi 2 bagian.

Fungsi-fungsi yang terdapat pada kuil Jepang serupa dengan tempat ibadat Israel. Orang-orang Jepang beribadat di depan Holy Place yang ada di kuil. Mereka tidak dapat memasuki Holy Place. Hanya pendeta Shinto yang boleh masuk. Pendeta Shinto memasuki Holy of Holies hanya pada saat-saat tertentu. Ini sama halnya dengan tempat ibadat Israel.

Holy of Holies di kuil Shinto Jepang terletak di sebelah barat, persis seperti Holy of Holies pada tempat ibadat Israel. Holy of Holies Shinto juga berada satu tingkat lebih tinggi daripada Holy Place, di antara Holy of Holies dan Holy Place terdapat anak tangga. Para ilmuwan mengatakan bahwa, dalam kuil Israel yang dibangun oleh Solomon, Holy of Holies juga berada pada tingkat yang lebih tinggi, dan di antara Holy of Holies dan Holy Place terdapat anak tangga selebar 2,7 meter (9 kaki).

Di bagian depan kuil Jepang terdapat 2 patung singa, disebut “komainu”, yang berdiri di kedua sisi jalan. Kedua patung tersebut bukanlah berhala, tapi penjaga kuil. Hal ini pun merupakan salah satu kebiasaan Israel kuno. Di kuil Tuhan Israel dan istana Solomon, terdapat patung-patung atau relief-relief singa (Raja-raja 1 7:36, 10:19).

Dalam sejarah awal Jepang, tak pernah ada penggunaan singa. Tapi patung singa tersebut telah diletakkan di kuil-kuil Jepang sejak zaman kuno. Hal ini dibuktikan oleh para ilmuwan bahwa patung singa yang ada di bagian depan kuil-kuil Jepang berasal dari Timur Tengah.

Dekat pintu masuk kuil Jepang, terdapat “temizuya”, yaitu tempat bagi para penyembah untuk mencuci tangan dan mulut. Ini sama dengan yang ditemukan pada sinagog Yahudi. Tempat ibadat dan kuil Israel kuno juga memiliki laver, untuk mencuci dan bersuci, dekat pintu masuk.

Di bagian depan kuil Jepang, terdapat gerbang, yang disebut “torii”. Gerbang dengan model seperti ini tidak ada di China atau Korea, ini khas Jepang. Gerbang “torii” terdiri dari 2 pilar vertikal dan sebuah palang yang menghubungkan bagian atas pilar. Tapi bentuk yang paling kuno hanya terdiri dari 2 pilar dan sebuah tali yang menghubungkan pilar. Ketika seorang pendeta Shinto menunduk pada gerbang, ia menunduk kepada 2 pilar tersebut secara terpisah. Maka diasumsikan bahwa gerbang “torii” tersebut pada awalnya hanya terdiri dari dua pilar.

Pada kuil Israel, terdapat 2 pilar yang digunakan sebagai gerbang (Raja-raja 1 7:21). Dan dalam bahasa Aramaik, yang digunakan oleh Israel kuno, kata gerbang adalah “taraa”. Kata ini mungkin berubah sedikit dan menjadi kata Jepang, “torii”. Beberapa “torii”, terutama pada kuil tua, bercat merah. Saya menduga bahwa ini merupakan gambaran mengenai 2 pos pintu, termasuk kayu horizontalnya, yang terkena darah anak biri-biri pada malam sebelum eksodus Israel dari Mesir.

Dalam agama Shinto Jepang, ada sebuah kebiasaan melingkupi/mengelilingi tempat suci dengan sebuah tali yang disebut “shimenawa”, yang mana tali ini memiliki sarung (terbuat dari kertas putih) yang dimasukkan sepanjang tali. Tali “shimenawa” ini dipasang sebagai pembatas. Bibel mengatakan bahwa saat Musa memberikan en Commandment dari Tuhan, di Gunung Sinai, ia “memasang pembatas” (Eksodus 19:12) di sekeliling gunung supaya kaum Israel tidak mendekatinya. Meski saya tidak tahu apa yang digunakan sebagai “pembatas” tersebut, pasti ada tali atau yang lain yang dipasang sebagai pembatas. Jika demikian, maka tali “shimenawa” Jepang mungkin merupakan satu kebiasaan yang berasal dari zaman Musa.

Satu-satunya perbedaan besar antara kuil Jepang dan kuil Israel kuno adalah bahwa kuil Jepang (Shinto) tidak memiliki altar pembakaran untuk pengorbanan hewan. Sebelumnya saya penasaran mengapa agama Shinto tak memiliki kebiasaan mengorbankan hewan, jika benar bahwa Shinto berasal dari agama Israel kuno. Tapi kemudian saya menemukan jawabannya dalam Deuteronomy chapter 12. Musa memerintahkan kaumnya untuk tidak melakukan pengorbanan hewan di tempat lain selain tempat khusus di Kanaan (12:10-14). Jadi, jika Israel datang ke Jepang kuno, mereka tidak diperbolehkan melakukan pengobanan hewan.

Banyak kebiasaan Jepang yang menyerupai kebiasaan orang Yahudi

Saat orang-orang Jepang beribadat di depan Holy Place di kuil Shinto, mereka pertama-tama membunyikan bel emas yang tergantung di pusat pintu masuk. Ini adalah kebiasaan Israel kuno. Pendeta tinggi, Aaron, meletakkan “bel emas” di keliman (batas pakaian dimana pinggirnya dilipat dan dijahit) jubahnya. Sehingga dengan demikian suara bel dapat terdengar dan sang pendeta takkan mati ketika melakukan pelayanan di sana (Eksodus 28:33-35).

Orang-orang Jepang bertepuk tangan 2 kali ketika beribadat di depan Holy Place. Ini, di masa Israel kuno, merupakan kebiasaan yang memiliki arti bahwa “I keep promises” (saya berjanji). Dalam Injil, Anda dapat menemukan kata yang diterjemahkan sebagai “pledge” (janji). Pengertian aslinya dalam bahasa Hebrew adalah “clap his hand” (menepukkan kedua tangannya/bertepuk tangan) (Ezekiel 17:18, Amsal Sulaiman 6:1). Tampaknya orang-orang Israel kuno selalu melakukan tepuk tangan ketika berjanji atau ketika melakukan sesuatu yang penting.

Berbagai tradisi Jepang kuno banyak memiliki kesamaan dengan tradisi dan kepercayaan bangsa Yahudi. Hal ini membuat banyak ahli sejarah meyakini jika nenek moyang bangsa Jepang merupakan salah satu suku Yahudi kuno yang mengembara dari Timur Tengah ke wilayah yang sekarang disebut sebagai Jepang. Sebab itulah, dalam alam bawah sadar masyarakat Jepang terdapat banyak sekali keyakinan Yahudi kuno yang menyembah dewa-dewi yang berasal dari Mesir Kuno. Salah satunya tergambarkan dalam permainan kartu bernama Yu-Gi-Oh!.

Bangsa Jepang adalah suku yahudi yang hilang???

9.11 Adalah Angka Satanisme?

Selasa pagi, 11 September 2001, dua menara kembar World Trade Center ditabrak dua pesawat jet komersial dan secara ajaib runtuh secara vertikal ke bawah. Pemerintahan Bush menjadikan peristiwa ini sebagai “gong” untuk memulai perang melawan semua musuh-musuh AS yang disebutnya teroris.

Telah banyak artikel yang membuka tabir kejadian ini dan menegaskan bahwa peristiwa WTC 9.11 merupakan rekayasa pihak Bush sendiri, agar ada pembenaran menginvasi Dunia Arab dan Islam yang kaya sumber daya alam, minyak dan gas bumi. Selain itu, invasi ini juga akan menguntungkan industri militer AS yang dimiliki oleh para petingggi Gedung Putih.

Dipandang dari perspektif simbologi, peristiwa 9.11 merupakan pintu gerbang bagi AS untuk melangkah ke millennium baru yang sesungguhnya. Bukankah dua menara kembar WTC yang menjulang tinggi di antara gedung-gedung lainnya di New Yok jika dilihat mirip dengan sebuah pintu gerbang? Inilah “The New Crusade in Millenium era”, seperti yang pernah diucapkan Bush.

Simbologi Angka 9.11

Segala hal dalam keyakinan mistis Kabbalah senantiasa dikaitkan dengan simbologi. Numerologi atau ilmu tentang angka yang merupakan salah satu kegemaran mereka. Sebab itu salah satu ilmu yang dikembangkan kaum Yahudi adalah ilmu Geometri dan mereka disebut sebagai Geometrian.

Kegemaran kepada simbol angka-angka berasal dari keyakinan mereka bahwa kosmos ini seluruhnya bergerak secara matematis. Misalnya, satu hari itu 24 jam, satu pekan 7 hari, satu bulan 30 hari, dan satu tahun 365 hari. Semuanya menunjukkan angka. Dan angka 13 serta 666 menunjukkan angka setan.

Angka 9.11 sendiri yang menunjuk pada tanggal kejadian WTC yakni 9 September juga sarat dengan simbologi setan.

Mengenai angka 11, para Kabalis menganggap angka tersebut merupakan salah satu simbol setan, selain 666. Anton LaVey, pendiri Gereja Setan dunia, memilih angka 11 ketika dirinya menyusun 11 Pasal Setan di Bumi (The Eleven Satanic Rules of the Earth) dan memilih angka 9 untuk menyusun The Nine Satanic Statements. LaVey telah lama memilih angka 11 dan 9 sebagai angka setan.

Dalam ilmu perbintangan (Astrologi), sebagai basis dari Numerologi, angka 11 biasanya menunjukkan Pemimpin. Angka 11 juga merepresentasikan Dosa, Pelanggaran, dan Resiko. Jika angka 10 melukiskan kesempurnaan, maka angka 11 menyimbolkan sesuatu yang lebih. Jika dipisah (1 + 1 = 2) maka akan ditemukan sebuah dualitas yang saling berhadapan dan setara: Lucifer dan Tuhan. Kegelapan dan Cahaya.

Angka 11 adalah angka penuh kesucian. Jika angka 11 dikalikan dengan angka sempurna, 3, maka akan didapat angka 33, sebuah angka yang amat penting bagi dunia Okultisme. Tahun 1933 merupakan tahun lahirnya Manifesto Humanis, sebuah gerakan dari para Kabbalis. Simbol-simbol dalam Astrologi (Zodiak) juga berjumlah 11.

Menara kembar WTC sendiri jika diperhatikan bangunannya mirip dengan angka 11. Menara WTC sendiri bertempat di New York, sebuah kota yang berada di negara bagian ke-11 yang bergabung dengan Amerika Serikat. WTC memiliki 110 lantai, jika angka ‘0’ dibuang maka kita mendapatkan 11.

WTC merupakan pusat dari Trade Center dan dijuluki Skycrappers, masing-masing jumlah hurufnya 11. Jika nama menara itu ditulis secara lengkap maka akan menjadi World Trade Center yang berjumlah 22 huruf, yaitu 11 X 2 = 22.

Lalu tanggal terjadi peristiwa tersebut adalah tanggal 11 bulan 9, yang bisa disusun menjadi: 1 + 1 + 9 = 11. 11 September sendiri mempunyai 2 angka dan 9 huruf, 2 + 9 = 11. Dan uniknya lagi, Menara WTC ambruk pada jam 10.28 am, 1 (0) + 2 + 8 = 11.

Selain itu, peristiwa WTC terbukti menguntungkan pemerintah Amerika Serikat dan juga Zionis-Israel. Pemimpin-pemimpinnya adalah George W. Bush dan Ariel Sharon, masing-masing jumlah huruf namanya: 11. Dan yang menjadi korban pertamanya: Afghanistan, 11 huruf. Apakah ini suatu kebetulan?(Rz)