Archive for April, 2011


INJIL DIDACHE

PENGANTAR PENERBIT

 

NABI Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penyempurna akhlak (etika), rahmat bagi alam semesta serta penutup para Nabi dan Rasul. Hal ini tentu mempunyai indikasi yang kuat; baik tentang kabar gembira mengenai kedatangannya yang telah disampaikan oleh Nabi-nabi terdahulu, maupun bukti-bukti kebenarannya. Bumi berputar, waktu bergulir dan zaman telah berubah, namun bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah surut, bahkan semakin kuat.

Ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa dan Nabi Isa Alaihissalam selalu menekankan tentang akan datangnya Nabi yang diimpi­impikan untuk membebaskan dunia dan bangsa-bangsa dari penindasan dan kezhaliman. Di dalam lima Kitab Taurat yang menyebutkan tentang nubuat-nubuat, semuanya menunjuk kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Jadi, Nabi yang dinanti-nanti itu bukan Nabi Isa Alaihissalam, melainkan beliau adalah Nabi yang agung yang diutus oleh Tuhan pada waktunya untuk menyampaikan kabar gembira tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia dan Yahya-yang terkenal di kalangan Kristen dengan nama Yohanes Pembaptis – Alaihissallam, bukan Al-Masih Pemimpin. Keduanya adalah AI-Masih biasa.

Berangkat dari sinilah DR. Ahmad Hijazi As-Saqa terpanggil untuk mengangkat dan membahas tentang Injil Didache. fa menjelaskan keshahihan Injil Didache seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Barnabas. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus INJIL DIDACHE? Apa urgensinya membahas Injil ini dan di mana letak relevansinya dengan bukti kebenaran Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam?

Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah Al-Muqtathaf” ini, memuat tentang “Dua Puluh Butir Kabar Gembira” tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Baik penulis INJIL DIDACHE maupun pengkaji Injil tersebut mempunyai keyakinan seperti itu bukannya tanpa bukti, karena mereka mempunyai beberapa data yang valid tentang kabar gembira itu. Mulai dari pembahasan kabar gembira pertama tentang kerajaan surga sampai kabar gembira kedua puluh tentang permohonan kepada Tuhan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya, semuanya menguatkan eksistensi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Selain itu penuLis juga memaparkan bukti-bukti kongkrit tentang validitas kabar gembira itu, di antaranya:

Pertama, semua kitab samawi (baik Taurat maupun Injil) menyebutkan bahwa Al-Masih Pemimpin adalah sosok yang mampu meruntuhkan Kekaisaran Romawi. Sedangkan tidak ada di antara Nabi Musa dan Isa Alaihissalam yang mengalahkan Kekaisaran Romawi, melainkan keruntuhannya pada zaman Nabi Muhammad.

Kedua, Injil Didache tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. la justru menyebutkan bahwa penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci).

Ketiga, Sebutan orang Kristen (AI-Masihi) baru diberikan kepada murid-murid Yesus (An-Nashara) setelah AI-Kitab diubah pada Konsili Niqiyyah tahun 325 M. Sebab, berdasarkan bahasa mereka, Al-Masih adalah julukan bagi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta di dalam Injil Matius: 23 dan seterusnya, Isa Alaihissalam juga mengabarkannya dengan julukan AI-Masih. Pada waktu itu, para pengikut Yesus disebut orang-orang Nasrani (Nashraniyyun), bukan orang-orang Kristen (Masihiyyun). Setelah AI-Kitab diubah, barulah mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Kristen. Dengan demikian, tidak disebutkannya kata `orang Kristen’ di dalam DIDACHE menunjukkan bahwa ia ditulis sebelum terjadi pengubahan terhadap AI-Kitab.

Keempat, orang-orang Yahudi memberikan sebutan `Mesias’ atau `AI­Masih Pemimpin’ kepada Nabi yang ditunggu-tunggu yang akan datang seperti Musa. Mereka mengatakan bahwa julukan “Anak Tuhan” dan julukan `Tuhan’ di dalam Mazmur adalah julukan-julukan Nabi itu. Julukan “Anak Manusia” di dalam Kitab Daniel pun merupakan julukannya. Ingatah akan hal ini, dan ingatlah bahwa murid-murid Yesus sepakat akan hal ini. Kemudian, ingatlah bahwa Isa Alaihissalam di dalam Injil-injil Kanonik menolak julukan AI-Masih Pemimpin bagi dirinya, bahkan ia menafikan kedatangan AI-Masih Pemimpin dari kalangan orang-orang Yahudi. Dia menjelaskan bahwa Al-Masih Pemimpin itu akan datang dari Bani Ismail.

Masih banyakbukti-bukti dan fenomena yang menunjukkan bahwa Nabi terakhir yang ditunggu-tunggu dan pemimpin para rasul adalah Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang dieksplorasi dalam buku ini.

Pembaca budiman, buku ini sangat bermanfaat bagi kita umat manusia untuk melacak otentisitas ajaran dan kebenaran tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Semoga kehadiran buku ini semakin menambah khasanah intelektual kita. Amin.

Pustaka Al-Kautsar

 

 

KATA PENGANTAR
Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Ahmad

Penulis Buku “Afalaa Yatadabbaruuna Al-Quran”

dan Mantan Dekan FakuItas Farmasi Universitas Kairo



SEGALA puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman,

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan di dalam diri mereka sendiri.”

(Fushahilat: 53)

Allah juga berfirman,

“Katakanlah, Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah yang mengetahui rahasia di langit & di bumi.”

(Al-Furqan: 6)

Shalawat dan salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan orang-orang yang mengambil petunjuk dari ajarannya sampai Hari Kebangkitan.

Risalah AI-Masih Alaihissalam adalah kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang disebarkannya kepada orang-orang Yahudi. Dia memilih Rasul-rasul di antara para pengikutnya untuk menyampaikan kabar itu ke pefbagai kota di Kerajaan Romawi dan sekitarnya.1] Pada saat itu, masyarakat­masyarakatYahudi di kota-kota Kerajaan Romawi dan sekitarnya memiliki rumah-rumah ibadah khusus. Di sanalah para orang-orang tua2] Yahudi mengajarkan Perjanjian Lama — yang mereka anggap Taurat — dan melaksanakan ritual-ritual doa mereka. Di kota-kota itu juga ada para penyembah berhala.3] Karena itulah, AI-Masih melarang keras para utusannya memakan daging binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Tuhan.

Ketika memasuki suatu desa, para utusan itu segera menanyakan rumah-rumah ibadah orang-orang Yahudi, mencari ahli-ahli agamanya untuk berdiskusi tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, dan mendebat dengan sengit orang-orang yang menentang mereka. Penguasa dan penduduk setempat pun mengetahui perdebatan dan pertentangan di antara mereka itu, lalu meminta mereka semua datang untuk menjelaskan duduk perkaranya. Perdebatan itu dapat berlangsung selama berhari-hari, sampai semua orang mengetahui dakwah mereka. Jika para orang tua Yahudi setempat menerima dakwah mereka, maka mereka mendirikan perkumpulan gereja (majma’: synod) di sana. Sedangkan jika para orang tua itu menolak, mereka keluar dari kota tersebut dengan keyakinan telah menyampaikan risalah AI-Masih seperti yang mereka ketahui.

Saya bertanya, apakah kitab-kitab Injil yang dipegang orang-orang Kristen ditulis pada masa hidupnya Al-Masih? Menurut mereka, Injil-injil itu ditulis setelah perang antara Titus dari Romawi dengan bangsa Yahudi pada tahun 70 Masehi. INJIL DIDACHE, yaitu ajaran AI-Masih Isa Alaihissalam kepada bangsa-bangsa4] tentang dakwahnya melalui para utusan, juga ditulis pada periode itu. Seperti yang mereka katakan, dan saya sepakat dengan mereka, Injil Matius yang asli telah hilang. Tetapi, INJIL DIDACHE yang asli tidak hilang, sehingga dari perspektif ini, ia dapat dianggap sebagai naskah yang sangat penting dan belum mengalami perubahan.

Ahli-ahli agama Kristen di pelbagai negara telah mengkaji INJIL DIDACHE, namun belum ada seorang pun penulis muslim yang mengkajinya. Apabila kami membandingkan seorang penganut Kristen yang telah menulis kajian terhadap Injil ini dengan DR. Asy-Syaikh Ahmad Hijazi As­Saqa, catatan pertama yang dapat kami berikan adalah: kedua-duanya meyakini bahwa naskah ini membuktikan kebenaran pendapat mereka masing-masing, dan untuk itu keduanya telah memperlihatkan pengetahuan yang sangat luas. Di manakah posisi kaum muslimin saat Injil Bamabas dulu ditemukan? Zaman jelas telah berubah, dan zaman pun akan memperlihatkan bukti-bukti yang sangat menakjubkan tentang kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

INJIL DIDACHE tidak menyatakan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah tuhan, selain Allah. Ia juga tidak menyatakan bahwa Isa Alaihissalam adalah Nabi yang akan diutus di akhir zaman. Doktrin inti ajaran Kristen, yaitu penebusan dosa manusia dengan darah AI-Masih, juga tidak disebutkan di dalam Injil ini. Ia justru menyebutkan kebalikannya, yaitu penganut Kristen yang tidak mengimani Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam akan dikutuk, sedangkan penganut Kristen yang mengimaninya akan menjadi orang kudus (suci).

INJIL DIDACHE tidak terhindar dari pemotongan. Di dalam bagian yang berisi nubuat tentang akhir masa berlakunya syariat Yahudi, AI-Masih Alaihissalam menyebutkan nubuat-nubuat dari Perjanjian Lama tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun, naskah tersebut telah dipotong. Orang yang cerdas tentu paham, pemotongan keterangan tentang nubuat-nubuat itu demi tujuan-tujuan keagamaan tertentu.

Injil ini membuktikan bahwa Injil Al-Masih yang dikutip oleh para penulis Injil telah hilang. la merujuk Injil AI-Masih dengan frase “Berdasarkan Injil.” Tapi, orang-orang Kristen menafsirkan frase tersebut – yang membuktikan AI-Kitab yang mereka yakini sebagai referensi agama itu telah hilang – sebagai perujukan kepada Injil Matius. Jika benar demikian, siapa sih sebenamya yang ada terlebih dahulu dan siapa yang belakangan? Apa mungkin Matius menjadi bukti bagi kebenaran AI-Masih? Seharusnya, Matiuslah yang meminta bukti kebenaran dirinya kepada AI­Masih. Penafsiran mereka tersebut membuat murid menjadi guru dan guru menjadi murid. Itu tidak berguna di dalam debat, sehingga dakwaan – Injil AI-Masih telah hilang – tetap tak terbantah.

INJIL DIDACHE menjelaskan bahwa gereja-gereja didirikan untuk mengingatkan tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan perang yang akan dia lakukan dalam membinasakan orang-orang Yahudi yang mengingkarinya, dan para pendeta muncul untuk menyerukan keimanan kepadanya.

Klaim orang-orang Kristen bahwa misi para pendeta itu adalah menyerukan kedatangan kembali Al-Masih, tidak dapat dibenarkan orang yang berakal. Sebab, kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam terjadi pada waktu runtuhnya kekuasaan Romawi di Palestina. Al­Masih tidak muncul pada saat kekaisaran Romawi itu runtuh, dan bukan dia yang meruntuhkannya, sementara di dalam kitab-kitab suci mereka disebutkan, berdirinya kerajaan Yahudi di Palestina tidak sah kecuali setelah Al-Masih muncul, dan hal itu terjadi setelah kekaisaran Romawi runtuh.

INJIL DIDACHE sesuai dengan Keempat Injil  – di samping dalam nubuat-nubuatnya tentang Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ­ juga dalam seruan terhadap akhlakyang mulia, dan Al-Masih Alaihissalam adalah pembenar kitab suci yang telah ada. INJIL DIDACHE juga mempunyai kesesuaian dengan Injil Bamabas dalam hal-hal tersebut.

Yang menarik, Barnabas meriwayatkan dari AI-Masih pengharaman makanan-makanan yang dipersembahkan bagi berhala. INJIL DIDACHE pun meriwayatkan demikian. Kedua Injil itu ditulis sebelum Paulus menghalalkan para pengikutnya untuk memakan daging persembahan bagi berhala. Hal ini membuktikan kebenaran dan ketuaan keduanya.

Orang-orang Nasrani harus menerima kebenaran Injil Didache ini, lalu menyerahkan diri mereka kepada Tuhan semesta alam. Kita, kaum muslimin, menyeru mereka kepada agama Islam, agar kita mendapatkan pahala dua kali. Sekiranya kita tidak suka jika mereka mendapatkan kebaikan, maka klta akan membiarkan mereka dan tidak akan berdakwah kepada mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Demikianlah kamu, menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab suci semuanya. Apabila mereka menjumpaimu, mereka berkata: Kami beriman, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu.”

(Ali Imran: 119 118)

DR. Ahmad Hijazi As-Saqa tidak menyimpan-nyimpan tenaga dalam menetapkan kenabian Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dari dalam kitab-kitab suci para Ahlul Kitab. Beliau menjelaskan keshahihan INJIL DIDACHE seperti sebelumnya, menjelaskan keshahihan Injil Bamabas. Kami berdoa semoga Allah  Subhanahu wa Ta’ala membalas upaya beliau tersebut. INJIL DIDACHE diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan dimuat dalam majalah “AI-Muqtathaf,” dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengilhami beliau untuk mengetahui Injil ini dikarenakan hikmah yang diketahui oleh-Nya saja.

Akhirnya, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat iman dan Islam. Semoga Allah membimbing dan meluruskan kita dan kaum muslimin semuanya.

“Saya hanya menginginkan usaha perbaikan selama saya masih berkesanggupan. Tidak ada bimbingan bagi saya melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah saya bertawakkal dan kepada­Nyalah saya kembali.”

(Hud:88)

Prof. DR. Abdul Qadir Sayyid Ahmad

Mantan Dekan Fakultas Farmasi Universitas Kairo


1.Murid-murid Yesus adalah Simon yang juga diberinya nama Petrus, Andreas saudara Simon, Yakobus, Yohanes, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Simon yang disebut orang sebagai Zealot, Yudas anak Yakobus, dan Yudas Iscariot. Lihat Lukas, 6: 13-16. – Penj.
2.Para orang tua, atau para tetua, adalah tesjemahan dari kata’ulama, mereka adalah para pemimpin agama Yahudi.-Penj.
3.Terkadang penerjemah menggunakan ungkapan orang-orang yang fidak mengenal Tuhan untuk kata watsaniyyun (para penyembah berhala).-Penj.

4.Yang, dimaksud dengan bangsa-bangsa, atau gentile, adalah orang-orang non-Yahudi.

 

PENDAHULUAN

Bismillahirrohmanirrahim

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan alam semesta. Shalawat dan salam kepada “Sang Penutup” para Nabi, keluarganya, dan semua sahabatnya.

Injil-injil Muqaddas menurut orang-orang Kristen ada empat, yaitu Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Pernah muncul sebuah Injil yang mereka tolak, yaitu Injil Bamabas, karena di dalamnya disebutkan bahwa “Nabi Muhammad adalah Rasulullah (utusan Tuhan).”

Sekarang muncul Injil baru, serupa dan setua Injil Bamabas, yaitu INJIL DIDACHE. Kami memandang perlu memunculkannya di perpustakaan­perpustakaan Islam, karena orang-orang Kristen telah memunculkannya di perpustakaan-perpustakaan mereka. Mereka mengatakan, di akhir Injil ini terdapat kekurangan -dan kekurangan itu disengaja- tepatnya pada pembicaraan Al-Masih Alaihissalam tentang “Nabi yang akan datang setelah dirinya” untuk mendirikan Kerajaan Surga. Mereka menafsirkan bahwa Nabi yang akan datang itu adalah AI-Masih Isa bin Maryam pada kedatangannya di akhir zaman.

Siapa yang akan percaya bahwa Isa akan turun di akhir zaman, sementara ia membaca di dalam Injil Yohanes, “Saya tidak akan kekal di dunia, sedangkan mereka akan tetap ada di dunia. Saya akan datang kepada Bapa, dan kalian tidak akan melihat saya.”

Di dalam terjemahan­nya yang lain,

“Saya tidak ada lagi di dalam dunia, sedangkan mereka masih ada di dalam dunia.” (Yohanes 17: 11)

“Saya pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat saya lagi.” (Yohanes 16:10)

Di dalam Taurat, Kerajaan Surga berdiri setelah kekuasaan Kekaisaran Romawi di Tanah Palestina runtuh. Ia runtuh pada Yaum Ar­Rabb (Hari Tuhan) di tangan kaum muslimin pada zaman Umar bin Al­Khathab Radhiyallahu Anhu pada Perang Armagedon yang dikenal juga dengan Perang Yarmuk.

Nabi Isa Alaihissalam berpesan kepada orang-orang yang hendak berdoa untuk membaca, “Bapa kami yang ada di surga. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu…” Demikian di dalam INJIL DIDACHE.

“Wahai Bapa, Tuhan kami. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu pada kami…” Demikian di dalam Injil Barnabas.

“Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan­Mu ….” Demikian di dalam Injil Lukas.

“Bapa kami di surga. Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan­Mu ….” Demikian di dalam Injil Matius.

Jadi, INJIL DIDACHE, Bamabas, Lukas, dan Matius sepakat bahwa Kerajaan Surga datang setelah Nabi Isa Alaihissalam. Waktu kedatang­annya pun ditentukan, yaitu di akhir masa Kekaisaran Romawi. Kaum muslimin telah meruntuhkan kekaisaran itu. Jadi, mengapa orang-orang Yahudi dan Kristen beromong kosong dengan mengatakan bahwa Kerajaan Surga belum datang?!

Hari Tuhan

Di dalam Taurat Musa dan Kitab Nabi-nabi dijelaskan bahwa Nabi yang ummi (tidak bisa baca-tulis), yang datang setelah Musa, akan melancarkan perang terhadap orang-orang Yahudi yang mengingkarinya, dan membinasakan mereka pada hari-hari pertama kemunculannya. AI­Masih Isa Alaihissalam memerintahkan para pengikutnya untuk berjaga­jaga dan bersiap-siap demi hari tersebut, supaya mereka tidak binasa. la pun membuat peringatan agar mereka tidak melupakan hari itu, yaitu dengan mengadakan perkumpulan secara teratur, sambil membawa roti dan mengucapkan doa-doa bagi Tuhan, lalu memotong-motong dan membagi-bagikannya, membawa anggur serta mengucapkan doa-doa bagi Tuhan, lalu membagi-bagikannya, sebagaimana dilakukan para sufi muslim pada saat berkumpul untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Doa-doa tersebut menunjukkan bahwa AI-Masih adalah perantara untuk mengenalkan Kerajaan Tuhan, bukan pemilik kerajaan itu.

Perhatikan perkataannya, “Ketika kalian berkumpul pada Hari Tuhan,” atau demi Hari Tuhan. (Hari Tuhan adalah kebinasaan orang­orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad ShaIlallahu Alaihi wa Sallam, bukan hari Sabtu ataupun hari Minggu – Penj.) Itu dikarenakan hari Sabat adalah hari untuk berdoa, sehingga pada hari itu mereka akan berkumpul, baik diperintahkan atau tidak, karena hari itu adalah hari pertemuan kudus, hari doa bersama, dan Nabi Isa diutus tidak untuk membatalkan hukum tersebut. Tapi, orang-orang Kristen beromong kosong dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Hari Tuhan adalah hari Minggu. Bukti bahwa maksud AI-Masih adalah berjaga-jaga dan bersiap-siap demi Hari Tuhan adalah ia berdalil dengan nubuat Malakhi, yaitu nubuat tentang Hari Tuhan di dalam Taurat.

Di antara penjelasan IsaAlaihissalam tentang Hari Tuhan adalah, “Berjaga-jagalah demi hidup kamu. Janganlah kamu memadamkan pelita­pelita dan janganlah kamu melonggarkan ikat pinggang. Tetapi bersiap-­siaplah, karena kamu tidak mengetahui waktu tuhan kita datang.” Ia menasehati orang-orang Yahudi agar menerima Nabi selain dirinya. Alasannya, ia mengatakan, “Karena kamu tidak tahu saat tuhan kita datang.” Yang ia maksud dengan tuhan kita (rabbuna) adalah tuan kita (sayyiduna), yaitu Nabi yang akan datang. Jika yang ia maksud adalah dirinya sendiri, ia tentu akan mengatakan, “Waktu saya datang.”

Penjelasan AI-Masih yang lain, “Iman kamu pada setiap zaman tidak akan berguna, jika pada waktu terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempurna.” Waktu terakhir adalah penghujung kenabian dan kerajaan Bani Israel, dan permulaan kenabian dan kerajaan Bani Ismail, karena kedua hal itu; yaitu kenabian dan kerajaan, adalah `berkat’ bagi Nabi Ibrahim Alaihissalam, pertama bagi Ishaq, lalu bagi Ismail.

Penjelasan Al-Masih yang lain, “Orang-orang yang sabar dalam keimanan, akan terbebas dari kutukan ini.” Kutukan adalah sifat khusus bagi Yahudi, sebagaimana terdapat dalam Mazmur:119.

Penjelasan AI-Masih yang lain, “Fada saat itu muncullah tanda-tanda kebenaran.” Kebenaran adalah salah satu gelar Nabi yang ummi yang akan datang ke dunia, yang disebut di dalam Manuskrip Gua Qumran (Dead Sea Scrolls). Manuskrip ini menyebutkan tiga nubuat tentang kebinasaan orang­orang Yahudi yang mengingkari Nabi yang ummi itu pada Hari Tuhan, pada hari-hari pertama kemunculannya, yaitu:

1. Nubuat terbukanya langit.

2. Nubuat suara sangkakala.

3. Nubuat bangkitnya orang-orang mati.

Orang-orang Kristen mengatakan, mereka tidak mengerti makna nubuat terbukanya langit. Mereka berdusta saat mengatakan hal itu, karena nubuat-nubuat tersebut terdapat di dalam Kitab Yesaya untuk menunjukkan binasanya orang-orang Yahudi yang mengingkari Nabi Muhammad pada Hari Tuhan. Mereka juga bingung dalam menafsirkan kebebasan dari kutukan. Mereka mengatakan, yang terkutuk di atas salib adalah AI-Masih. Perkataan itu salah, karena orang yang beriman kepada Nabi yang akan datang itu tidak akan terkutuk, sedangkan orang yang tidak beriman kepadanya akan terkutuk. Di dalam Zabur (Mazmur-Penj.) disebutkan, “Engkau menghardik orang-orang yang sombong, yang terkutuk, yang menyimpang dari wasiat-wasiat-Mu.” (Mazmur, 119: 21) Hardikan itu hanya bagi orang yang tidak beriman dan yang terkutuk. Kemudian, AI­Masih Isa Alaihissalam mengatakan bahwa kebanyakan orang Yahudi tidak bebas dari kutukan, karena kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Nabi tersebut. Tetapi, sebagian akan beriman, dan mereka inilah orang­orang terpilih, sebagaimana dikatakan Zakaria, “Tuhanku akan datang, dan semua orang kudus bersama-Mu.” Maksudnya Nabi Tuhan akan datang, diiringi orang-orang yang terpilih.

Al-Masih mengatakan, “Pada saat itu, alam memandang Tuhan datang di atas awan-awan di langit,” sebagaimana dikatakan Nabi Daniel di dalam ayat: 7.

Kami akan menjelaskan nubuat-nubuat tersebut di dalam komentar­komentar terhadap teks INJIL DIDACHE, dan merujukkan masing-masing nubuat kepada asalnya di dalam Taurat.

Pendeta Koptik yang telah menyunting INJIL DIDACHE, yang namanya tidak disebutkan, namun karyanya menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan yang luas, mengatakan sebagai berikut, “Baris-baris terakhir DIDACHE di dalam Manuskrip Yerusalem tidak lengkap.” Apa penyebab tidak lengkapnya pasal nubuat Nabi yang ditunggu-tunggu, padahal tujuan dakwah AI-Masih adalah memunculkan dan menerangkan nubuat-nubuat itu, dan untuk menunjukkan orang yang dimaksudkannya?! Mengapa ketidak sempurnaan itu justru ada pada bagian tersebut?!

Pendeta ini menjawab, “Kitab Al-Marasim Ar-Rasuliyah (Apostolic Constitutions) menyatakan bahwa bagian yang hilang adalah: Pada saat itu, tuhan datang dan orang-orang kudus bersama-nya, disertai gempa, di atas awan, dengan kekuatan malaikat-malaikatnya, di atas singgasana kerajaannya …” juga bagian-bagian lain yang senada dengan hal itu.

Yang dimaksud dengan tuhan (ar-rabb) adalah tuan (as-sayyid), yaitu Nabi yang ditunggu-tunggu, sedangkan orang-orang kudus adalah peng­ikutnya yang terpilih. Gempa adalah kiasan bagi sengifiya peperangan pada Hari Tuhan. Di atas awan adalah kiasan bagi keluhuran dan keagungan Nabi itu, dan malaikat adalah kiasan bagi sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya.

Hal ini akan saya jelaskan lebih lanjut.

Dari pembahasan kami tersebut jelas bahwa DIDACHE menunjukkan kedatangan Nabi Muhammad ShaIlallahu Alaihi wa Sallam dengan beberapa alasan:

Pertama, Taurat berbicara tentang Nabi yang akan muncul setelah Nabi Musa Alaihissalam di dalam Kitab Ulangan: 18, yaitu: “Tuhan, Tuhanmu, akan membangkitkan seorang Nabi dari kalanganmu, dari saudara-saudaramu, seperti saya. Oleh karena itu kamu harus mendengarkannya.”

Kedua, Injil Yohanes ayat pertama menjelaskan bahwa Nabi itu belum muncul pada masa Yahya Al-Ma’madan (John the Baptist: Yohanes Pembaptis) dan Isa Alaihissalam, sebab mereka (orang-orang Lewi­penj. ) bertanya kepada Yohanes Pembaptis, “Apakah engkau Nabi yang akan datang?” lalu ia menjawab, “Bukan.”

Ketiga, Yohanes Pembaptis dan Nabi Isa Alaihissalam, seperti yang disebutkan oleh semua Injil, menyerukan dekatnya Kerajaan Surga, yang oleh Taurat dikatakan akan berdiri setelah Kerajaan Romawi.

Keempat, Nabi Isa Alaihissalam berkata kepada para pengikutnya, “Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar dan kepada Tuhan apa yang wajib kamu berikan kepada Tuhan!” la tidak memerangi Kekaisaran Romawi, tidak menaklukkan satu pun negeri yang dikuasai Romawi, tidak merebut sejengkal pun tanah Romawi, dan Kekaisaran Romawi tetap berdiri setelah kematiannya sampai diperangi oleh kaum muslimin.

Di dalam Taurat disebutkan, Nabi yang akan datang akan melancarkan perang yang sengit kepada orang-orang yang menentangnya untuk membinasakan mereka dan membersihkan bumi dari mereka, sebagai­mana bumi telah dibersihkan dengan banjir Nabi Nuh Alaihissalam. Yang membersihkan bumi pada Hari Tuhan adalah kaum muslimin.

Kelima, tanda-tanda Hari Tuhan telah disebutkan oleh pengarang DIDACHE, seperti disebutkan oleh Injil-Injil lain.

Demikian. Tuhan-lah Pemberi bimbingan.

INJIL DIDACHE ATAU AJARAN RASUL RASUL
hal. 7-8-9-10-11

NASKAH Injil Didache, atau Ajaran AI-Masih kepada bangsa bangsa melalui Dua Belas Rasul, ditemukan di dalam manuskrip berbahasa Yunani satu-satunya pada tahun 1871 M. Waktu penulisannya berkisar pada akhir abad pertama atau awal abad kedua Masehi, dan ia diperkirakan lebih tua daripada Injil Yohanes.

Isi Injil Didache

Injil Didache berisi 16 pasal, yaitu:

  1. Pasal 16: perilaku orang Kristen (dua jalan).
  2. Pasa 710: bagian liturgi, atau ritual, berisi ajaran tentang pembaptisan (pasal 7), puasa dan shalat (pasal 8), perjamuan Ekaristi dan memotong­motong roti (pasal9 dan 10).
  3. Pasal 10 dan 11: hirarki gereja.
  4. Pasa 16: menunggu kedatangan Tuhan.

Kami akan memaparkan teks Injil Didache5] selengkapnya terlebih dulu, agar pembaca rnemiliki pijakan untuk melanjutkan kajian terhadap naskah ini.

Teks Injil Didache:

(Ajaran AI-Masih kepada Bangsa-bangsa Melalui Dua Belas Rasul)
pasal: 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16

 

Didache pasal 1:

1.1 Ada dua jalan, yaitu jalan kehidupan dan jalan kematian. Perbedaan antara kedua jalan itu sangat besar.

1.2 Jalan kehidupan adalah berikut ini: Pertoma, kasihilah Tuhan, Pt?nciptamu. Kedua, kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri, dan segala sesuatu yang kamu tidak inginkan dilakukan terhadap kamu, janganlah kamu melakukannya terhadap sesamamu.

1.3 Pengajaran dari kata-kata itu adalah berikut ini: berkatilah orang-orang yang mengutukmu, berdoalah demi musuh-musuhmu, berpuasalah demi orang-orang yang menindasmu. Karena apa upahnya apabila kamu mengasihi orang yang mengasihimu? Bukankah bangsa­bangsa melakukan seperti itu? Tetapi kamu, kasihilah orang-orang yang membencimu, maka kamu tidak mempunyai musuh.

1.4 Hindarilah nafsu-nafsu jasadi dan ragawi. Siapa yang menampar pipi kananmu, berikanlah kepadanya pipi kirimu. Maka, kamu menjadi orang yang sempuma. Siapa yang memaksamu berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersamanya sejauh dua mil. Apabila seseorang mengambiljubahmu, berikanlah juga mantelmu kepadanya. Apabila dia mengambil apa yang kamu punyai, janganlah kamu menuntutnya, karena kamu tidak mampu.

1.5 Kepada setiap orang yang meminta kepadamu, berikanlah. Janganlah kamu menuntutnya, karena Tuhan Bapa berkehendak memberi nikmat-nikmatNya kepada semua orang. Beruntunglah orang yang memberi sesuai perintah ini, karena dia akan menjadi orang yang tidak tercela. Celakalah orang yang mengambil, karena bila dia memiliki kebutuhan, maka dia tidak bersalah. Tetapi, orang yang tidak memiliki kebutuhan, dia akan diberi dengan penghitungan, apakah sebabnya dia mengambil dan apakah tujuannya, sehingga dia berada dalam kesempitan dan terluka disebabkan perbuatannya, dan dia tidak akan keluar dari keadaan itu sampai dia membayar peser terakhir.

1.6 Berkenaan dengan hal ini, dikatakan juga: Biarlah shadaqahmu berkeringat di tanganmu, sampai kamu mengetahui kepada siapa kamu memberikannya.

Didache pasal 2:

2.1 Berikut perintah kedua dalam pengajaran ini.

2.2 Janganlah kamu membunuh, je.nganlah kamu berzina, janganlah kamu merusak anak-anak, janganlah kamu melacur, janganlah kamu mencuri, janganlah kamu melakukan sihir, janganlah kamu meracun orang, janganlah kamu membunuh janin di dalam perut dan janganlah juga membunuh anak yang sudah lahir, serta janganlah kamu menginginkan apa yang dipunyai sesamamu.

2.3 Janganlah kamu mengucapkan sumpah palsu, janganlah kamu mengucapkan kesaksian dusta, janganlah kamu menggunjing, dan janganlah kamu mengingat-ingat hinaan yang kamu terima.

2.4 Janganlah kamu menjadi orang yang bercabang pikiran dan bercabang lidah, karena lidah yang bercabang adalah perangkap kematian.

2.5 Jangan sampai kata-katamu menjadi omong kosong dan kepalsuan, tetapi harus dipenuhi perbuatan.

 

2.6 Janganlah kamu tamak terhadap harta, jangan merampok, jangan munafik, jangan membanggakan diri, dan jangan sombong. Di samping itu, janganlah kamu bemiat jahat terhadap sesamamu.

2.7 Janganlah kamu membenci seseorang, tetapi insafkanlah sebagian orang, dan berdoalah untuk sebagian yang lain, dan kasihilah sebagian yang lain itu melebihi dirimu sendiri.

Didache pasal 3:

3.1 Anakku, menjauhlah dari semua kejahatan dan dari semua yang menyerupainya.

3.2 Janganlah kamu menjadi pemarah, karena kemarahan membawa kepada pembunuhan. Janganfah kamu menjadi pencemburu, gemar permusuhan, dan lekas marah, karena semua itu menyebabkan pembunuhan.

3.3 Anakku, janganlah kamu mengikuti nafsu, karena nafsu membawa kepada perzinaan, dan janganlah kamu berkata-kata cabul dan bermata jalang, karena dari semua itulah terlahir rupa-rupa perzinaan.

3.4 Anakku, janganlah kamu mengambil pertanda baik dari burung, karena hal itu membawa kepada penyembahan berhala. Janganlah kamu menjadi peramal dan tukang tenung, janganlah kamu melakukan kebiasaan bersuci para penyembah berhala, dan janganlah kamu ingin melihat atau mendengarnya, karena dari semua itulah muncul penyembahan terhadap berhala.

3.5 Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian, dan janganlah kamu menjadi pencinta harta dan kehormatan yang semu, karena dari semua itulah muncul banyak pencurian.

3.6 Anakku, janganlah kamu berkeluh kesah, karena keluh kesah membawa kepada sumpah serapah, dan janganlah kamu lancang dan berburuk sangka, karena dari semua itulah muncul banyak sumpah serapah.

3.7 Jadilah kamu orang yang lembut hati, karena orang-orang yang lembut hati akan mewarisi bumi.

3.8 Jadilah kamu orang yang sangat penyabar, penuh kasih sayang, suka berdamai, tenang, saleh, dan selalu gemetar karena kata-kata yang kamu dengar.

3.9 Janganlah kamu mengagungkan dan membanggakan diri sendiri, dan janganlah kamubergauldengan orang orang yang sombong, melainkan bergaullah dengan orang-orang yang baik dan rendah hati.

3.10 Kamu harus menerima apapun yang terjadi pada dirimu sebagai kebaikan, karena mengetahui bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi bukan karena Tuhan.

Didache pasal 4:

4.1 Anakku, kamu harus mengingat orang yang menyampaikan firman Tuhan pada siang dan malam hari, muliakan dia sebagai tuhan, karena di mana saja diucapkan kata-kata Tuhan, di sana ada Tuhan.

4.2 Kamu harus berusaha setiap hari untuk bertemu dengan orang­orang kudus, supaya kamu terhibur oleh kata-kata mereka.

4.3 Janganlah kamu menyebabkan perpecahan, tetapi kamu harus menanamkan perdamaian di antara orang-orang yang bermusuhan. Kamu harus memutuskan dengan adil dan janganlah kamu menahan diri dari beberapa orang dalam menginsafkan kesalahan.

4.4 Janganlah kamu menjadi orang yang bimbang, apakah sesuatu akan terjadi atau tidak?

4.5 Janganlah kamu membuka lebar-lebar tanganmu pada saat mengambil dan merapatkan genggaman tanganm u pada saat memberi.

4.6 Kamu harus memberikan sebagian harta yang kamu miliki dari usaha tanganmu sebagai penebus kesalahan-kesalahanmu.

 

4.7 Janganlah kamu ragu-ragu untuk memberi. Jika kamu memberi, janganlah kamu berkeluh kesah, karena kamu akan mengetahui siapakah Dia Sang Pemberi balasan yang baik.

4.8 Janganlah kamu menolak orang yang membutuhkan, ajaklah saudaramu dalam segala sesuatu yang kamu miliki, dan janganlah kamu mengatakan bahwa suatu barang adalah milikmu sendiri, karena jika kamu bersekutu pada apa yang abadi, maka lebih pantas jika kamu bersekutu pada apa yang fana.

4.9 Janganlah kamu mengangkat tangan untuk memukul anakmu; laki-laki ataupun perempuan, tetapi kamu harus mengajarkan mereka sejak dini rasa takut kepada Tuhan.

4.10 Janganlah kamu menghardik dengan keras budak laki-laki ataupun budak perempuanmu yang berharap-harap kepada Tuhan yang sama, agar mereka tidak kehilangan rasa takut kepada Tuhan, karena Dia datang bukan untuk disembah orang-orang terhormat saja, tapi oleh siapa saja yang disiapkan oleh Roh.

4.11 Adapun kamu, para budak sahaya, kamu harus tunduk kepada tuan-tuanmu seperti kepada Tuhan, yaitu dengan penuh penghormatan dan rasa takut.

4.12 Kamu harus membenci semua kemunafikan dan segala sesuatu yang tidak disukai Tuhan.

4.13 Janganlah kamu melalaikan perintah-perintah Tuhan, tetapi kamu harus menjaga apa yang kamu terima tanpa penambahan dan Pengurangan.

4.14 Kamu harus mengakui kesalahan-kesalahanmu di hadapan gereja, janganlah kamu membaca doa-doa dengan hati yang jahat. Demikianlah jalan kehidupan.

 

Didache pasal 5:

5.1 Inilah jalan kematian. Pertama-tama; la sangat jahat, penuh kutukan, bermacam-macam pembunuhan, perzinaan, nafsu, per­selingkuhan, pencurian, penyembahan berhala, sihir, meracun orang, perampokan, kesaksian palsu, kepura-puraan, kemunafikan, kecurangan, kebencian, pengkhianatan, sikap keras kepala, ketamakan, kata-kata yang salah, kecemburuan, kelancangan, mengagungkan diri sendiri, membang­gakan diri sendiri, dan membual.

5.2 Orang-orang yang menindas orang-orang yang saleh: membenci kebenaran, mencintai kebohongan, tidak mengetahui cara membalas kebaikan, tidak mendekati kebaikan dan keputusan yang adil, begadang bukan untuk kebaikan tapi untuk kejahatan, menjauhi kerendahhatian dan kesabaran, mencintai kebatilan, menindas tindakan membalas budi, tidak mengasihi orang-orang miskin, yang tidak merasa terluka bersama orang­orang yang terluka, tidak mengetahui pencipta mereka, membunuh anak­anak, merusak ciptaan Tuhan, berpaling dari orang-orang yang membutuh­kan, membuat cemas orang-orang yang dalam kesusahan, membela orang-orang kaya, memutuskan kezaliman bagi orang-orang sengsara, melakukan pelbagai kesalahan; semoga kamu dan anak-anakku selamat dari sifat-sifat itu semuanya.

Didache pasal 6:

6.1 Waspadalah kamu, jangan sampai ada orang yang menyesatkan­mu dari pengajaran ini, karena dengan begitu ia mengajarkan apa yang tidakberhubungan dengan Tuhan.

6.2 Jika kamu sanggup membawa semua beban Tuhan, maka kamu akan menjadi orang yang sempuma. Sedangkan jika kamu tidak sanggup, maka lakukanlah apa yang kamu mampu.

6.3 Berkenaan dengan makanan, tanggunglah puasa semampumu, hindarilah dengan sungguh-sungguh daging persembahan untukberhala, karena itu merupakan persembahan terhadap tuhan-tuhan yang mati.

Didache pasal 7:

7.1 Berkenaan dengan pembaptisan, baptislah dengan cara seperti ini: setelah apa-apa yang kami katakan terdahulu, baptislah dengan nama Tuhan Bapa, Anak dan Roh Kudus, dengan air yang mengalir.

7.2 Apabila kamu tidak mendapatkan air yang mengalir, baptislah dengan air yang lain. Bila memungkinkan, dengan air dingin, jika tidak, dengan air panas.

7.3 Jika keduanya tidak kamu dapati, maka kucurkanlah air ke kepala tiga kali dengan menyebut nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.

7.4 Sebelum pembaptisan, orang yang akan membaptis hendaknya berpuasa, juga orang yang akan dibaptis, dan orang-orang lain yang mampu melakukannya, dan saya memerintahkan kepada orang yang akan membaptis, hendaknya dia berpuasa selama satu atau dua hari sebelum pembaptisan.

Didache pasal 8:

8.1 Jangan kamu berpuasa bersama orang-orang yang munafik, karena mereka berpuasa pada hari kedua dan kelima setiap minggu. Adapun kamu, berpuasalah pada hari keempat dan hari persiapan.6]

8.2 Janganlah kamu membaca doa-doa seperti orang-orang munafik, tapi seperti yang diperintahkan tuan di dalam Injilnya. Maka, berdoalah demikian: “Bapa kami di surga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, terjadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kepada kam i makanan kami pada hari ini untuk persiapan esok hari. Ampunilah kesalahan kami sebagaimana kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah Engkau membawa kami ke dalam percobaan, tapi bebaskanlah kami dari orang yang jahat, karena Engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama­lamanya.”

8.3 Seperti itulah kamu berdoa tiga kali sehari.

 

Didache pasal 9:

9.1 Berkenaan dengan makanan pada Jamuan Ekaristi, berkatilah seperti demikian (9.2):

9.2 Pertama, sebagai pujian saat memegang cawan, “Kami bersyukur kepada-Mu, wahai Tuhan Bapa kami, demi pohon anggur Dawud, putra-Mu yang kudus, yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui Yesus, putra-Mu. Engkaulah yang memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya.”

9.3 Sebagai pujian saat memotong-motong roti, “Kami bersyukur kepada-Mu, Tuhan Bapa kami, demi kehidupan dan pengetahuan yang Engkau beritakan kepada kami melalui Yesus, putra-Mu. Engkaulah yang memiliki kemuliaan sampai selama-lamanya.

9.4 Sebagaimana roti yang dipotong-potong disebar di atas gunung, kemudian dikumpulkan sehingga menjadi satu, demikianlah disatukan gereja-Mu dari ujung bumi sampai kerajaan-Mu, karena Engkaufah yang memiliki kemuliaan dan kekuasaan melalui Yesus Kristus sampai selama­lamanya.”

9.5 Tidak seorang pun di antara kamu boleh memakan atau meminum Jamuan Ekaristi, kecuali orang-orang yang telah dibaptis dengan nama Tuhan, karena tentang hal ini Tuhan telah berkata, “Janganlah kamu memberikan makanan yang suci kepada anjing.”

Didache pasal 10:

10.1 Setelah kenyang, ucapkanlah syukur demikian:

10.2 Kami bersyukur kepada-Mu, Bapa Yang Kudus, demi nama­Mu Yang Kudus, yang Engkau tempatkan di dalam hati kami, dan demi pengetahuan, keimanan, dan keabadian yang Engkau perkenalkan kepada kami melalui putra-Mu, Yesus. Engkaulah pemilik kemuliaan sampai selama-lamanya.

10.3 Wahai Tuhan yang sangat berkuasa, segala sesuatu Engkau ciptakan demi nama-Mu. Engkau memberikan makanan dan minuman kepada manusia, agar mereka nikmati, dan agar mereka bersyukur kepada-Mu. Sedangkan kepada kami, Kau berikan makanan dan minuman rohani, dan kehidupan abadi melalui putra-Mu.

10.4 Kami bersyukur kepada-Mu, pertama-tama, karena Engkau berkuasa. Engkaulah pemilik kemuliaan sampai selama-lamanya.

 

10. 5 Ingatlah gerejamu wahai Tuhan, agar engkau menyelamatkan­nya dari segala keburukan dan menyempumakannya dalam kasih kepada­Mu. Kumpulkan tempat yang kudus itu dari empat mata angin hingga kerajaanmu yang engkau persiapkan. Karena Engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama-lamanya.

 

10.6 Datanglah nikmat, pergilah dunia ini, Hosanna demi tuhan Dawud: siapa yang suci, hendaklah maju, dan siapa yang tidak demikian, hendaklah bertaubat. Maranatha. Amin.”

 

10. 7 Adapun Nabi-nabi, biarkanlah mereka mengucapkan doa pujian sebagaimana mereka kehendaki.

 

Didache pasal 11:

 

11.1 Karena itu, siapapun yang datang dan mengajarkan kalian ajaran-ajaran tersebut, katakanlah, “Terimalah ia.”

 

11.2 Apabila guru mengubah pengajaran ini dengan pengajaran lain untuk merusak, makajanganlah kamu mendengarkannya. Sedangkan bila ia mengajar agar kebaikan dan pengetahuanmu tentang Tuhan bertambah, maka terimalah ia sebagai Tuhan.

 

11.3 Adapun berkenaan dengan Rasul-rasul dan Nabi-nabi, maka ketahuilah bahwa berdasarkan pengajaran Injil, maka perintah Tuhan adalah demikian:

 

11.4 Semua Rasul yang datang kepadamu, terimalah sebagai tuhan.

 

11. 5 Dia tidak tinggal di rumahmu lebih dari satu hari, atau dua hari jika terpaksa. Apabila dia tinggal selama tiga hari, dia adalah Nabi palsu.

 

11.6 Jika Rasul Ifu pergi, maka dia hanya mengambil roti sebagai bekal sampai dia menemukan tempat menginap yang lain. Sedangkan jika dia meminta uang, maka dia adalah Nabi palsu.

11.7 Janganlah kamu membawa setiap Nabi yang berbicara atas nama Roh ke dalam percobaan dan janganlah kamu mengutuknya. Dosa­dosa itu tidak terampuni.

11.8 Tidak semua Nabi yang berbicara atas nama Roh adalah Nabi, tetapi Nabi adalah orang yang memiliki perilaku Tuhan. Dari perilakulah diketahui Nabi yang palsu dan Nabi yang benar.

11.9 Nabi-nabi yang memerintahkan atas nama Roh untuk disiapkan makanan, dia tidak memakan makanan itu. Jika dia makan, dia adalah Nabi palsu.

11.10 Setiap Nabi mengajarkan kebenaran. Jika dia mengajarkan, tapi tidak melaksanakan, dia adalah Nabi palsu.

11.11 Setiap Nabi yang benar telah diuji dan melaksanakan rahasia gereja di dunia. Dia tidak mengajarkan agar semua orang berbuat seperti dirinya. Maka,janganlah kamu menghakiminya. Karena penghakimannya hanya dilakukan oleh Tuhan, karena Nabi-nabi terdahulu berbuat seperti itu juga.

11.12 Setiap orang yang berkata atas nama Roh: berilah saya perak atau benda-benda lain, janganlah kamu mendengarkannya. Tetapi jika dia berkata berikan kepada sesamamu yang membutuhkan, makajanganlah kamu menghakiminya.

Didache pasal 12:

12.1 Setiap orang yang datang dengan nama tuhan, terimalah ia. , Setelah mengujinya, kamu akan mengenalnya, karena kamu akan memiliki pembeda antara yang kanan dengan yang kiri.

12.2 Tetapi jika yang datang adalah pengembara, tolonglah se­mampu kamu, dan hendaknye dia tidak menginap di rumahmu kecuali dua hari atau tiga hari jika terpaksa.

 

12.3 Jika dia ingin menetap di rumahmu, dan dia memiliki keahlian, maka hendaknya diabekerja untuk mendapatkan makanan.

 

12.4 Jika dia tidak memiliki keahlian, maka latihlah dia dengan ke­ahlianmu, karena bagaimana seorang Masehi hidup di antara kamu tanpa pekerjaan?

 

12.5 Jika dia tidak ingin bekerja, dia adalah orang yang memper­dagangkan Kristus. Waspadailah orang-orang seperti itu.

 

Didache pasal 13:

13.1 Setiap Nabi yang benar, yang ingin menetap di tengah-tengah kamu, berhak mendapatkan makanannya.

 

13.2 Begitu juga guru yang benar. Dia juga berha:: mendapatkan makanan seperti orang yang bekerja.

13.3 Untuk itu, kamu mengambil hasil pertama dari panen buah­buahan dan tanaman, juga hasil pertama dari perasan susu sapi dan susu kambing, dan kamu berikan hasil pertama itu kepada Nabi-nabi, karena mereka adalah pimpinan pendetamu.

 

13.4 Jika di antara kamu tidak ada Nabi, berikanlah kepada kaum miskin.

 

13.5 Jika kamu membuat roti, ambillah hasil pertamanya dan beri­kanlah kepadanya sesuai perintah.

 

13.6 Begitu juga jika kamu membuka tempayan anggur atau zaitun, ambillah sendokan pertamanya dan berikanlah kepada Nabi-nabi.

 

13.7 Ambillah hasil pertama dari perak dan baju, dan apapun yang kamu miliki, sesuai kemampuanmu, dan berikanlah sesuai perintah.

 

Didache pasal 14:

 

14.1 Ketika kamu berkumpul pada Hari Tuhan, potong-potonglah roti dan ucapkanlah syukur setelah kamu mengakui kesalahan-kesalahan­mu, agar daging sembelihanmu menjadi suci.

14.2 Jangan orang yang bersengketa dengan saudaranya berkumpul bersamamu sampai mereka berdamai, agar daging sembelihan kamu tidak terkena najis.

14.3 Karena Tuhan berkata: di setiap tempat dan zaman diberikan kepada-Ku daging sembelihan yang suci, karena saya adalah Raja yang agung, kata Tuhan, dan nama-Ku dihormati semua manusia.

Didache pasal 15:

15.1 Karena itu, angkatlah di tengah-tengah kamu uskup-uskup dan diakon-diakon yang pantas bagi Tuhan, orang-orang yang lembut hati, bukan para pencinta harta, orang-orang yang jujur, yang telah diuji, karena mereka mengabdi kepadamu seperti pengabdian Nabi-nabi dan guru-guru.

15.2 Janganlah kamu mengejek mereka, karena mereka adalah orang-orang yang mulia di antara kamu bersama Nabi-nabi dan guru-guru

15.3 Insafkanlah antara sesamamu, bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kasih sayang, berdasarkan Injil. Jika seorang menghina sesamanya, janganlah kamu berbicara dengannya, atau mendengarkan­nya, sampai dia bertaubat.

15.4 Ucapkanlah doa-doamu dan keluarkanlah shadaqah­shadaqahmu serta lakukanlah semua perbuatanmu sesuai Injil Tuhan kita.

Didache pasal 16:

16.1 Berjaga-jagalah untuk hidupmu, jangan kamu memadamkan lampu-lampu dan janganlah kalian melonggarkan ikatpinggang. Melainkan bersiap-siaplah, karena kamu tidak mengetahui waktu Tuhan kita datang.

16.2 Berkumpullah kamu secara teratur untuk mempelajari hal-hal yang pantas bagi jiwa-jiwamu, karena imanmu pada setiap zaman tidak ekan berguna, jika pada saat yang terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempuma.

16.3 Karena pada hari-hari terakhir akan banyak Nabi pendusta dan perusak. Domba-domba akan berubah menjadi serigala-serigala dan rasa kasih akan berubah menjadi kebencian.

16.4 Jika dosa bertambah, mereka akan membenci, menindas, dan menyerahkan sesamanya. Pada saat itulah muncul seorang penyesat seakan-akan ia Anak Tuhan. Dia membuat ayat-ayat dan keajaiban­keajaiban, bumi diserahlcan ke tangannya, dan dia melakukan penyimpang­an-penyimpangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

16.5 Pada saat itu, manusia dibawa kepada fitnah percobaan. Banyak orang akan ragu-ragu dan binasa, tetapi orang-orang yang sabar dalam keimanan, akan terbebas dari kutukan ini.

16.6 Pada saat itu, muncul tanda-tanda kebenaran. Pertama; Tanda terbukanya langit. Kemudian; Tanda suara sangkakala. Dan ketiga; Bangkit­nya orang-orang mati.

16.7 Akan tetapi tidak semua orang, sebagaimana dikatakan: Tuhan datang diiringi orang-orang suci.

16.8 Pada saat itu, manusia melihat Tuhan yang datang di atas awan­awan di langit.

Demikianlah isi Injil Didache yang memuat beberapa pasal tentang seruan kepada umat manusia.


5 Penulis menerjemahkan teks ini dari Bahasa Yunani, dan saya menerjemahkannya dari teks berbahasa Arab itu sambil membandingkannya dengan terjemahan dalam Bahasa Inggris. Penj.
6.
Hari persiapan adalah hari sebelum hari Sabat, jadi Jumat.

 

RAHASIA PENEMUAN MANUSKRIP INJIL DIDACHE
OLEH: PENDETA KOPTIK


DIDACHE, atau Ajaran Rasul-rasul, adalah peraturan gereja (church polity) pertama yang sampai kepada kita,96] dan merupakan salah satu naskah yang terpenting dan tertua tentang ajaran agama dan hukum gereja, karena ia memuat teks-teks liturgis yang tertua setelah Perjanjian Lama. Posisinya ada di tengah-tengah antara Perjanjian Baru dengan tulisan-tulisan bapa-bapa apostolik (apostolic fathers). Penemuan naskah ini pada akhir abad 19 menimbulkan gema yang hebat di kalangan ilmiah gereja, sebab sarjana-sarjana patristik telah mengetahui keberadaan apa yang disebut “Ajaran Rasul-rasul”, namun mereka tidak pernah menemukan satu pun petunjuk tentangnya sampai penemuan tersebut.

Penemuan Naskah yang Memuat Didache

Pada tahun 1873, Philotheos Bryennios, Direktur Sekolah Tinggi Teologi Yunani di Konstantinopel, yang kemudian menjadi Metropolit kota Nikomedia, menemukan sebuah manuskrip di perpustakaan DiyorAl-Qabr AI-Muqaddas (Monasteryof theMostHolySepulchre) di Konstantinopel (Istambul), yang berada dalam pengawasan Patriarkhal Yerusalem Bizantium Ortodoks, yang berisi beberapa naskah klasik yang sangat penting. Manuskrip itu lalu dipindahkan dari Yerusalem ke Istambul pada tahun 1680, lalu dipindahkan lagi ke Perpustakaan Patriarkhal Romawi Ortodoks, dan diberi nomor 54. Karena itu, di kalangan ilmiah, manuskrip, tersebut populer dengan nama “ManuskripYerusalem” (Jerusalem Codex) dan dalam bahasa Latin disebut Hierosolymitanus: 54.

 

Manuskrip yang baru ditemukan itu mendapatkan perhatian yang luar biasa dari kalangan ilmiah. Ia menjelaskan banyak segi yang samar samar tentang sejarah awal kehidupan gereja, sehingga ia pantas di perhatikan sedemikian rupa oleh para ahli liturgis dan para bapa Manuskrip ini disalin satu orang penyalin saja, yang bernama Leon An­Nasikh AI-Khati’ (the notary and sinner: si penyalin yang banyak dosa), tertanggal dengan kalenderYunani tahun 6564, sama dengan 1056 Masehi, atau kurang lebih pertengahan abad 11.

 

Isi Manuskrip Yerusalem

 

Manuskrip ini terdiri dari 120 lembar (240 halaman), terbagi-bagi sebagai berikut:

 

1. Lembar 1-32: Sinopsis Kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru oleh St. Yohanes Dzahabi AI-Famm (Synopsis of the Old and New Testaments, by St. Chrysostom). Bagian ini memberikan kita bagian­bagian Sinopsis yang belum pernah dipublikasikan dan materi kesusastraan untuk kajian kritis terhadap teks-teks perkataan-perkataan para bapa.

 

2. Lembar 33-51a: Surat Bamabas (The Epistle of Bamabas). Bagian ini memberikan kita teks Yunani Surat Barnabas, dan memungkinkan kita mengkaji kembali teks Surat tersebut secara lebih teliti.

3. Lembar 51 a-76a: Dua Surat St. Clement dari Romawi kepada Jemaat di Korintus (The two Epistles of Clement to the Corinthians). Kedua surat ini sangat penting, karena ia menggenapi teks kedua surat tersebut, karena seperlima surat kedua sebelumnya tidak diketahui, selain ia juga dapat menguatkan nilai kajian kritis terhadap teks tersebut.

4. Lembar 766-80: Ajaran 12 Rasul (The Teaching of the Twelve Apostles). Inilah bagian yang telah kami paparkan.

5. Lembar 81-82a: Surat Maryam Cassoboli kepada Ignatius (The Epistle of Mary of Cassoboli to Ignatius).

6. Lembar 826-120a: Dua belas risalah karya St. Ignatius Sang Martir (Twelve Epistles of Ignatius).

Dua bagian terakhir (bagian 5 dan 6) berkaitan dengan Literatur Ignatius, yang memungkinkan kita untuk membaca kembali sebuah karya yang telah dihasilkan oleh peneliti Jerman, Funk,97] pada tahun 1881, dan oleh peneliti Inggris, Father Lightfoot, di London, pada tahun 1885.98]

Publikasi Manuskrip yang Ditemukan

Pada tahun 1876, atau dua tahun setelah ditemukannya Manuskrip Yerusalem, yang disebut oleh Bryennios dengan “Jerosalem Codex”, Metropolit Philotheos Bryennios mempublikasikan Dua Surat Clement dengan disertai pengantar dan catatan-catatan, di Jerman, ketika ia berada di Institut Katolik yang lama di kota Bonn. Para sarjana patristik menyambut baik karya tersebut, yang menunjukkan ketelitian dan keahliannya yang tinggi dalam penyuntingan teks, berkat studinya pada para tetua ahli di Madrasah Jerman.

Metropolit Bryennios menyebutkan bagian-bagian lain dari manuskrip itu di dalam karyanya tersebut, dan apa yang disinggungnya tentang Ajaran Dua Belas Rasul segera memicu perhatian para peneliti, di antaranya Lightfoot dan lain-lain.

 

halaman : 325-326-327


96 Cf. P. ]. Quasten, lnitiation auz Peres de I’Eglise, Trad. De I’anglais par J. Laporte, I,1955, hlm. 37.

97 Opera, II, Tubingen,1881.

98 Epistles of St. Ignatius, London and Cambridge, 1885.

 

RAHASIA PENEMUAN MANUSKRIP INJIL DIDACHE
hal. 328-329-330-331-332

Bryennios juga menerbitkan bagian-bagian lain dari manuskrip yang ditemukan itu bagi para peneliti Jerman

Pada akhir tahun 1883, para archbishop (uskup besar) telah mempublikasikan di Konstantinopel leks “Ajaran Dua Belas Rasul” (Didache), disertai dengan pendahuluan dan catatan-catatan kaki.

Pada pendahuluan buku baru itu Bryennios menyebutkan bahwa Ajaran Dua Belas Rasul itu baru pertama kalinya diterbitkan, bersama dengan beberapa pendahuluan dan analisa terhadap Ringkasan Perjanjian Lama karya St. Yohanes Si Mulut Emas, di samping bagian lain manuskrip itu yang belum pemah diterbitkan.

Tak lama setelah publikasi Manuskrip tersebut, pada bulan Januan 1884, satu buah naskah Didache yang dipublikasikan oleh Bryennios sampai ke Jerman, lalu segera diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan dipublikasikan pada tanggal3 Februari pada tahun yang sama. Setelah itu, naskah itu segera diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam bahasa Inggris, dan dipublikasikan di Amerika pada tangga128 Februari 1884, atau pada bulan dan tahun yang sama dengan munculnya terjemahan dalam bahasaJerman. Pada bulan Mei 1884, sebelum berakhimya tahun tersebut, dipublikasikan teks Didache dalam bahasa [nggris terjemahan langsung dari bahasa Yunani oleh pimpinan para diakon (archdiacon) yang bernama Farrar. Sepanjang tahun itu, Didache telah menjadi buah bibir dan dibahas dalam pelbagai artikel. Tak kurang dari lima puluh judul di dalam pelbagai koran dan majalah di Eropa Barat dan Amerika membahas kejadian terpenting tahun itu, yaitu ditemukannya “Ajaran Dua Belas Rasul”. Shaff menyebutkan judul-judul artikel tersebut dalam karyanya Tarikh AI-Kanisah AI-Mosihiyyah (Sejarah Gereja Masehi).

Judul Manuskrip

Manuskrip Yerusalem memiliki beberapa judul. Judul pertama ringkas, dan judul kedua lebih panjang. Judul pertama adalah “Ajaran Dua Belas Rasul”, sedangkan judul yang lebih panjang yang terletak segera setelahnya adalah “Ajaran Tuhan Kepada Bangsa-bangsa melalui Dua Belas Rasul.”

Bryennios dan Harnak, dua orang yano pertama kali mempublikasikan teks Didache, berpendapat bahwa judul pertama yang ringkas tak lain dari ringkasan judul kedua yang panjang. Tapi mereka berbeda pendapat dalam masalah substansi judul yang panjang. Bryennios, diikuti oleh Schaff, berpendapat bahwa judul itu hanya berlaku pada lima bagian pertama Didache, yaitu bagian-bagian yang dikirimkan kepada bangsa­bangsa yang menerima Risalah Injil. Sedangkan Hamack berpendapat, judul yang panjang99] adalah judul yang berlaku pada seluruh kitab Didache, karena seluruh teks buku ini merupakan ajaran bagi orang-orang yang menerima Tuhan.100] Meskipun mereka tidak sepakat tentang kandungan makna judul yang panjang tersebut, tetapi Jean-Paul Audet101] berpendapat bahwa judul “Ajaran-ajaran Para Rasul” adalahjudul asli teks Didache, yaitu teks yang sampai kepada kita dari Manuskrip Yerusalem. Dalam hal ini, mungkin Audet bersandar kepada judul yang sama yang disebutkan oleh Eusebius dari Caesarea dalam karyanya TorikhAl-Konisah. Tetapi, kita tidak boleh mengabaikan analisa lain, bahwa judul ringkas Didache muncul dalam terjemahan Latin dalam bentuk tunggal, yaitu “Ajaran Para Rasul” (Doctrina Apostolorum), bukan dalam bentuk jamak, sebagaimana yang dikatakan oleh Audet.

Judul yang panjang itu tampaknya muncul sebagai pengagungan dan penjelasan tambahan bagi judul yang ringkas. Tapi perlu diperhatikan bahwa keberadaan kata “Tuhan” di dalam judul yang panjang itu mem­buktikan bahwa ia merupakan penambahan terhadapjudul tersebut yang masuk belakangan, dan pada waktu yang sama sesuai dengan bagian Evangelis yang terdapat dalam bagian pertama teks Didache, yaitu bagian yang menjelaskan tentang “DuaJalan”, (1:3-2:1) di samping isyarattentang “Injil Tuhan” (lihat 8:2,15:4, 9:3,11:3,15:3), yaitu pada bagian liturgis dan pengajaran di dalam Didache. tampaknya tambahan itu muncul pada periode belakangan dalam penulisan karya sastra tersebut, sehingga jelaslah bahwa judul yang panjang mengiringi penambahan-penambahan terhadap teks asli yang terjadi belakangan.

Dari sisi yang lain, judul yang penjang tak ubahnye resonerui derl ajaran AI-Masih kepada para Rasul yang kudus pada akhir Injil St. Matius (28: 19), “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid saya.” Analisa ini menjelaskan mengapa judul tersebut muncul belakangan daripada teks Didache dalam bentuk asli, yang boleh jadi belum mengetahui keberadaan St. Matius.

Sementara itu, Riddle102] berpendapat bahwa judul yang panjang adalah judul asli Didache, sedangkan judul yang pendek merupakan ringkasan yang sering digunakan untuk menyebut Didache, dan tidak memiliki kaitan dengan apa yang ada dalam Kisah Para Rasul (2:42) dalam istilah “Pengajaran para rasul”, yaitu, “Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul, dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

Sedangkan kata “bangsa-bangsa” yang terdapat di dalam judul yang panjang, menurut banyak peneliti, seperti Bryennios, menunjukkan bahwa pengarang Didache adalah seorang Masehi keturunan Yahudi. Akan tetapl, penelifi-peneliti lain, seperti Brown, menolak hal itu.

Karakter Bahasa Didache

Bahasa Didache menunjukkan pada periode peralihan dari safar safar Perjanjian Baru kepada bahasa gereja Yunani yang langsung mengikuti safar-safar kanonik. Kutipan-kutipan dari safar-safar tersebut menyerupai kutipan-kutipan yang ada di dalam surat-surat para rasul, Didache mengutip kebanyakan materinya dari Injil St. Matius daripada Injil lain, khususnya pada pasal-pasal 5-8, yaitu khutbah AI-Masih di bukit. Meskipun demikian, materi khutbah AI-Masih di bukit yang terdapat dl dalam lnjil tetap lebih banyak daripada yang terdapat didalam Didache.

Beberapa bagian Didache menunjukkan bahwa pengarang cukup mengetahui Injil St. Lukas. Selain itu, di dalam Didache terdapat beberapa istilah dan konsep yang memiliki bandingannya di dalam Injil Yohanes. Bahkan, di dalam Didache terdapat beberapa hal yang mendorong kami unluk menylmpulkan bahwa pengarangnya mengetahui sejumlah surat Rasul Paulus, terutama Surat Paulus kepada Jemaat di Roma dan kepada Jemaat di Korintus, juga Dua Surat St. Petrus. 103] Kecuali pada bagian tersebut, pengarang Didache jarang mengisyaratkan kepada safar-safar yang lain di dalam Perjanjian Baru. Dan jelas sekali, pengarang Didache tidak mengetahui kitab-kitab hukum kita.

Otentisitas Teks Didache

Yang kami maksud dengan otentisitas adalah kajian tentang kesesuaian substansial (substantial identity) antara Manuskrip Yerusalem yang ditemukan baru-baru ini dengan karya yang dikenal dan disebut oleh para penulis Kristen awal sebagai “Ajaran Rasul-rasul” (De Doctrino Apostolorum: Teachings of the Apostles), atau judul lain yang serupa.

Tak dapat diragukan, teks itu berasal dari zaman Apostolik. Bukti­bukti internal teks tersebut menegaskan hal itu. Pada sisi lain, tidak ada alasan untuk meragukan umur naskah itu, atau kesesuaiannya dengan edisi yang diterbitkan oleh Bryennios.

Clement dari Aleksandaria (M. 216 M. ) menegaskan keberadaan naskah tersebut, bukan saja karena dia banyak mengutipnya, tetapi juga karena dia menyebutkan di dalam bukunya Stromata teks yang terdapat di dalam Didache, 3: 5 secara harfiah, yaitu, “Anakku, janganlah kamu berdusta, karena dusta membawa kepada pencurian,” dan menisbahkan teks tersebut kepada Al-Kitab Al-Muqaddas.

Eusebius dari Caesarea (M. 340 M. ), pada paragrafnya yang terkenal di dalam bukunya Tarikh Al-Kanisah, yang mengkaji kitab-kitab Perjanjian Baru yang kanonik, menyebut Ajaran-ajaran Rasul-rasul sebagai salah satu karya yang tidak legal (spurious works). Bentuk jamak (Ajaran-ajaran) yang dipakai oleh Eusebius dalam menyebut judul karya ini, tidak mengalihkan perujukannya dari naskah yang sedang kita bicarakan, karena Athanasius (M. 373 M.) dengan jelas mengisyaratkan kepada naskah ini dengan menggunakan bentuk tunggal (Ajaran), dalam perkataannya, “Ajaran yang

disebut dengan Ajaran Rasul-rasul.” Setelah menyebutkan kitab-kltab suci yang diakui oleh gereja sebagel kitab-kitab kanonik, Athanasius mengatakan, “Selain kitab-kitab tersebut, ada kitab-kitab lain yang tidak diakui sebagai kitab kanonik (tidak diakui sebagai kitab-kitab suci). Para bapa berpendapat bahwa kitab-kitab itu dapat dibaca oleh orang-orang yang ingin mencari pengetahuan dan ketakwaan. Kitab-kitab itu adalah, Hikmah Sulaiman, Hikmah Ibn Sirach, Ester, Yehodit, Thopia, dan Ajaran yang disebut dengan Ajaran Rasul-rasul dan Gembala.” Sebab, hingga zaman Paus Athanasius Apostolis, gereja belum mengakui kekanonan kitab-kitab tersebut, dan baru diakui belakangan, serta disebut sebagai kitab-kitab kanonik kedua.

 

Rufinus (M. 410 M. ), di dalam karyanya, Tarikh Al-Kanisah, mengulas sebuah karya yang ringkas, yang disebut `Dua Jalan’. Uraiannya memberikan kita data yang sangat penting untuk kajian kritis terhadap Didache.

 

Peneliti lain yang telah mengulas Didache adalah Nicephorus (M. 828 M.), atau dua ratus tahun setelah Leon the Notary and Sinner menulis naskah yang diketemukan itu.

 

St. Irenaeus (M. 202 M. ) dan St. Clement dari Aleksandria (M. 216 M.) melontarkan ungkapan-ungkapan yang menunjukkan mereka berdua mengetahui Didache.

 

Dengan demikian, kami menyimpulkan manuskrip yang ditemukan ini sebenarnya merupakan karya yang diulas baik oleh Eusebius dari Caesarea maupun Athanasius Apostolis.

 


96 Cf. P. ]. Quasten, lnitiation auz Peres de I’Eglise, Trad. De I’anglais par J. Laporte, I,1955, hlm. 37.

97 Opera, II, Tubingen,1881.

98 Epistles of St. Ignatius, London and Cambridge, 1885.
99
. Cf.A.N.F.,vo1.7,h.337.
100. S.C. vol. 245, h, 13,14.
101. Penulis buku
La Didarhe: Instructions des apotres (Paris: J. Gabalda, 7958).
102
A.N.F., Vo1. 7, h. 377.
103.Lihat bagian-bagian; 1: 2-5, 2: 2 dan 3, 5: 1 dan 2, 7: 1 dan 3, 8: 7,10: 5 dan 6,11: 7,12: 1, 13: 1,16:1,5,6,dan8.

 

Waktu dan Tempat Penulisan Didache

 

Melalui kajian yang mendalam terhadap teks-teks Didache untuk mengetahui waktu penulisannya, peneliti-peneliti modem memastikan bahwa Didache ditulis pada abad pertama Masehi.104] Berdasarkan apa yang telah kami paparkan pada bagian otentisitas teks Didache, menurut kami, waktu penulisannya tidak mungkin melewati seperempat pertama abad k¢dua Masehi, dan apabila telah terbukti bahwa Didache lebih tua daripada Surat Bamabas, maka ia tidak mungkin ditulis setelah tahun 120 M.

Teks-teks Didache secara intemal menunjukkan waktu penulisannya.

1. Struktur bahasanya yang sederhana menunjukkan waktu penulisannya, yaitu periode yang langsung mengikuti masa Rasul-rasul, atau yang sekarang disebut sebagai periode apostolis. Sesungguhnya, kesederhanaan struktur bahasa juga merupakan fakta yang sangat penting dalam mengkaji legalitas kitab-kitab Perjanjian Baru.

 

2. Belum berkembangnya konsep agama Kristen di dalam teks Didache merupakan akibat yang wajar dari belum berkembangnya heretisme pada masa itu. Itulah yang ditegaskan oleh gaya bahasa naskah Didache. Agama Kristen pada awalnya adalah pandangan hidup yang menjadi dasar bagi ajaran-ajaran para rasul, dan semakin luas agama Kristen itu berkembang, semakin besar pula perjuangan orang-orang Kristen melawan heretisme yang mereka hadapi.

 

3. Aturan gereja yang dikemukakan oleh Didache belum serumit yang dikemukakan oleh Surat-surat St. Ignatius, karena di dalam Didache disebutkan guru-guru yang berkeliling, yang disebut Didache sebagai Rasul-rasul dan Nabi-nabi (pasal 10), dan keberadaan mereka tidak diakui lagi oleh gereja setelah pertengahan kedua abad kedua Masehi, atau bahkan setelah seperempat pertama kedua Masehi.

Dengan demikian jelas bahwa sejarah Didache lebih tua daripada sejarah Surat-surat Ignatius.

Didache ditulis untuk jemaat Kristen yang tumbuh di beberapa perkumpulan lokal yang sekarang tidak dapat kita ketahui lagi. Belum berkembangnya format ajaran-ajaran yang ada di dalam naskah ini membuat kami yakin bahwa karya sastra ini, dalam bentuknya yang terakhir, telah ditulis pada akhir-akhir abad pertama Masehi. Naskah ini tidak mungkin ditulis pada masa hidup Rasul-rasul yang kudus. Selain itu, di dalam pasa116 naskah ini tidak ada petunjuk apa pun tentang peristiwa hancurnya Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Karena itu, jika ia ditulis seorang Kristen Yahudi, seperti dikatakan FX. Funk, sebagai kemungkinan yang paling mendekati kenyataan, maka tidak disebutkannya peristiwa tersebut berimplikasi adanya interval satu generasi, sehingga kita dapat membatasi periode penulisannya antara tahun 80-100 Masehi.

 

Posisi naskah ini di dalam Manuskrip Yerusalem adalah setelah Surat­surat Clementdari Romawi (The two Epistles of Clement to the Corinthians) dan sebelum Surat-surat Ignatius (Twelue Epistles of Ignatius). Itu boleh jadi menandai urutan kronologis karya-karya tersebut. Selain itu, gaya bahasanya yang sangat sederhana nyaris memastikan pendapat bahwa masa hidup penulisnya sangatberdekatan dengan masa hidup Rasul-rasul.

 

Bryennios dan Harnack menentukan waktu penulisan Didache antara tahun 120 sampai 160 Masehi. Mereka mengatakan bahwa Surat Barnabas dan “Kitab Ar-Ra’i” karya Hermas ( “Shepherd of Hermas” ) lebih dulu ditulis daripada Didache. Tetapi Funk, Schaff, Light foot, dan Don Capoli menyatakan bahwa yang ditulis lebih dahulu adalah Didache, yaitu pada akhir-akhir abad pertama Masehi, atau antara tahun 70-90 Masehi. Mereka membuktikan pendapat itu dengan kandungan pasal 7, 8, 10:1, dan 11: 3. Sedangkan Hilgenfeld menyatakan, waktu penulisan Didache adalah antara tahun 160-190 Masehi. Para peneliti Inggris dan Amerika pada umumnya menyatakan waktu penulisan Didache antara tahun 80­120 Masehi. Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa Didache ditulis pada akhir abad pertama Masehi atau awal abad kedua Masehi.

 

Para peneliti berbeda pendapat tentang tempat penulisan Didache. Kecenderungan untuk menyatakan bahwa penulisnya adalah seorang Kristen Yahudi tidak cukup untuk menunjukkan tempat penulisannya, apakah di Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, atau tempat-tempat lain. Kesesuaiannya dengan Surat Bamabas menguatkan pendapat bahwa ia ditulis di Mesir. Sebab doa penutup jamuan Ekaristi yang disebut Didache, “Karena engkaulah yang memiliki kekuatan dan kemuliaan sampai selama­lamanya,” hanya menyebut kata `kekuatan’ dan `kemuliaan’, dan doa yang seperti itu lebih populer di Mesir daripada di tempat-tempat lain.105]

 

Harnack, R. Glover, R.A. Kraft, dan Voobus dengan jelas menyata­kan bahwa Didache ditulis di Mesir.106] Kajian-kajian mereka menyatakan, berbeda dengan teks-teks Didache yang berbahasa Latin (“Doctrina Apostolorum”), Jerussalem Codex, Apostolic Constitutions, banyak bukti­bukti klasik di dalam kitab Didache memiliki akar Koptik atau Etiopia.

 

Tentang hal tersebut, kami menambahkan, doa penutup jamuan (Didache, 8: 2) sesuai dengan doa penutup jamuan yang terdapat di dalam terjemahan-terjemahan Koptik yang sangat klasik terhadap Injil Matius. Dari sisi lain, St. Clement dari Aleksandria107] menganggap Didache sebagai salah satu teks kanon. Hal ini menunjukkan bahwa karya ini telah beredar di Mesir di gereja-gereja klasiknya (Lihat juga Ar-Risalah AI-Fashihah: 29 karya Paus Athanasius Apostolis), selain Eusebius dari Caesarea menukil berita-berita Didache dengan bersandar kepada ajaran bapa-bapa gereja Aleksandria.

 

Akan tetapi, dari sisi lain, para peneliti seperti Adam, J.P Audet, Diet, Knopf, daa lain-lain menyatakan bahwa tempat penulisan Didache adalah Siria, dengan alasan kesesuaiannya dengan “Apostolic Constitutions”. Selain itu, kata `masehi’ yang terdapatpada pasal 4: 2 digunakan pertama kali di Antiokhia. Mereka mengatakan, pasal 11-13 juga menegaskan bahwa Didache ditulis di Siria, lebih khusus lagi di Siria Barat, di mana bahasa Yunani, yaitu bahasa yang digunakan untuk menulis Didache, dominan. Alasannya, perbuatan-perbuatan buruk yang disebutkan dalam bagian `dua jalan’ (Didache, 2: 2 dan 3: 4) dengan jelas menunjuk kepada masyarakat yang bercorak Hellenistik atau Yunani (Didache, 4:1). Dengan demikian, pertama-tama, Didache ditujukan kepada masyarakat pedesaan dari kalangan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan yang masuk ke dalam ajaran Kristen. Pasal 13 Didache juga menegaskan hal ini.

 

Tetapi, kita tidak dapat memastikan bahwa Didache berasal dari Antiokhia, atau ditulis di kota Antiokhia. Sebab, adat istiadat yang berasal dari St. Paulus dan St. Lukas – yang populer di Antiokhia – adalah adat istiadat yang berbeda dengan Didache. Hal ini menegaskan bahwa ia tidak berasal dari Antiokhia. Selain itu, St. lgnatius dari Antiokhia tidak mengenal Didache, karena ia tidak mengutip Didache sedikit pun di dalam surat­suratnya, yaitu surat-surat yang memperlihatkan aturan-aturan yang sangat berbeda dengan Didache.

 


104.S.C. Vo1.248, hlm. 96.

105.Dr. Asad Rustum,” Abaa’ AI-Kanisnh 1 AI-Abaa’ Ar-Rasuliyun raa AI-Manndlulan”, 1962, hlm. 55.

106. S.C. Vol. 248, hlm. 97.
107 Strom. 1, 20: 100: 4.

 

Adam, pada saat membuktikan bahwa Didache berasal dad Suria, mengatakan bahwa terjemahan Didache yang berbahasa Koptik berasal dari naskah berbahasa Suryani yang sudah hilang. Dia menambahkan, Didache beredar dan populer dengan cepat di Mesir seperti halnya banyak karya sastra lain di gereja Kristen pertama, seperti Injil St. Lukas, setelah teks Didache dalam bentuknya yang terakhir diubah agar sesuai dengan terjemahan Koptik dan Etiopia. Pengubahan itu dapat kita lihat dengan jelas pada pasal 9: 4, “Sebagaimana roti yang dipecah-pecah disebarkan di atas gunung, kemudian dikumpulkan sehingga menjadi satu, demikianlah disatukan gereja-Mu dari ujung bumi hingga Kerajaan-Mu.” Lafal ‘di atas gunung’ adalah pengubahan dan penambahan terhadap teks asli Didache.

Demikianlah, Didache menjadi objek pertentangan para peneliti, sebagian menyatakan ia ditulis di Mesir, sebagian lain menyatakan ia ditulis di Siria. Di atas tumpukan kajian yang sangat banyak tersebut, yang dapat kita lakukan hanyalah membaca teks Didache secara cermat, untuk menangkap keindahan gereja pertama sebagai kelompok yang sederhana yang diikat oleh rasa kasih, sayang, dan harmoni, baik di Mesir maupun di Siria. Gereja pertama itu adalah sebuah gereja kudus apostolis, disatukan oleh satu ekaristi, tubuh AI-Masih bagi kehidupan abadi.

Sedangkan pendapat bahwa Didache ditulis di Palestina, ditolak oleh orang-orang menggarisbawahi tiadanya ajaran-ajaran St. Paulus di dalam Didache. Tetapi, jika benar Didache merupakan karya yang ditujukan kepada orang-orang yang belum dibaptis, maka itu cukup untuk menjelaskan tiadanya ajaran-ajaran St. Paulus di dalamnya.

Identitas Penulis

Semua usaha untuk menemukan identitas penulis Didache tidak berhasil, terutama karena kurangnya data tentang hal ini yang kita milikl sekarang. Asumsi yang paling mendekati kenyataan adalah ia ditulis oleh seorang Kristen Yahudi (Jewish Christian), atau paling tidak oleh orang Kristen yang berasal dari penganut agama Yahudi, karena ia menyebutkan makanan yang diharamkan Perjanjian Lama, yang tidak berubah sampai sekarang kecuali tentang keharaman makanan persembahan bagi berhala; Dan, karena ia mencela kemunafikan orang-orang Farisi, seolah-olah ia bergaul dan mengenal mereka.

Penulis mengarahkan bukunya kepada orang yang dia sebut anaknya, karena ia sering mengulang kata Wahai anakku.’ Dia juga menerangkan beberapa aktifitas gereja pertama yang didirikan orang­orang Kristen yang hidup pada awal abad kedua Masehi, terutama tata cara ibadah mereka. Karena itu, kita tidak dapat memandang naskah ini sebagai bukti yang pasti tentang iman gereja secara umum pada masa itu, apalagi Didache segera menghilang dari peredaran.

J.P Audet berpendapat bahwa penulis ini mungkin sama dengan penulis L.e Vademacum bagi salah seorang Rasul yang berkeliling di gereja pertama.108]

Bagaimanapun keadaannya, Rasul yang berkeliling ini telah melakukan dengan cermat ajaran tentang Rasul-rasul yang berkeliling yang terdapat di dalam Didache pasal l l : 3-6.

 

Akan tetapi, kajian-kajian modem tidak menyetujui pendapat Audet.

Bahwa penulis Didache adalah lebih dari satu orang, atau lebih dari satu penulis yang menulis buku itu dalam dua periode: Pertama, menulis pasal 1: 1 sampai pasal 11: 2; Kedua, menulis pasal 11: 3 sampai 16: 8. Alasannya, Didache pasal l 1-13 tidak mungkin ditulis orang yang menulis pasal 1415. Dengan demikian, kita tidak dapat menisbahkan semua pasal Didache pada satu orang penulis.

Penerima Didache

Bagian pertama teks Didache – yaitu bagian tentang akhlak – mengisyaratkan pada seorang guruyang memberikan nasehat kepada anak atau muridnya. Sementara bab 4: 2 yang menyatakan, “Berusahalah setiap hari untuk bertemu dengan orang-orang kudus supaya kamu terhibur oleh kata-kata mereka,” menunjukkan adanya jemaat Kristen yang di dalamnya terdapat orang-orang kudus yang ketakwaannya populer di kalangan mereka. Selain membedakan antara guru yang memberi nasehat dengan murid yang mendengarkannya, bagian ini juga menunjukkan adanya jemaat Kristen yang berdomisili pada satu tempat dalam waktu yang cukup lama yang memungkinkan munculnya generasi orang tua dan generasi anak-anak. Tetapi, awal pasal 7 memperlihatkan bahwa kitab Didache adalah Surat yang ditujukan kepada sekelompok jemaat yang pada awalnya belum memiliki aturan gereja tertentu. Fungsi-fungsi liturgis jemaat itu belum dilakukan oleh abdi-abdi gereja yang tetap. Itulah yang kita lihat pada pasal 15, di mana untuk pertama kali muncul tingkatan uskup dan diakon, yang secara perlahan-lahan menempati posisi Rasul-rasul, pengabar-pengabar gembira, dan Nabi-nabi yang berpindah-pindah dan tidak menetap di satu tempat; untuk memikui tugas-tugas tersebut pada periode awal sejarah gereja.

 

Jika bagian pertama Didache sangat terpengaruh oleh ajaran Yahudi, maka istilah `uskup’ dan `diakon’ (pasal 15:1) menegaskan bahwa jemaat yang dikirimi karya sastra ini adalah orang-orang mukmin yang sebelumnya tidak mengenal Tuhan, sebab jika kita menemukan istilah uskup dan diakon pada masa apostolis – tanpa menyebut istilah tetua – maka itu menunjukkan kita sedang berhadapan dengan jemaat Masehi yang terbentuk dari bangsa-bangsa non-Yahudi atau bangsa yang tidak mengenal Tuhan.

 

Dengan demikian, jelas bahwa Didache dikirimkan kepada jemaat Kristen yang berasal dari bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Hal ini tidak menghalangi kemungkinan pasal 7-16 mengisyaratkan kepada penulis Kristen Yahudi, sebab terlalu berlebihan bila kita mengatakan bahwa awal pasal 8:1 dan 2 memperlihatkan karakter yang tidak dimiliki oleh penulis Kristen Yahudi.

 

Selain itu, kami nyatakan di sini bahwa pasa116 yang menjelaskan penantian terhadap kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya di kalangan jemaat yang dikirimi Didache itu, mengungkapkan adat istiadat Yahudi yang telah baku dan tertanam di dalam gereja Kristen pertama.

 

Ringkasnya, menurut kami, Didache adalah teks yang menghimpun adat istiadat yang saling bertentangan yang diberikan formula baru pada masa tertentu oleh penulis yang tidak kita ketahui yang sulit kita tentukan, tetapi memiliki kekuasaan yang kuat terhadap sekelompok jemaat Kristen yang mungkin berasal dari kalangan bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Karena itu, judul panjang Didache, yaitu “Ajaran Tuhan kepada Bangsa­bangsa.”, dengan tegas menjelaskan asumsi tersebut.

 

Andresen, seorang sarjana Jerman,109] membandingkan teks Didache 14: 3, “Karena Aku adalah raja yang agung, kata Tuhan, dan nama-Ku dihormati semua manusia,” dengan nubuat Malakhi 1: 11, “Sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman Tuhan semesta alam,” untuk menjelaskan judul panjang Didache seperti ini, “Ajaran Tuhan Melalui Dua Belas Rasul kepada Gereja Bangsa-bangsa.”

 

 


108 S.C. Vol. 248, hlm. 19.

109 S.C. Vol. 248, hlm. 19.

 

Tema-tema Utama Teks Didache

 

Didache tetap bukan merupakan teks karya sastra yang utuh dan lengkap sampai dia muncul di dalam Manuskrip Yerusalem. Sebagaimana telah kami sebutkan, teks ini memiliki beberapa bagian yang tidak sama panjangnya.

 

1. Bagian pengajaran dan akhlak yang menjadi pendahuluan buku, pada intinya adalah ajaran-ajaran tentang ‘dua jalan’, jalan kehidupan dan jalan kematian. Bagian ini dimuat dalam 6 pasal pertama, dimulai tanpa pendahuluan, dengan ungkapan berikut, “Terdapatduajalan, yaitu Jalan Kehidupan dan Jalan Kematian.” Jalan kehidupan dimuat dalam 4 pasal pertama di dalam karya sastra ini dalam bentuk terakhimya, sedangkan pasal 5 memuat pembicaraan tentang jalan kematian, dan pasal 6 kesimpulan ajaran tentang dua jalan itu, disertai peringatan, “Hati­hatilah kamu, jangan sampai ada orang yang menyesatkanmu dari ajaran ini, karena dengan begitu ia mengajarkan apa yang tidak berhubungan dengan Tuhan.”

 

`Dua jalari ini menunjukkan kesatuan enam pasal pertama Didache. Akan tetapi, sebenarnya, keenam pasal itu memuat unsur-unsur yang sangat bertentangan satu sama lain. Meskipun demikian, kita dapat mengatakan bahwa ajaran ini pada umumnya berkarakter sangat serupa, bahkan mungkin sangat sesuai, dengan ajaran sastra dan akhlak gereja pada periode-periode awalnya.

 

2. Bagian liturgis; Dimuat pada empat pasal berikutnya, dari pasal 7 sampai pasal 10. Bagian ini, dengan bahasa yang lebih pasti, berbicara tentang pembaptisan, puasa, doa harian, dan jamuan ekaristi. Dari kandungan bagian ini, jelas bahwa keutuhan penulisannya tidak dapat dipastikan.

3. Setelah peralihan yang tampak sebagai sinopsis awal bagi apa yang telah disebutkan (pasal l l : 1 dan 2), bagian aturan dimuat dalam lima pasal, dari pasal 11 sampai pasal 15. Di dalam pasal-pasal itu teks Didache menetapkan jenis penerimaan terhadap Rasul-rasul, Nabi-nabi, dan pengganti-pengganti mereka, juga terhadap orang-orang Kristen yang datang dari luar kalangan jemaat. Bagian ini secara umum terlihat sebagai karya sastra yang struktur asasinya tidak utuh.

4. Di bagian terakhir, bagian eskatologi (tentang Akhirat), yang menutup buku dan dimuat pada pasal 16, terdapat bagian yang hilang dari Manuskrip Yerusalem, yang menyulitkan kita untuk memberikan konsep yang teliti tentang teks asli.

***

Didache 16: 2 menyatakan, “Sering-seringlah kamu berkumpul untuk mempelajari hal-hal yang pantas bagi jiwa-jiwa kamu, karena iman kamu pada setiap zaman tidak akan berguna, jika pada saat yang terakhir kamu tidak menjadi orang-orang yang sempuma.” sesuai dengan Surat Bamabas 4: 9 dan 10, yaitu, “Waspadalah kamu pada hari-hari terakhir. Semua hari hidup kita dan iman kita tidak berguna sedikit pun, jika kita tidak melawan sebagai anak-anakTuhan, dengan perlawanan yang aktif, melawan zaman dosa dan rintangan yang menghadang ini, karena takut kegelapan merasuk ke dalam diri kita. Hendaknya kita menjauhi kebatilan-kebatilan, dan membenci secara total perbuatan-perbuatan jalan yang jahat. Janganlah kamu memakai pakaian kesatuan, dan janganlah kamu menganggap diri­dirimu terbebas, tetapi berkumpullah bersama-sama untuk mempelajari yang berguna bagi orang banyak.”

 

St. Ignatius dari Antiokhia berkata, “Jika kamu memiliki iman yang sempuma dan kasih yang sempuma, maka kamu tidak akan tertipu oleh siapapun. Kedua kebajikan itu adalah awal dan akhir kehidupan. Iman adalah awal, dan kasih adalah akhir. Kesatuan dari keduanya adalah Tuhan. Semua kebajikan lain mengiringi manusia untuk mengantarkannya kepada Tuhan.” (Suratnya kepada jemaat di Efesos 14: 1)

 

Gambaran eskatologis tentang akhir dunia seperti terdapat dalam Didache 16: 3-8 pada umumnya memiliki corak materi tersendiri, yang lebih dalam daripada ajaran-ajaran terdahulu. Ajaran tentang akhir dunia, yang muncul sebagai pasal terakhir dalam Didache itu, sebagaimana di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, sangat menarik perhatian kita, kaitannya dengan penulis Didache yang ingin menutup bukunya dengan bagian eskatologis yang dasar-dasamya berasal dari unsur-unsur yang bercorak Perjanjian baru.

 

Prigent, B.C. Butler, dan Giet menetapkan bahwa pasa116 Didache ini secara langsung bersandar kepada pasal 24 Injil Matius. Sebaliknya, setelah kajian yang luas yang tidak meyakinkan kami, Willy Rordrop dan Andre Tuilier –penulis kajian tentang Didache di dalam Sources Chretiennes, 248 mengatakan, “Kami sepakatdengan G. Gloverbahwa Didache tidak mengambil teks apa pun dari Perjanjian Baru.110] Demikian juga halnya teks doa (resension) yang terdapat di dalam Didache 8: 2, yang oleh kedua sarjana tersebut dikatakan sangat mirip dengan teks Injil Matius 6: 9-13. Teks doa di dalam Didache berbeda dengan teks doa yang terdapat di dalam Injil.

 

Sampai di sini selesailah tulisan Pendeta Koptik. Kami telah menjelaskan di dalam bagian komentar bahwa Didache mirip dengan Injil Bamabas.

 

Sampai di sini selesailah buku ini. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat, salam, dan berkat bagi tuan kita, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, bagi keluarganya dan semua sahabatnya.

 

Buku ini selesai ditulis pada tanggal 15 Ramadhan 1423 di Kairo. Dan, buku ini selesai diterjemahkan pada malam Rabu tanggal 31 Juni 2004 M. bertepatan dengan 12 Jumadil Ula 1425 H. di Ciracas Serang Banten.[*]

 


110. S.C. Vol, 248, hlm. 83-91.

 


Orang-orang ini mendapat gelar “Black“ nobility karena ketidakpedulian mereka terhadap moral dan kepantasan perbuatannya. Mereka melakukan pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, perampokan, dan semua kejahatan penipuan lain yang cakupannya lebih luas lagi, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan-tujuannya. Mereka mempunyai segala kekayaan. Dan uang adalah kekuasaan.

Keluarga-keluarga yang paling kuat ada di Itali, Jerman, Swiss, Inggris, Belanda, dan Yunani. Akar mereka dapat dilihat dari penelusuran kembali pada oligarki Venesia, yang mana merupakan keturunan Khazars, dan menikah dengan sesama mereka kemudian menjadi keluarga kerajaan pada awal abad ke12.

(Setelah kemenangan besar Khazars terhadap Arab, Raja masa depan, Constantine V, menikahi anak perempuan raja Khazars dan anak mereka menjadi Emperor Leo IV, juga dikenal sebagai “Leo the Khazars”. Para Paus, seperti Medici, dan Pius XII (Eugenio Pacelli) adalah orang Khazars, seperti Paus yang sekarang, John Paul II. Tidak semua Black Nobility mempunyai royal houses, banyak keluarga royal sekarang tidak mempunyai kerajaan. Menurut peneliti dan penulis Dr. John Coleman, mereka membentuk “Committee of 300” pada awal abad ke 18, “meskipun tidak muncul sampai kira-kira tahun 1897”, (ketika perdagangan opium China dilegalkan)

Bukti dokumenter keberadaan Committee of 300 belum ada, dan hanya frase yang nyaman untuk menggambarkan pemain utama di dalamnya. Politisi sosialis dan penasihat keuangan the Rothschilds, Walter Rathenau, tulisannya dalam Wiener Press (24 Desember 1921) menyatakan,

“Hanya 300 orang, setiap orang mengetahui siapa saja yang harus memerintah dan menentukan nasib Eropa. Mereka memilih hanya orang-orang seperkumpulannya saja sebagai perwakilan dalam pemerintahan. Orang-orang ini mempunyai sarana untuk menghancurkan suatu bentuk negara yang mana tidak berpihak pada mereka”

Tepatnya setelah 6 bulan dipublikasikan, Rathenau dibunuh.

Tulisan Dr. Coleman membuka jalan untuk mempelajari lebih lanjut pada nama-nama anggota ruling elite yang telah disebutkannya, khususnya di Amerika. Di mana bangsa Inggris punya sejarah panjang dan sangat awas dalam hal keturunan, keluarga-keluarga berdarah biru tertentu di Amerika Serikat yang mempunyai keterkaitan sejarah dengan Inggris melalui darah dan uang.

Keluarga-keluarga “kerajaan” ini yang berada dibelakang gerakan-gerakan peduli lingkungan yang sebenarnya bertujuan untuk menghentikan pertumbuhan penduduk dunia. Pangeran Philip dan Pangeran Charles adalah simbol yang paling dapat dilihat dalam gerakan ini, dan merupakan bagaian yang nyata dari konspirasi ini untuk menghancurkan industri dan mengembalikan dunia ke jaman kegelapan baru.

Kebanyakan mereka, meskipun tidak semua, baik yang bertahta ataupun tidak dari dinasti ini menikmati pendapatan yang besar dari sewa tanah. Semua usaha Global 2000 Report kepada President yaitu untuk menghancurkan kemajuan industri, dengan kelaparan, penyakit dan perang, mengurangi kepadatan penduduk yang mana industri mendukungnya. Mereka semua menentang tenaga nuklir yang dapat menghasilkan energi listrik murah , kunci kemajuan ekonomi dan kesejahteraan di Dunia Ketiga. Mereka sangat berkeinginan untuk mengembalikan kepada sistem feodal di mana mereka sebagai kepala pemerintahannya.

Meskipun memeluk agama Kristen, keluarga-keluarga oligarki the black nobility ini, untuk bagian yang lebih besar dari agama ini, sebenarnya tidak mengakuinya secara rahasia. Masonry memenuhi kebutuhan mereka sebagai agama. Dan tanpa keimanan, mereka tidak mempercayai akan adanya akhirat dan adanya punishment and reward. Mereka hanya hidup untuk masa sekarang (dunia)

Banyak dari oligarki ini yang melakukan perdagangan senjata dan obat-obatan terlarang melalui perantara yang jauh (seperti banyaknya bank-bank besar).

Pada 1815 Jesuit dan Freemasonry saling bersekutu dengan para pemegang tahta Eropa lalu mengadakan Kongres Vienna, di mana netralitas Swiss (sudah diberikan sanksinya sebagai negara netral oleh the Peace of Westphalia pada tahun 1648) selamanya dijamin; dan biarpun banyaknya perang yang dilaksanakan di mana manusia harus berperang, uang para Nobility di Swiss selalu bebas dari penjarahan. Ini adalah bagian dari rancana jangka panjang yang hati-hati Rothschild, dan kenapa Swiss masih ada sampai saat ini. Tetapi ini tidak berarti uang anda akan aman. Sekitar 280 miliyar dollar per tahun in flight capital dan uang obat-obatan terlarang mengalir kedalam rekening Black Nobility.

Kedudukan Freemasonry dalam struktur kekuasaan para elit sangat jelas sebagaimana mereka menjalankannya melalui konspirasi Adam Weishaupt untuk membalas setelah para Jesuit dihancurkan pada tahun 1773 oleh Paus Clement XIV “mereka dianggap sebagai immoral dan jahat kepada gereja dan agama”. Dengan meluncurkan Revolusi Perancis dan mengatur petualangan Katholik Eropa Napoleon, dan pemberontakan atas gereja di Meksiko dan Amerika Latin, mereka memutus pendapatan Vatikan.

Pembiayaan Nathan Rothschild pada Inggris raya menghasilkan kekalahan Napoleon sebagai musuh Roma, (sebagaimana juga menjadi sumber kekayaan dan pengaruhnya). Semenjak Gregory XVI memberikan jabatan kepausan pada Kalman Rothschild karena telah meminjamkan Vatikan 5 juta pounds pada masa sura, Rothschilds telah menjadi agen fiskal Vatikan. Dengan penguasaan Vatikan ini, Rothschilds memperluas kekuasaan finansial dan politiknya di Amerika Serikat. Kepentingan-kepentingan Vatikan di AS secara jelas terkuak dalam Treaty of Verona yang rahasia tahun 1822 antara Austria, Perancis, Prussia, dan Russia dimana the Jesuit Order pledged itself as the price of reinstatement to destroy “the works of Satan” it had established in setting-up, by revolution, representative governments such as the republics and “democracies” of France and the USA, replacing them with the only form of government approved by the church, rule by “divine right”, as declared by the Vatican (Daniel 2:42-43; Revelation 17:12-13).

Sebagaimana yang dinyatakan Robert Owen kepada Senat AS pada tahun 1916, target utama yang mana Vatikan dan “Holy Alliance” mengatur aktivitas Society of Jesus yang destruktif dan subversif, adalah AS, dan negara-egara republik lain di Western Hemisphere. Rencana ini, dia menganggap, adalah target yang mana Doktrin Monroe dikeluarkan. Apa yang tidak disadari oleh Senator ialah bahwa Doktrine Monroe melindungi kepentingan-kepentingan Kota London”.

Usaha persekutuan Rothschild-Vatikan untuk menguasai perekonomian AS melalui Bank of United States kesatu dan kedua gagal. Bank tersebut dibentuk di bawah kekuasaan emergensi yang diberikan kepada Presiden oleh konstitusi, sebagaimana institusi sementara digunakan untuk membantu negara melalui periode krisis finansial yang disebabkan oleh Perang Revolusi 1812. Tetapi sasaran para konspirator untuk membentuk monopoli bank dihalangi oleh konstitusi. Sampai FED.

Dikatakan the Black Nobility menjanjikan Jerman yang netral jika Soviet Rusia diijinkan. Persatuan antara Jerman Barat dan Timur. Dan bahwa Rusia berjanji untuk memberikan royal houses kepada pemiliknya jika mereka memisahkan Eropa dari Aliansi Amerika.

Imperial Nobility menikmati status yang ditinggikan lebih dari pada nobility negara berhasil Jerman dan negara Itali. Keturunan gelar Kekaisaran Roma Italia telah membentuk sebuah Asosiasi yang mana semua keturunan pria dari seseorang yang mempunyai gelar menurut Imperial Patent diberikan juga gelarnya. Dan kerajaan Liechtenstein juga sudah mengklaim kemampuan untuk membenarkan keberhasilan menjadi gelar Imperial, dan sudar membenarkan pula hak sebagai Spanish noble man untuk mendapatkan gelar tersebut sebagai tujuan hukum Spanyol membutuhkan negara succeessor untuk membenarkan bahwa klaim untuk gelar yang dimaksud menurut fakta adalah keturunannya. Maka ada jurisdiksi tersisa, meskipun tidak ada gelar Imperial yang diberikan semenjak 1806.

Keluarga Rothschild

Pada tahun 1963, the Holy Roman Empire Association (associazione dei Nobili del Sacro Romano Impero) dibentuk untuk menyatukan keturunan-keturunan laki-laki dalam keanggotaannya yang mana diberikan gelar nobility of the Holy Roman Empire. Ini juga termasuk anggota-anggota honorary.

Black Nobility termasuk dalam Committee of 300 yang mana mempunyai kontrol terhadap UN. Pangeran Belanda Bernhard mempunyai kekuasaan untuk memveto pilihan Vatikan terhadap siapapun Paus yang dipilih Vatikan. Ini dapat menjelaskan akhir yang cepat bagi masa jabatan Paus John Paul I yang pada waktu itu hanya 33 hari. Pangeran ini mempunyai kekuasaan veto karena keluarganya, the Habsburgs, adalah turunan langsung dari kaisar Roma yang terakhir. (The Habsburg Frederick III adalah kaisar terakhir di Roma; anak buyutnya Charles V adalah yang terakhir ditahtakan oleh Paus). Ini adalah kesetaraan sipil dari Klaim Paus “apostolic Succession” dari Saint Peter.

Pangeran Bernhard adalah pemimpin Black Families dan dia juga mengklaim keturunan dari House of David melalui dinasti Merovingian, sebuah klaim yang diakui validitasnya oleh dinasti Carolingian yang telah menggantikannya. Oleh monarki yang lain dan oleh gereja Roma pada saat itu. Maka dia bisa berkata bahwa dia adalah keturunan Yesus.

House of Orange-nya Pangeran Bernhard mempunyai asal dari Perancis. The Habsburgs terhubung dengan pernikahannya dengan the Merovingians, yang mana dikatakan sebagai keturunan dari Tribe of Benjamin diasingkan setelah perang dengan sebelas Tribes yang lain – lihat Judges bab 21. Pengasingan membawa mereka ke Arcadia di Peloponnese tengah, Yunani. Di sini mereka menyatukan diri dengan garis royal Arcadia dan menuju kedatangan era Kristen, bermigrasi ke Danube dan Rhine, melalui perkawinan menghasilkan the Sicambrian Franks – asal muasal dari the Merovingians, yang mempunyai asal semit, dan keturunan dari Raja Saul.

Mereka sangat dekat dengan Spartan, dan kedua buku Maccabee menghubungkan Spartan dengan Yahudi. I Maccabees 12 menceritakan bahwa Jonathan mengirim sebuah surat kepada Lacedemonians (Spartan Yunani) meminta bantuan, karena mereka bersaudara. Spartan membalas,

“Telah ditemukan di dalam tulisan, bahwa Lacedemonians dan Yahudi adalah saudara dan bahwa mereka adalah keturunan Ibrahim” (Verse 21).

Ini diasumsikan oleh sebagian penulis bahwa ini berarti Spartan adalah orang-orang Israel, tetapi Spartan bukan Israelites mereka adalah Edomites keturunan dari Bela anak Beor dan saudara Baalim, dan Raja Edom (Genesis 36:32; I Chronicles 1:43). Edom adalah anak dari Isak dan cucu Ibrahim yang telah menjual segala warisan dan beranak pinak keluar dari the Book of Life.

Awal abad ke 5 the Merovingians membentuk negara bagi mereka yang sekarang disebut Belgia dan Perancis bagian utara. Di sana mereka menganut the Cabalistic pseudo-Christianity of the Catharsm, agama dualistik yang mempercayai ada dua tuhan abadi, god of Good dan the god of Evil. Ini menunjukan bahwa kepercayaan Luciferian ini dianut pula oleh Masons tingkat derajat tinggi dan mereka yang akan menjadi Master dunia ini pada jaman sekarang, dan yang mengklaim bahwa Lucifer akan muncul menjadi pemenang .

Di bawah Clovis I, yang berkuasa dari 481-511, the Franks menganut Roman Catholicism. Melalui dia, Roma mulai membangun supremasi yang kuat di Eropa bagian barat. Sebagai imbalan karena telah menjadi pedang Roma di mana gereja dapat menjalankan kekuasaannya dan menerapkan dominasi spiritual, Clovis diberi gelar “New Constantine” dan untuk menjalankan kekuasaan di “Holy Roman Empire” berdasar pada gereja dan diperintah pada level sekular dalam kelanggengan oleh keturunan Merovingian. Seperti “pengampunan David”, ini adalah pakta yang bisa di modifikasi, tetapi tidak bisa dibatalkan, dihapus atau dikhianati.

Mereka percaya Yesus selamat dari penyaliban dan menikahi Mary Magdalene yang melahirkan putranya lalu hidup secara diam-diam di selatan Perancis. Selama abad ke 5 keturunan Yesus ini dikatakan telah menikah dengan keturunan royal the Franks menghasilkan dinasti Merovingian.

Ketika pada tahun 496 gereja mengabdikan dirinya secara langgeng kepada keturunan Merovingian ini bisa dikatakan karena identitas mereka. Ini dapat menjelaskan kenapa Clovis ditawarkan status Kekaisaran Suci Roma, dan kenapa dia hanya ditahtakan sebagai raja. Pada 754 gereja secara diam-diam menghianati paktanya.

The Prieure de Sion adalah nama komunitas rahasia yang telah membuat the Knight Templars sebagai sayap militer dan pemerintahan. (perlu diingat bahwa Knight Templars adalah dulunya yang menjalankan kekuasaan di Freemasonry). Prieure de Sion terus berfungsi melalui abad, bertindak secara rahasia, dan membelakangi kejadian-kejadian penting di sejarah Barat.

Ia masih ada sekarang dan masih beroperasi. Tujuan mereka yang dideklarasikan ialah restorasi dinasti Merovingian dan keturunannya – kepada tahta atas tidak hanya Perancis, tetapi semua negara Eropa juga – restorasi yang dibenarkan secara legal dan moral.

Ada bukti kuat untuk menyarankan bahwa komunitas ini adalah pembentuk Freemasonry, dan “The Protocols of the Learned Elder of Sion”, juga the Rosicrucians. Ada banyak bukti juga yang mengatakan bahwa Nostradamus adalah salah satu agen rahasianya, dan tidak disangsikan lagi bahwa banyak quatrains-nya yang merujuk pada kemunculan “ le Grand Monarch” mengindikasikan bahwa keinginan utama yang berdaulat ini berasal dari dinasti Merovingian. Menandai hegemoni dobel dari Papacy dan kekaisaran, dari Vatikan dan Habsburg. Nostradamus secara sering merujuk secara eksplisit pada Knights Templars dan pada house of Lorraine yang mana sekarang sinonim dengan the Habsburgs.

Walaupun didepak dari kekuasaannya pada abad ke 8, keturunan Merovingian tidak punah. Sebaliknya keturunannya memunculkan diri kembali dalam keturunan Dagobert II dan anaknya Sigisbert IV. Dengan alat persekutuan dinasti dan perkawinan, keturunan ini termasuk Godfrei de Bouillon, yang merebut Jerusalem pada tahun 1099, dan berbagai keluarga royal dan noble yang lain, dulu dan sekarang – Blanchefort, Gisors, Saint-Clair (Sinclair di Inggris), Montesquieu, Montpezat, Poher, Luisignan, Plantard dan Habsburg-Lorraine. Pada masa sekarang, keturunan Merovingian menikmati klaim sah terhadap peninggalannya.

Tahta Charlemagne – sebuah replika dari yang mana sekarang bagian dari tanda imperial Habsburg – dikatakan telah membawa prasasti “Rex Salomon” (encylopaedia Britannica, 14th Ed., 1972, Crown and Regalia, Fig 2). Dan the “Spear of Destiny”, yang dikatakan digunakan untuk menusuk Kristus, sekarang berada di Treasure House, Viena, menanti Holy Roman Emperor yang lain (The Rigby Joy of Knowledge Library. History and Culture I, 1977:160; The Holy Roman Empire, Friedrich Heer, halaman. 284). Ini jelas kenapa “Protocols of the Elders of Sion” berbicara tentang seorang raja baru “dari bibit Suci David”, (Holy Blood and Holy Grail, Baigent, Leigh and Lincoln). Otto von Habsburg sekarang bergelar Duke of Lorraine dan King of Jerusalem.

The Prieure de Sion mengklaim memegang harta yang hilang dari Kuil Jerusalem yang dirampok oleh Titus di tahun 70 AD yang akan dikembalikan ke Israel “pada waktu yang tepat”. Ini dapat menjelaskan kenapa Roma harus tunduk pada “raj-raja dunia” dan bagaimana Roma akan menandatangani kontrak dengan Yahudi yang telah lama bersembunyi di balik tameng baptisme.

Pangeran Bernhard sebenarnya terikat dengan Khazar, dan maka dari itu Gentile (orang bukan Yahudi). Revelation 2:9, “ Saya tahu pekerjaan mu, dan kesengsaraan, dan kelaparan, (tetapi kamu kaya) dan Saya tahu penyimpangan mereka yang mengatakan mereka Yahudi, dan ternyata tidak, namun adalah penyembahan terhadap Setan.”

Diantu oleh CIA, Pangeran Bernhard telah membawa badan Illuminati rahasia kepada pengetahuan publik sebagai The Bilderberge Group. (dibentuk pada tahun 1954, markasnya di Smidswater 1, Den Haag, Belanda). Di dalam Bilderberg Group adalah 39 anggota Illuminati yang dipilih dari 3 komite diambil dari anggota-anggota semua group rahasia yang terdiri dari Illuminati:

• The Freemasons

• The Vatican

• The Black Nobility

Kantor kerja komite ini ada di Swiss.

The Commitee of 300 sekarang menyebut diri mereka World Government Founders untuk NWO. Sebuah referensi yang tidak dapat disangkal lagi klaim secara turun temurun pada “Divine Right of Kings”. Ini penting sekali bagi kita untuk menyadarinya secara pribadi, the Black Nobility menolak untuk mengakui pemerintah mana pun kecuali yang merupakan keturunan mereka dan mempunyai hak divine untuk memerintah. Mereka percaya Amerika Serikat masih milik Inggris. Dan bekerja keras di belakang layar untuk mencapai kondisi dimana mereka dapat mendapatkan kembali tahtanya.

Setiap dinasti royal dan noble Eropa lalu dan sekarang mempunyai keanggotaan di Commitee of 300, seringnya oleh orang-orang yang dinominasikan. Ada banyak sekali keluarga-keluarga “royal” ini untuk mereka masing-masing untuk menjadi perwakilan di the Commitee of 300. Perintah ditentukan oleh kedudukan : pertama anggota-anggota keluarga royal, lalu dukes, earls, marquises dan lords, lalu terakhir “commoners”, yang biasanya mendapat gelar “Sir”.diterjemahkan oleh: akhirzaman

original source: http://www.illuminati-news.com/

Oleh : Al-Ustadz Hartono Ahmad Jaiz

Salah seorang terkemuka dari kalangan yang nyeleneh (aneh pendapatnya) dan bahkan orang-orang yang nyeleneh pun mengakuinya sebagai orang yang berperan penting dalam apa yang Dawam Rahardjo sebut liberalisme Islam (dalam menumbuhkan kenyelenehan?) adalah Mukti Ali guru besar IAIN Jogjakarta. Ini paling kurang adalah seperti yang diakui oleh Dawam Rahardjo di antaranya ditulis di Koran Republika. Cap buruk dari masyarakat belum sempat melekat di dalam nama Mukti Ali semasa hidupnya. Tetapi tokoh yang belum menerima gelar-gelar buruk itupun telah melakukan sebongkah pembelaan dan bahkan penumbuh kembangan perusakan Islam secara sistematis di Indonesia lewat pendidikan tinggi Islam dan karya tulis yang merusak Islam secara terang-terangan yaitu membela dan bahkan sebagai pemberi kata pengantar buku yang merusak aqidah Islam, berjudul Catatan Harian Ahmad Wahib, 1982. Apalagi mereka-mereka yang oleh masyarakat sudah diberi cap buruk atau paling kurang sebagai sosok nyeleneh (aneh pendapat-pendapatnya), bisa dijumpai di berbagai tempat di antaranya:

1. Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid, dosen di IAIN Jakarta, pendiri Yayasan Wakaf Paramadina dan rektor Universitas Paramadina Mulya Jakarta. Pada saat naskah ini ditulis, dia baru saja pulang dari perawatan di rumah sakit di Singapur ke rumah sakit pula di Pondok Indah Jakarta. Setelah hatinya dicangkok dengan hati orang Cina Komunis asli negeri Cina Tiongkok di Cina, dia harus dirawat di Singapura.

Pencangkokan hati itu mengharuskan Nurcholish disuntik untuk mengurangi daya tolak tubuh atas hati cangkokan baru itu. Namun akibatnya kekebalan tubuhnya harus dikurangi, maka ususnya terkena infeksi, dan harus dirawat di RS Singapur, selama 6 bulan. Kemudian pulang ke Indonesia bukan pulang ke rumah tetapi ke rumah sakit pula yaitu di Pondok Indah Jakarta, 17 Februari 2005, dengan harus selalu pakai masker, dan ditangani 6 dokter spesialis.

Nurcholish Madjid dulu (1970) mencoba mengemukakan gagasan “pembaharuan” dan mengecam dengan keras konsep negara Islam sebagai berikut:

Dari tinjauan yang lebih prinsipil, konsep “Negara Islam” adalah suatu distorsi hubungan proporsional antara agama dan negara. Negara adalah salah satu segi kehidupan duniawi yang dimensinya adalah rasional dan kolektif, sedangkan agama adalah aspek kehidupan yang dimensinya adalah spiritual dan pribadi.”

Pada tahun 1970 Nurcholish Madjid melontarkan gagasan “Pembaharuan Pemikiran Islam”. Gagasannya itu memperoleh tanggapan dari Abdul Kadir Djaelani, Ismail Hasan Meutarreum dan Endang Saifuddin Anshari. Sebagai jawaban terhadap tanggapan itu Madjid mengulangi gagasannya itu dengan judul “Sekali lagi tentang Sekularisasi”.

Kemudian pada tanggal 30 Oktober 1972, Madjid memberikan ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan judul “Menyegarkan Faham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia”. Salah satu kekeliruan yang sangat mendasar dari Nurcholish Madjid ialah pemahamannya tentang istilah “sekularisasi”. Ia menghubungkan sekularisasi dengan tauhid, sehingga timbul kesan “seolah-olah Islam memerintahkan sekularisasi dalam arti tauhid”.

Di samping itu Nurcholish mengemukakan bahwa Iblis kelak akan masuk surga. Ungkapannya yang sangat bertentangan dengan Islam itu ia katakan 23 Januari 1987 di pengajian Paramadina yang ia pimpin di Jakarta. Saat itu ada pertanyaan dari peserta pengajian, Lukman Hakim, berbunyi: “Salahkah Iblis, karena dia tidak mau sujud kepada Adam, ketika Allah menyuruhnya. Bukankah sujud hanya boleh kepada Allah?”

Dr. Nurcholish Madjid, yang memimpin pengajian itu, menjawab dengan satu kutipan dari pendapat Ibnu Arabi, dari salah satu majalah yang terbit di Damascus, Syria bahwa: “Iblis kelak akan masuk surga, bahkan di tempat yang tertinggi karena dia tidak mau sujud kecuali kepada Allah saja, dan inilah tauhid yang murni.”

Nurcholis juga mengatakan, “Kalau seandainya saudara membaca, dan lebih banyak membaca mungkin saudara menjadi Ibnu Arabi. Sebab apa? Sebab Ibnu Arabi antara lain yang mengatakan bahwa kalau ada makhluk Tuhan yang paling tinggi surganya, itu Iblis. Jadi sebetulnya pertanyaan anda itu permulaan dari satu tingkat iman yang paling tinggi sekali. Tapi harus membaca banyak.”

Itulah ungkapan pembela Iblis. Padahal Iblis jelas kafir, dan yang kafir itu menurut QS Al-Bayyinah ayat 6 tempatnya di dalam neraka jahannam selama-lamanya.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-baqarah: 34).

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS Al-Bayyinah/ 98: 6).

Masalah hati Nurcholish Madjid dicangkok dengan hati Cina di Negeri Cina, ada orang yang jadi mudah teringat lontaran-lontaran Nurcholish Madjid dalam beberapa hal, yang kaitannya dengan Cina ataupun komunis, atau tentang pencangkokan.

Pertama: Nurcholish Madjid mempidatokan di universitas-universitas terkemuka di Eropa, Ramadhan 2002, bahwa Islam adalah agama hibrida alias cangkokan. Pidatonya itupun dimuat di situs JIL, islamlib.com. Nurcholish Madjid hanya mengemukakan secuil bukti yang dia ada-adakan, yaitu katanya, di Al-Qur’an ada lafal qisthas dari bahasa Yunani Justis yang artinya adil. Dan di Al-Qur’an ada lafal kafuro, menurut Nurcholish, dari bahasa Melayu, kapur barus. Dengan dua potong kata yang tanpa bukti ilmiah itu kemudian Nurcholish simpulkan bahwa Islam adalah agama hibrida, maka bukan Islamnya yang hibrida, tapi hati dia yang dihibrida dengan hati Cina Komunis.

Kedua, di tahun 1980-an, Bambang Irawan Hafiluddin gembong Islam Jama’ah dan Hasyim Rifa’i da’i Islam Jama’a’ah (keduanya kemudian keluar dari Islam Jama’ah karena menyadari aliran yang kini bernama LDII itu benar-benar sesat jauh) berkunjung ke rumah Nurcholish Madjid di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Kedua tamu ini kaget ketika Nurcholish Madjid mereka tanya, Negara mana yang di dunia ini pantas untuk ditiru sebagai teladan. Ternyata jawaban Nurcholish: Negara Cina Tiongkok, karena di sana tidak ada perzinaan, pencurian dan sebagainya. Kedua tamu ini terheran-heran. Sampai dua puluh tahun keheranannya itu tambah teringat lagi ketika mereka mendengar berita bahwa Nurcholish Madjid hatinya dicangkok dengan hati Cina Komunis di negeri Cina, pertengahan tahun 2004. Ini menurut pengakuan Ustadz Hasyim Rifa’i kepada penulis ketika bertemu di Cisarua Bogor, menjelang Iedul Adha 1425H, Selasa 19 Januari 2004. Jadi Nurcholish Madjid benar-benar mendapatkan hati teladan (impiannya?).

Ketiga, Nurcholish Madjid menuduh PKI (Partai Komunis Indonesia) terhadap anak-anak Ma’had Al-Qolam Pasar Rumput Jakarta yang memberikan brosur kepada Nurcholish Madjid berupa jawaban/ bantahan atas ungkapan Nurcholish Madjid bahwa Iblis kelak akan masuk surga. Peristiwa tuduhan PKI yang terlontar dari mulut Nurcholish Madjid terhadap santri-santri yang berlangsung di tahun 1987 itu ternyata berbalik ke diri Nurcholish Madjid bahwa hati dia dicangkok dengan hati orang Cina Tiongkok yang komunisnya asli, bukan assembling seperti PKI. Debat dan tuduhan Nurcholish Madjid terhadap santri-santri itu dimuat di buku saya, Menangkal Bahaya JIL dan FLA, 2004.

2. Abdul Munir Mulkhan

Abdul Munir Mulkhan, wakil rektor UIN Jogjakarta dan petinggi di Muhammadiyah berpendapat, kalau yang masuk surga orang tertentu (Islam) saja maka akan kesendirian dan tak kerasan di surga. Dalam hal bicara surga, yang sebenarnya menurut Islam termasuk hal ghaib yang hanya boleh bicara berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) karena yang tahu kunci-kunci hal ghaib itu hanya Allah dan para utusan yang Dia beritahu, namun Mulkhan sangat berani mereka-reka dengan mengatakan, Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama. Karena itu, semua manusia berpeluang masuk surga sesuai keagamaan dan kapasitasnya masing-masing, jika benar-benar memang percaya (iman) dan berminat.

Ungkapan-ungkapan Abdul Munir Mulkan ini adalah kebohongan yang dilandasi dengan duga-duga belaka, tidak lebih unggul dibanding dukun-dukun yang mengaku-ngaku dirinya tahu rahasia kegaiban atas bisikan Syetan sebagai walinya. Ungkapannya yang sangat berbahaya adalah: “Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama.” Kalimat Abdul Munir Mulkhan itu bertentangan dengan Al-Qur’an:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali Imran: 85).

Di kesempatan lain Mulkhan mengatakan, “Dalam logika orang desa, kalau ada satu kelompok yang merasa benar sendiri dan yang lain dituding salah atau sesat, nanti saya khawatir kesepian di surga; tidak ada temannya. Klaim-klaim kebenaran absolut seperti itu sesungguhnya lebih menunjukkan, barangkali dalam bahasa yang agak sarkastik, kurang menyadari bahwa hidup sosial tidak bisa sendirian. Di hutan saja pun tidak bisa hidup sendirian, mesti bersama hewan-hewan, pohon-pohonan dan semak belukar.”

Ungkapan Abdul Munir Mulkan, “kesendirian, tidak kerasan di surga” dan sebagainya itu bertentangan dengan ayat:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (QS Al-Kahfi/ 18: 107-108).

Kalau orang Liberal masih berkilah bahwa mukmin di situ termasuk pula kini orang-orang Yahudi, Nasrani dan lainnya, maka kilah mereka itu sudah ada jawaban tuntasnya:

‘An Abii Hurairota ‘an Rasuulillahi  annahu qoola: “Walladzii nafsi Muhammadin biyadihi, laa yasma’u bii ahadun min haadzihil Ummati Yahuudiyyun walaa nashrooniyyun tsumma yamuutu walam yu’min billadzii ursiltu bihii illaa kaana min ash-haabin naari.” (Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah  bahwa beliau bersabda:

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”

(Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul Iimaan birisaalati nabiyyinaa  ilaa jamii’in naasi wa naskhul milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).

3. Djohan Effendi

Djohan EFfendi, anggota resmi aliran sesat Ahmadiyah, penyunting buku Catatan Harian Ahmad Wahib Pergolakan Pemikiran Islam. Isinya sangat menyesatkan, di samping mengkampanyekan faham pluralisme agama (menyamakan semua agama) masih pula ditambah dengan pernyataan-pernyataan yang menghina Nabi Muhammad, misalnya Wahib menginginkan nabi yang tingkat internasional.

4. Dawam Rahardjo

Dawam Rahardjo, petinggi Muhammadiyah pembela aliran-aliran sesat di antaranya Ahmadiyah, bahkan dirinya mengatasnamakan Muhammadiyah mengundang Tahir Ahmad yang dianggap Khalifah ke-4 bagi Ahmadiyah, tinggal di London, untuk datang ke Indonesia.

Dawam Rahardjo lah yang menyambut kehadiran Tahir Ahmad penerus nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad di Bandara Cengkareng Jakarta dengan mengalungkan bunga padanya dan membawa-bawa penerus nabi palsu itu ke ketua MPR Amien Rais dan Presiden Gus Dur tahun 2000.

Padahal Ahmadiyah itu selain memalsu nabi, memalsu pula ayat-ayat Al-Qur’an dengan memiliki kitab suci Tadzkirah. Namun semua itu dianggap sama saja dengan Islam, dan hanya beda penafsiran, menurut Dawam Rahardjo yang suka membela lagi mengusung kesesatan ini.

Dawam Rahardjo ini pula yang membela Ulil Abshar Abdalla dalam kasus penghinaan Islam dengan tulisan Ulil di Kompas, 18 Nopember 2002, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam. Isinya, menegaskan bahwa Ulil tidak percaya adanya hukum Tuhan.

Ulil Abshar Abdalla menyatakan, bahwa: Semua agama sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar (GATRA, edisi 21 Desember 2002). Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi (Kompas, 18 November 2002). Namun pernyataan Ulil yang menurut aqidah Islam telah memurtadkan itu justru dibela oleh Dawam Rahardjo, baik lewat tulisan-tulisannya, misalnya lewat Majalah Tempo pimpinan Gunawan Mohamad (orang yang dikagumi Ulil dan dipercaya oleh The Asia Foundation dan semacamnya untuk memelihara JIL dan sebangsanya).

Majalah Panjimas –yang sempat terbit sementara waktu hangat-hangatnya protes terhadap puncak kengawuran Ulil tahun 2002-2003, maupun lewat televisi misalnya Metro TV, sampai-sampai Dawam Rahardjo mengatakan bahwa Al-Qur’an itu filsafat, namun ketika ditanya oleh KH Athi’an Ali Da’i lewat telepon dari Bandung, Dawam Rahardjo hanya manyun belaka sebagaimana biasanya.

5. Muslim Abdurrahman

Muslim Abdurrahman penolak keras diterapkannya syari’ah Islam, pengurus Muhammadiyah pula. Dia mengatakan, kalau syari’at Islam diterapkan maka yang jadi korban pertama adalah perempuan. Perkataan ini sama dengan menuduh Allah  itu dhalim. Na’udzubillahi min dzalik. Sebegitu beraninya, seorang makhluq membantah aturan Tuhannya, hanya karena untuk menyenangkan hati bossnya yang diyakini sebagai penentang Allah , sekaligus mengajak manusia kepada penentangan yang nyata.

6. Gus Dur atau Abdurrahman Wahid

Abdurrahman Wahid pencetus gagasan assalamu’alaikum diganti dengan selamat pagi. Dalam tragedy Tsunami di Aceh 26 Desember 2004 yang menewaskan 150.000an jiwa lebih dan menghancurkan hampir seluruh bangunan, Gus Dur menyuara di Radio Jakarta News FM, agar mayat-mayat di Aceh itu dibakar saja ditempat. Alasannya, karena dia dibilangi adiknya, dr. Umar, katanya sarung tangan tidak cukup aman untuk mengevakuasi mayat-mayat. Ketika Gus Dur ditanya, apakah tidak melanggar agama, kalau mayat-mayat itu dibakar, Gus Dur malah mengemukakan bahwa yang menolak dibakarnya mayat-mayat itu hanya orang yang tak tahu agama (Islam).

Namun “fatwa” nyeleneh Gus Dur ini sebagaimana biasa sudah tidak digubris orang. Sebagaimana dia ketika kalah dalam pemilihan ketua umum PBNU di Muktamar NU di Boyolali Jawa Tengah 2004 lalu dia mengancam mau membuat NU tandingan pun orang banyak yang tidak menggubrisnya, kecuali sekadar sebagai ramai-ramai berita saja. Tetapi ini bukan berarti menutup kemungkinan adanya NU tandingan yang dia ancamkan.

7. Zainun Kamal

Zainun Kamal penghalal nikah antara Muslimah dengan lelaki Nasrani, pada Hari Ahad tanggal 28 November 2004 Zainun Kamal menikahkan wanita Muslimah. Suri Anggreni alias Fithri, dengan lelaki Kristen, Alfin Siagian, di Hotel Kristal Pondok Indah Jakarta Selatan. Lalu pengantin diberkati pendeta di situ. Ijab Qabul cara Islam, dibimbing oleh Dr Zainun Kamal, dosen UIN Jakarta, dari Yayasan Wakaf Madani, Kompleks Perumahan Dosen UIN Ciputat Jakarta Selatan. Ini telah menghalalkan yang haram, karena muslimah itu dengan tegas diharamkan menikah dengan lelaki kafir, dalam Surat:

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. (QS Al-Mumtahanah/ 60: 10).

Orang Kristen itu jelas kafir, maka termasuk dalam larangan nikah dengan muslimah. Kekafiran orang Kristen itu ditegaskan dalam Surat Al-Bayyinah ayat 6:

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(QS Al-Bayyinah: 6.)

8. Munawir Sjadzali

Munawir Sjadzali – mendiang — penggagas penyamaan bagian waris antara laki-laki dan perempuan. Padahal dalam Al-Qur’an ditegaskan:

Allah mensyari`atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; (QS An-Nisaa’: 11).

Munawir juga berani menganggap beberapa ayat Al-Qur’an kini tidak relevan lagi. Dalam 10 tahun atau dua periode dia jadi menteri agama RI telah mengirimkan dosen-dosen IAIN ke Barat untuk apa yang disebut studi Islam, lebih dari 200 orang untuk meraih gelar doctor dan master di bidang agama. Aneh, belajar ilmu Islam kok kepada orang-orang kafir atau paling kurang orang sekuler di Barat. Padahal Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 120 dan QS Al-Baqoroh ayat 109 telah memperingatkan tentang bahaya orang-orang kafir Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, yang sangat ingin mengembalikan Muslimin kepada kekafiran.

Pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat untuk belajar Islam kepada orang kafir yang sudah digalakkan sejak Menteri Agama Mukti Ali 1975 ini jelas tidak sesuai dengan petunjuk Allah , maka bila akibatnya rusak, itu sudah pasti. Bahasa Jawanya, kutuk marani sunduk atau ulo marani gebuk (Ikan mendatangi pancing atau ular mendatangi pukulan. Maknanya, usaha yang salah, payah-payah hanya mencari celaka). Dan itulah yang akibatnya kini alumninya banyak yang nyeleneh sebagaimana dalam uraian ini.

9. Harun Nasution

Harun Nasution tokoh di IAIN Jakarta yang menggemakan istilah pembaruan Islam dialihkan maknanya menjadi: memperbaharui dengan model modern/ Barat, sampai yang menghalalkan dansa-dansa campur aduk laki perempuan seperti Rifa’at At-Thahthawi (Mesir) pun dikategorikan dalam satu nama yaitu kaum Modernis.

Mendiang Prof Dr Harun Nasution alumni McGill Canada yang bertugas di IAIN Jakarta itu pun memuji Rifa’at Thahthawi (orang Mesir alumni Prancis) sebagai pembaharu dan pembuka pintu ijtihad (Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, hal 49).

Padahal, menurut Ali Muhammad Juraisyah dosen Syari’ah di Jami’ah Islam Madinah, Rifa’at Thahthawi itu alumni Barat yang paling berbahaya. Rifa’at Thahthawi tinggal di Paris 1826-1831M yang kemudian kembali ke Mesir dengan bicara tentang dansa yang ia lihat di Paris bahwa hanya sejenis keindahan dan kegairahan muda (syalbanah), tidaklah fasik berdansa itu dan tidaklah fasik (tidak melanggar agama) berdempetan badan (dalam berdansa laki-perempuan itu, pen).

Ali Juraisyah berkomentar: Sedangkan Rasulullah  bersabda:

“Likulli banii aadama haddhun minaz zinaa: fal ‘ainaani tazniyaani wa zinaahuman nadhru, walyadaani tazniyaani wazinaahumal bathsyu, warrijlaani tazniyaani wazinaahumal masy-yu, walfamu yaznii wazinaahul qublu, walqolbu yahwii wa yatamannaa, walfarju yushoddiqu dzaalika au yukaddzibuhu.”

Artinya: “Setiap bani Adam ada potensi berzina: maka dua mata berzina dan zinanya melihat, dua tangan berzina dan zinanya memegang, dua kaki berzina dan zinanya berjalan, mulut berzina dan berzinanya mencium, hati berzina dan berzinanya cenderung dan mengangan-angan, sedang farji/ kemaluan membenarkan yang demikian itu atau membohongkannya.”

(Hadits Musnad Ahmad juz 2 hal 243, sanadnya shohih, dan hadits-hadits lain banyak, dengan kata-kata yang berbeda namun maknanya sama).

Benarlah Rasulullah , dan bohonglah Syekh Thahthawi.

10. Kautsar Azhari Noer

Kautsar Azhari Noer, seorang dosen UIN Jakarta, penggema ajaran Ibnu Arabi dan pluralisme agama. Dr Kautsar Azhari Nur orang liberal dari Paramadina Jakarta ini dalam pidato Debat Fiqih Lintas Agama di UIN (Universitas Islam Negeri) Jakarta, 15 Januari 2004, berkata: “Akidah itu memang tidak sama. Akidah itu buatan manusia bukan buatan Tuhan.”

Komentar saya: Kalau aqidah itu buatan manusia, padahal fondasi dalam agama itu justru aqidah, dapatkah agama Allah yaitu Islam itu fondasinya hanya buatan manusia? Barangkali perkatan Dr Kautsar itu betul apabila yang dimaksud hanyalah agama buatan manusia, misalnya agama model Gatoloco dan Darmogandul, suatu kepercayaan di Jawa yang sangat menghina Islam dengan perkataan-perkataan porno dan jorok.

Tentang aqidah, penjelasan ini bisa disimak: Wakil Sultan (di Suriah tempat Ibnu Taimiyah bermukim, pen) bertanya tentang iktikad (Aqidah), maka Ibnu Taimiyah ra berkata: Aqidah bukan datang dariku, juga bukan datang dari orang yang lebih dahulu dariku tapi dari Allah  dan Rasul-Nya, dan apa yang diijma’i oleh para salaf umat ini diambil dari kitabullah dan hadits-hadits Bukhari dan Muslim serta hadits-hadits lainnya yang cukup dikenal dan riwayat-riwayat shahih dari generasi salaf umat ini.

Anggapan pihak Paramadina bahwa aqidah mereka memang beda, yaitu pluralisme agama –menyamakan semua agama– adalah berbeda dengan orang Muslim yang aqidahnya tegas bahwa hanya Islam lah yang benar. Al-Qur’an menyatakan sesembahan orang non Islam/kafir itu bukan sesembahan orang Muslim dalam surat Al-Kafirun secara diulang-ulang. Tetapi dosen UIN Jakarta dan Paramadina ini berani mengatakan bahwa muslim tapi aqidahnya berbeda, yaitu pluralisme agama.

Bagaimanapun, keyakinan orang pluralis bertentangan dengan Islam, di antaranya bertentangan dengan Al-Qur’an Surat Al-Kafirun.

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (QS Al-Kafirun: 1-6).

11. Zuhairi Misrawi

Zuhairi Misrawi (alumni filsafat Al-Azhar Mesir yang pernah diadili dan diharap istitab (bertaubat) kepada Allah SWT oleh teman-temannya di Mesir karena dianggap mengatakan bahwa shalat 5 waktu tidak wajib, kata Zainul Majdi MA alumni Al-Azhar dari Lombok, di dalam pertemuan para Ulama dan tokoh Islam di As-Syafi’iyah Jakarta, Rabu 6 Ramadhan 1425H/ 20 Oktober 2004.

Zuhairi Misrawi ini bertekad, seandainya dia jadi ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia), maka akan dia fatwakan, bahwa arti musyrik adalah politikus busuk. Lihat buku penulis, Mengkritisi Debat Fikih Lintas Agama, Al-kautsar, Jakarta, 2004).

12. Masdar F. Mas’udi

Masdar F. Mas’udi alumni IAIN Jogjakarta, orang NU yang menyuarakan kalau lelaki nekad berzina maka hendaknya pakai kondom, dan menyerukan musim haji wuqufnya bukan hanya di bulan Dzulhijjah tapi bisa di Bulan Syawwal dan Dzulqo’dah. Dosen Ilmu Fiqh, Dr. Khuzaimah T. Yango, alumni Mesir, menjelaskan dalam perkuliahan yang saya ikuti di MUI DKI Jakarta 1997 bahwa pendapat Masdar F. Mas’udi yang menyamakan pajak dengan zakat adalah jelas pendapat yang tidak benar dan tak punya landasan. Karena zakat jelas beda sekali dengan pajak. Dalam seminar pun sudah banyak yang membantah Masdar, kata Dr. Khuzaimah.

Rupanya setelah bermain-main dengan tema pajak dan zakat, Masdar masih punya “mainan” lagi yaitu tentang waktu pelaksanaan ibadah haji.

Waktu pun berjalan terus, sedang kedudukan seseorang bisa menanjak. Di tahun 2000, Masdar Farid Mas’udi yang tadinya disebut intelektual muda itu telah menjadi Katib Syuriyah PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dan Anggota Dewan Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia). Dia dengan menulis embel-embel kedudukannya itu membuat artikel yang dimuat secara bersambung di Harian Republika, Jum’at tanggal 6 dan tanggal 13 Oktober 2000, berjudul Keharusan Meninjau Kembali Waktu Pelaksanaan Ibadah Haji.

Tulisan itu menyodorkan pendapat bahwa pelaksanaan ibadah haji hendaknya bukan hanya sekitar tanggal 8, 9, 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah, tetapi kapan saja asal selama 3 bulan (Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah). Alasan Masdar, karena jelas di dalam Al-Qur’an Al-Hajju asyhurun ma’lumat. Haji itu di bulan-bulan yang sudah diketahui (3 bulan tersebut). Jadi, menurut Masdar, janganlah Al-Qur’an dikorbankan oleh hadits Al-Hajju ‘arafah, haji itu adalah Arafah. (Istilah Al-Qur’an dikorbankan oleh hadits itu tidak pernah dipakai oleh ulama manapun. Saya baru dengar dari pernyataan Masdar itu).

Landasan pikiran Masdar, ia kemukakan bahwa ibadah haji itu ‘napak tilas’. Maka dimensi ruang itu lebih penting ketimbang dimensi lainnya termasuk waktu. Oleh karena itu, saran Masdar, agar pelaksanaan ibadah haji itu ya kapan saja, asal 3 bulan tersebut. Faham sesat dan melecehkan Islam ini dimuat di Kompas, Republika dan media lainnya.

13. Ulil Abshar Abdalla

Ulil Abshar Abdalla (generasi NU yang menulis bahwa hukum Tuhan itu tidak ada, dan vodca –minuman beralkohol lebih dari 16% bisa jadi di Rusia halal karena udaranya dingin sekali.

Ungkapan yang merusak Islam dan menghalalkan yang haram ini ditulis di Kompas 18 November 2002/ Ramadhan 1423H dan dalam wawancara dengan majalah di Jakarta. Orang ini mulai sengak perkataannya, misalnya dia mengecam Saudi dengan ungkapan bahwa duit petro dolar dari Arab itu paling hanya untuk mencetak Al-Qur’an dan buku-buku wahabi yang norak, anti intelektual… dst.

Gaya bicara semacam itu bisa mengindikasikan adanya kesombongan tersendiri, yang dalam Al-Qur’an justru disandang oleh orang-orang yang anti orang beriman:

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. QS Al-Baqarah: 13-16).

14. Luthfi Assyaukanie

Luthfi Assyaukani (orang Paramadina Mulia Jakarta yang menganggap teks Al-Qur’an mengalami copy editing oleh para sahabat. Ungkapan untuk meragukan kemurnian Al-Qur’an ini disiarkan lewat internet JIL, islamlib.com: “Saya cenderung meyakini bahwa Alquran pada dasarnya adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi tapi kemudian mengalami berbagai proses copy-editing oleh para sahabat, tabi’in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan.” (Islamlib.com –Merenungkan Sejarah Alquran, Oleh: Luthfi AssyaukanieTanggal dimuat: 17/11/2003).

Bagaimana liciknya orang liberal dari Paramadina ini, memasukkan berbagai unsur termasuk kekuasaan sebagai pelaku copy-editing terhadap wahyu Allah. Di masa sekarang perpolitikan yang sangat jauh dari Islam dan penguasanya tidak takut kepada Allah, lalu digambarkan bahwa Al-Qur’an pun mengalami copy-editing oleh kekuasaan, maka bisa dibayangkan betapa tajamnya untuk menyuntikkan pemahaman yang keliru mengenai kemurnian Al-Qur’an.

Betapa tega orang itu dalam menyuntikkan benih-benih untuk meragukan kemurnian Al-Qur’an. Tangan penguasa dengan bermodal kekuasaannya dianggap telah mengedit Al-Qur’an. Meskipun ada celoteh semacam itu, namun umat Islam tetap yakin terhadap penegasan Allah.

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS Al-Hijr: 9).

Pertanyaan yang perlu diajukan kepada Luthfi AsSyaukani, kenapa musuh Utsman bin Affan ra yang sampai membunuhnya, kemudian tidak membuat Al-Qur’an tandingan, kalau memang benar bahwa Utsman menggunakan kekuasaannya untuk mengedit Al-Qur’an?

15. Prof. Dr. M. Amin Abdullah

Prof. Dr. M. Amin Abdullah, Ketua Majlis Tarjih Muhammadiyah, Rektor IAIN Jogjakarta: “Tafsir-tafsir klasik Al-Quran tidak lagi memberi makna dan fungsi yang jelas dalam kehidupan umat.”

Komentar: Ini mengingkari ilmu. Sebab tafsir-tafsir klasik itu menyampaikan warisan ilmu dari Nabi Muhammad  yang disampaikan kepada para sahabat, diwarisi tabi’in, lalu tabi’it tabi’in, yang kemudian diwairisi para ulama. Dengan cara menafikan makna dan fungsi tafsir-tafsir klasik Al-Qur’an, maka sebenarnya yang akan dibabat justru Al-Qur’annya itu sendiri. Karena kalau umat Islam sudah menafikan tafsir-tafsir klasik Al-Qur’an, maka tidak tahu lagi mana makna yang rajih (kuat) dan yang marjuh (lemah) dalam mengetahui isi Al-Qur’an. Di samping itu, masih mengingkari keadaan manusia. Seakan-akan manusia sekarang ini bukanlah manusia model dulu, tetapi makhluq yang baru sama sekali, tidak ada sifat-sifat kesamaan dengan manusia dulu. Padahal, dari dulu sampai sekarang, dan insya Allah sampai nanti, ciri-ciri dan sifat-sifat manusia itu sama. Yang munafiq ya ciri-ciri dan sifat-sifatnya sama dengan munafiq zaman dulu. Yang kafir pun demikian. Sedang yang mu’min sama juga ciri dan sifatnya dengan mu’min zaman dulu. Maka Allah telah mencukupkan Islam sebagai agama yang Dia ridhai, dan Al-Qur’an menjadi pedoman sepanjang masa, karena manusia zaman diturunkannya Al-Qur’an itu sifatnya sama dengan zaman sekarang ataupun nanti. Tinggal tergolong yang mana? Mu’min, munafiq atau kafir. Hanya itu.

Apalagi hanya tafsirnya, sedang Al-Qur’annya itu sendiri tidak menambah apa-apa kecuali menambah kerugian bagi orang-orang dhalim, dan menambah larinya orang-orang kafir dari kebenaran, memang.

Allah berfirman:

Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al-Israa’: 82).

Dan sesungguhnya dalam Al Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS Al-Israa’: 41).

Itulah komentar yang perlu disampaikan untuk Amien Abdullah (Rektor UIN Jogjakarta, penyeru diterapkannya metode hermeneutik untuk menafsiri Al-Qur’an, padahal hermeneutik itu metode untuk Injil yang memang teksnya penuh problem).

16. Taufik Adnan Amal

Taufik Adnan Amal (dosen ulumul Qur’an IAIN Makassar, mengemukakan bahwa ayat innaddiena indallohil Islam itu ada yang lebih tepat untuk sekarang innad diena indallohil hanifiyyah. Ungkapan Taufiq Adnan Amal dan Ulil Abshar Abdalla yang disebarkan lewat Majalah Syir’ah itu mengandung kampanye untuk meragukan kemurnian Al-Qur’an dan sekaligus meragukan masih relevannya ayat-ayat Al-Qur’an dengan masa sekarang. Tentang buku Taufiq Adnan Amal berjudul Rekonstruksi Sejarah Al-qur’an, insya Allah dibahas di bagian bawah dari judul ini.

17. Abdul Moqsith Ghazali

Abdul Moqsith Ghazali, tadinya belajar di pascasarjana UIN Jakarta, termasuk tim penyusun draf counter legal Kompilasi Hukum Islam. Di antara isinya, Pasal yang tidak kalah kontroversial adalah pembolehan perkawinan beda agama. Tim Pengarusutamaan Gender bentukan Depag, sebagai penyusun draf, menilai pelarangan perkawinan beda agama melanggar prinsip pluralisme dalam Islam.

Abdul Moqsith Ghazali, anggota tim penyusun, mengaku sejak semula sudah memperkirakan akan mendapatkan kritikan tajam. Timnya pun secara internal menjalani perdebatan yang panjang dan alot untuk membuahkan draf itu. Menurut dia, banyak sekali ketidakadilan dalam susunan KHI lama. ”Kami menyusun ini dengan mengacu pada dalil-dalil yang ada. Karena itu, jika memang tidak ada dalil yang melarang untuk mengubah sesuatu hal, berarti itu merupakan dalil untuk mengubah,” kata Moqsith (Republika, Selasa, 5 Oktober 2004).

Dia tak sadar, ucapannya bisa dipertanyakan, tak ada larangan nikah dengan buaya, babi dsb, apakah boleh nikah dengan babi, buaya dan sebagainya? Pertanyaan ini dilontarkan oleh Ustadz Agus Hasan Bashori dari Malang, ketika ada kajian di Masjid Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Jawa Timur, 9 Januari 2004).

18. Dr. Siti Musdah Mulia

Dr. Siti Musdah Mulia (wanita, dosen pascasarjana UIN Jakarta, menyuarakan kesetaraan gender dengan membuat LSM di Departemen Agama, menyuarakan pembatalan syari’at Islam di antaranya melarang poligami, tapi membolehkan nikah beda agama. Ini jelas-jelas mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, dilakukan bersama timnya 11 orang plus kontributornya 16 orang. Tim pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram itu adalah:

a. Dr Siti Musdah Mulia, MA, Apu;
b. Drs Marzuki Wahid, MA;
c. Drs Abd Moqsith Ghazali, MA;
d. Dra Anik Farida, MA;
e. Saleh Partaonan, MA, M.Hum;
f. Drs Ahmad Suaedy,
g. Drs H Marzani Anwar, APU alumni IAIN Jogjakarta;
h. H Abdurrahman Abdullah, MA,
i. Dr KH Ahmad Mubarok, MA;
j. Drs Asep Taufik Akbar, MA. Kontributor aktif 16 orang:
k. KH Drs Husen Muhammad pengasuh PP Arjawinangun Cirebon Jabar;
l. KH Drs Afifuddin Muhajir, MA pengasuh PP Sukorejo Asembagus Situbondo Jawa Timur;
m. Drs Lies Marcoes-Natsir, MA feminis Muslim;
n. Dr H Zainun Kamal, MA dosen Pascasarjana UIN Jakarta;
o. Dr H Ahmad Luthfi dosen pascasarjana UIN Jakarta;
p. Drs Syafiq Hasyim, MA deputi direktur ICIP Jakarta;
q. Faqihuddin Abdul Qadir, MA direktur Fahmina Institute Cirebon;
r. Drs M Jadul Maula, MA direktur LkiS Jogjakarta;
s. Drs Imam Nakhai, MHI dosen Ma’had Aly Situbondo;
t. Dr Hamim Ilyas, MA dosen UIN Jogjakarta;
u. Dra Badriyah Fayumi, Lc, MA peneliti Puan Amal Hayati pimpinan Sinta Nuriyah isteri Gus Dur di Ciganjur Jakarta;
v. Drs Noer Yamin Aini, MA peneliti PPSDM UIN Jakarta;
w. Drs Umi Khusnul Khatimah, MA PP Fatayat NU;
x. Dra Mesraini MA staf pengajar UIN Jakarta;
y. Dra Ny Hindun Anisa, MA PP Krapyak Jogjakarta;
z. dan Drs Fatmah Amelia, MA dosen UIN Jogjakarta.

Mereka ini di bawah kordinator Siti Musdah Mulia mengeluarkan buku Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (KHI) dengan label Pokja Pengarusutamaan Gender Departemen Agama RI, Jakarta 2004. Isinya meresahkan umat Islam karena menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, hingga MUI berkirim surat teguran keras ke Menteri Agama Said Agil Al-Munawwar, akhirnya draf itu dicabut oleh Menag, Oktober 2004.).

19. Faqihuddin

Faqihuddin (alumni Suriah yang temannya sendiri seperti Adnin Armas heran, kenapa setelah jadi dosen STAIN Cirebon jadi nyeleneh dan menulis di Majalah Syir’ah yang isi majalah itu banyak menyesatkan)

20. Hussein Muhammad

Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Cirebon, memberikan pengantar untuk buku In The Name Of Sex karya Soffa Ihsan yang tak sungkan membeberkan sederet pengalaman menghirup kenikmatan sesaat bersama perempuan lain –dari yang muda hingga yang tua. Soffa Ihsan bertutur ihwal petualangannya di dunia prostitusi di kota besar hingga tempat-tempat terpencil di Sumatra. Soffa menyangsikan aturan agama dapat menyelesaikan masalah faktual, seperti pelacuran, hubungan sejenis, seks bebas, yang tak memandang kelas di masyarakat itu. Ia memandang doktrin agama tafsiran ulama klasik yang pernah dilahapnya di pesantren tidak relevan lagi dengan kenyataan yang berkembang di masyarakat. (Lihat Majalah Gatra Nomor 13 Beredar 4 Februari 2005).

Buku yang jelas-jelas membeberkan bejatnya moral diri sendiri sebagai seorang gigolo (?), masih pula menghujat Islam itu, malah diberi kata pengantar oleh Hussein Muhammad. Di samping itu rupanya orang Cirebon ini dipercaya teman-teman sepenyelenehan untuk bicara gender sampai di Malaysia.

Sekalipun Hussein Muhammad ini sudah dipercaya oleh orang JIL sampai jadi utusan ke Malaysia, namun ternyata keok di kandang sendiri di Cirebon, ketika melabrak seorang ustadz muda, Muhammad Toharo. Singkat peristiwanya, Hussein Muhammad dan Faqihuddin beserta dua rekannya datang ke seorang ustadz muda, Muhammad Toharo, di Yayasan As-Sunnah Cirebon Jawa Barat. Empat orang berpaham model JIL itu berbantah dengan Ust Toharo di rumah Toharo.

Disepakati, mereka mempercayai Kitab Tafsir Ibnu Katsir, dan akan dibaca saat itu juga. Hussein Muhammad disuruh membacanya, tafsiran Surat Al-Baqarah ayat 62 yang sering dijadikan landasan faham pluralisme agama, menyamakan semua agama. Baru membaca beberapa baris, Hussein Muhammad dicecar, Yahudi dan Nasrani yang diterima agamanya oleh Allah swt itu yang saalifah, yang telah lalu (bukan setelah datangnya Nabi Muhammad ).

Pembacaan tafsir ini tidak diteruskan sampai hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Yahudi dan Nasrani yang sudah mendengar seruan Nabi Muhammad  dan tidak mau masuk Islam, lalu mati, maka menjadi penghuni-penghuni neraka. Akibatnya, empat orang JIL ini tidak bisa mengelak, akhirnya mengakui bahwa Yahudi dan Nasrani sekarang statusnya kafir.

Hanya saja mereka berempat masih mengelak tentang Yahudi dan Nasrani yang statusnya kafir itu masuk neraka atau tidak. Lalu Ust Toharo menegaskan, menurut Al-Qur’an, orang kafir itu masuk neraka selamanya. Percaya Al-Qur’an tidak? Bila tidak percaya maka kamu kafir, tegas Ust Toharo, awal 2005. Demikian menurut penuturan Ust Toharo ketika penulis bertemu dengannya di Bogor, menjelang Iedul Adha 1425H/ 19 Januari 2005.

21. Nasaruddin Umar

Nasaruddin Umar (orang UIN Jakarta yang menyebarkan feminisme dan dipercaya oleh orang JIL –Jaringan Islam Liberal untuk bicara Islam model mereka ke Amerika). Dia diangkat jadi pengurus structural PBNU setelah Muktamar di Donoudan Boyolali Jawa Tengah, Syawal 1425H/ November 2004, yang saat itu pesawat Lion Air tergelincir di Bandara Panasan/Adisumarmo Solo hingga di antara tokoh NU, yang duduk di DPR dan akan menghadiri muktamar itu ternyata meninggal.

Gus Dur dan Masdar Farid Mas’udi kalah telak oleh pasangan Hasyim Muzadi dan KH Sahal Mhfudz, maka Gus Dur mengancam akan membuat NU tandingan. Akibatnya, Hasyim Muzadi mengakomodasi pihak liberal model Gus Dur dan Masdar F Mas’udi, maka dimasukkanlah Nasaruddin Umar yang liberal dan feminisme itu ke jajaran kepengurusan PBNU).

22. Alwi Shihab

Alwi Shihab (tokoh di NU/ PKB, pendorong awal dan pengkampanye penyamaan semua agama, berkolaborasi dengan pejabat non Islam untuk menatar para karyawan tentang faham pluralisme agama / menyamakan semua agama di satu instansi meliputi Jawa dan Madura).

23. Quraish Shihab

Quraish Shihab mantan menteri agama 70 hari zaman Soeharto dan mantan rector IAIN Jakarta yang dikenal mengemukakan ucapan selamat natal diklaim sebagai sesuai Al-Qur’an, dan bersuara aneh tentang jilbab hingga pernah dibantah mahasiswa Indonesia di Mesir.

Quraish Shihab menulis dengan judul Selamat Natal Menurut Al-Qur’an, di buku Membumikan Al-Qur’an. Di antara isinya:

Dalam rangka interaksi sosial dan keharmonisan hubungan, Al-Quran memperkenalkan satu bentuk redaksi, dimana lawan bicara memahaminya sesuai dengan pandangan atau keyakinannya, tetapi bukan seperti yang dimaksud oleh pengucapnya. Karena, si pengucap sendiri mengucapkan dan memahami redaksi itu sesuai dengan pandangan dan keyakinannya. Salah satu contoh yang dikemukakan adalah ayat-ayat yang tercantum dalam QS 34:24-25. Kalaupun non-Muslim memahami ucapan “Selamat Natal” sesuai dengan keyakinannya, maka biarlah demikian, karena Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai dengan garis keyakinannya. Memang, kearifan dibutuhkan dalam rangka interaksi sosial.

Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tetapi, tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan. (Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Dr. M. Quraish Shihab, Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab 1417/November 1996)

Tulisan Quraish Shihab itu walaupun berdalih ini dan itu, di antaranya untuk interaksi social dan keharmonisan, namun justru dia tidak menengok kondisi social yang umat Islam selama ini jadi incaran kristenisasi dan pemurtadan. Bahkan di masa umat Islam terkena musibah seperti di Aceh yang kena badai Tsunami Ahad 26 Desember 2004 hingga mematikan lebih dari 150-an ribu orang dan menghancurkan hampir seluruh bangunan, tetap saja kristenisasi dan pemurtadan mengintai-intai dan mencari kesempatan.

Hingga dikhabarkan 300 anak Aceh dibawa keluar oleh lembaga Kristen, yang hal itu menjadi polemik. Dengan “fatwa” seperti itu, maka ada situs yang menyebut bahwa hanya mereka yang agak rancu pikirannya saja yang memahami ayat 30-34 Surat Maryam sebagai ayat yang memerintahkan/membolehkan untuk mengucapkan selamat natal kepada orang kafir. (lihat syariahonlien.com, konsulotasi akidah, Boleh mengucapkan selamat Natal?).

24. Atho’ Mudhar

Atho’ Mudhar Kepala Badan Litbang (Penelitian dan Pengembangan) Deprtemen Agama RI yang berpendapat bahwa Masjidil Aqsho bukan di Palestina tapi di baitul makmur di langit, suatu penafsiran aneh yang berbau pro Yahudi Israel dan dikemukakan di pengajian Paramadina pimpinan Nurcholish Madjid lalu disebarkan oleh Majalah Tempo pimpinan tokoh liberal Gunawan Mohammad. Masalah itu pernah penulis kemukakan kepada Syaikh Rajab, Imam Masjidil Aqsho Palestina, 1993, beliau sangat terheran-heran, ada orang Indonesia yang seliar itu dalam menafsirkan ayat suci Al-Qur’an.

25. Azyumardi Azra

Azyumardi Azra, Rektor UIN Jakarta dan Ketua umum Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta menggantikan Komaruddin Hidayat. Azra termasuk penolak diterapkannya syari’at Islam namun nasibnya tak seburuk Ahmad Syafi’i Maarif, karena Azra meliuk-liuk dalam tulisan dan bicaranya dengan berlindung pada peradaban atau menisbatkan gagasannya kepada tokoh lain, hingga walau sampai sebagai pemuja demokrasi hingga dia sebut Islam kompatibel (cocok, rukun, harmonis) dengan demokrasi, namun masyarakat belum mengecamnya.

Padahal dia justru pemuja demokrasi untuk dipas-paskan dicocok-cocokkan dengan Islam seraya menolak diterapkannya syari’at Islam. Dalam tulisannya di rubrik Resonansi di Harian Republika, Azyumardi Azra mengajak Indonesia untuk meniru langkah-langkah PM Malaysia, Abdullah Badawi.

Azyumardi menulis: Bagaimana sosok Islam progresif yang dibayangkan Badawi itu? Singkatnya adalah Islam yang toleran, inklusif, modern, kompatibel dengan demokrasi dan perkembangan kontemporer. Bukan Islam yang dipahami secara harfiah, kaku, eksklusif, dan berorientasi ke masa silam.

Di situlah lihainya Azyumardi Azra, ketika ia sedang memuja demokrasi dan liberal dengan menyebut Islam yang inklusif (menganggap agama kami mungkin salah, agama orang lain mungkin benar, maka saling mengisi; ini faham liberal yang setingkat di bawah pluralisme agama yang menyamakan semua agama), dan memuja demokrasi dengan menyebut Islam yang kompatibel (cocok, rukun, harmonis) dengan demokrasi; ia sandarkan kepada orang lain yakni PM Abdullah Badawi.

Sehingga seakan-akan tulisannya itu bukanlah memuja demokrasi plus jualan faham liberal yang tak sesuai dengan Islam, dari dirinya sendiri. Kelihaian ini yang mengakibatkan Azyumardi Azra belum terkena getah cap buruk dari masyarakat, kecuali dari kalangan tertentu yang sudah mencium keliberalannya dan faham pluralisme agamanya yang dibungkus-bungkus itu. Dengan cara itu dia mendapatkan dua keuntungan, dari pihak anti Islam dia dipercaya, sedang dari pihak Islam dia tidak/belum dikecam.

Allah lah yang Maha Mengetahui, mengetahui rahasia-rahasia yang di dalam hati, sedang manusia mengetahui gejala yang nampak. Bagi yang jeli seperti Adian Husaini, sekalipun dia berada di Kuala Lumpur Malaysia, namun sempat juga melihat tikaman-tikaman Azyumardi Azra terhadap Islam, maka Adian pernah menulis khusus menyoroti artikel resonansi Azra di Republika.

Sorotan Adian itu dimuat di hidayatullah.com Jumat, 03 Desember 2004 dan dibaca di Radio Dakta Bekasi, berjudul Kebangkitan Islam atau Kebangkrutan Islam?

Tulis adian: Menurut Azyumardi Azra, Kebangkitan Islam ditandai dengan toleransi dan gagasan pluralisme. Islam gaya Timur Tengah justru ‘ancaman Islam’. Sikap cari muka terhadap Barat?

Pada tanggal 2 Desember 2004, Prof. Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menulis satu di kolom Resonansi, di Harian Republika, berjudul Memahami Kebangkitan Islam.

Kolom ini perlu kita cermati karena memuat banyak hal yang perlu diklarifikasi. Sejumlah istilah yang digunakan Azyumardi memiliki makna yang rancu dan menunjukkan kuatnya hegemoni Barat dalam kajian tentang Islam, umat Islam, dan dunia Islam.

Sehingga, ilmuwan sekaliber Prof. Azyumardi Azra (AA) harus menelan mentah-mentah istilah dan sekaligus wacana yang dijejalkan oleh Barat ke dunia Islam. Karena itu, muncul paradoks, bahwa sesuatu yang mestinya diprihatinkan, justru dibangga-banggakan. (Lihat hidayatullah.com).

Adian mencontohkan, faham pluralisme agama (menyamakan semua agama) dibanggakan Azra karena kini tumbuh di Indonesia, padahal itu seharusnya sangat harus diprihatinkan, bukan dibanggakan. Makanya, Adian sampai mengatakan, Azra telah menelan mentah-mentah pernyataan orang Israel, yang hal itu sangat disayangkan, lalu Adian mempertanyakan, apakah itu untuk menjilat Barat.

26. Said Aqil Siradj

Said Aqil Siradj, dosen pasca sarjana UIN Jakarta dan tokoh NU –Nahdlatul Ulama– yang pernah bersuara sangat aneh dan menyakiti para sahabat Nabi Muhammad bahwa orang Arab sepeninggal Nabi Muhammad  mereka murtad kecuali hanya orang-orang Arab Quraisy, itupun tidak keluarnya dari Islam bukan karena agama tapi karena suku/ kabilah.

Dengan tulisannya di makalah yang sangat menyakiti para sahabat Nabi Muhammad itu maka Aqil Siradj dikafirkan oleh belasan ulama dan ada gagasan untuk diusulkan ke almamaternya, Universitas Ummul Quro Makkah, agar gelar doktornya dicabut; namun malah Aqil Siradj menantang silahkan dicabut, sekalian gelar hajinya yang telah ia jalani belasan kali silahkan dicabut.

Lancangnya Said Aqil Siradj melontarkan tuduhan bahwa –orang Arab sepeninggal Nabi Muhammad  mereka murtad kecuali hanya orang-orang Arab Quraisy, itupun tidak keluarnya dari Islam bukan karena agama tapi karena suku/ kabilah– itu sangat jauh bila dibandingkan dengan peringatan dari Nabi Muhammad untuk berhati-hati dalam berucap mengenai pribadi para sahabat Nabi :

Diriwayatkan dari Abu Said  katanya: Di antara Khalid bin al-Walid dan Abdul Rahman bin Auf telah terjadi sesuatu, lalu Khalid mencacinya. Mendengar hal itu, Rasulullah bersabda: Janganlah kamu mencaci Sahabatku, maka sesungguhnya walaupun salah seorang dari kamu membelanjakan emas sebesar gunung Uhud sekalipun, dia tidak dapat menandingi salah seorang ataupun separuh dari mereka. (Hadits Muttafaq ‘Alaih ).

Dengan lontaran-lontaran nyeleneh seperti itu maka mereka dari jauh pun sudah tercium baunya bahwa mereka adalah orang-orang yang suaranya nyeleneh mengenai Islam. Atau kacau dalam berbicara tentang Islam. Itu belum yang secara habitat memang liberal seperti Komaruddin Hidayat bekas ketua Paramadina. Dulunya justru di barisan depan dalam menghadapi Islam, seakan berada di barisan Nasrani, ketika dia keceplosan menyinggung hal yang rawan: Kalau nanti partai Islam menang maka kalian para tokoh dan anggota gereja disembelih semua. Berita itu santer tahun 1985-an, dimuat oleh Koran Protestan, Sinar Harapan, lalu Komaruddin Hidayat khabarnya meminta maaf atas keterlanjurannya itu.

Ada pula bibit-bibit yang kini masih dalam proses kenyelenehan misalnya Pradana Boy, Sukidi, Fuad Fanani dari Muhammadiyah, dan semacamnya yang sudah tampak membela-bela kenyelenehan atau nyerempet-nyerempet ke arah kenyelenehan dengan tulisan-tulisan misalnya di milis-milis. Belum pula aktivis yang tadinya dari Majalah Panji Masyarakat (dulu pimpinan Buya Hamka kemudian dilanjutkan anaknya, Rusydi Hamka, belakangan pindah-pindah tangan, dan kini telah tiada nafas lagi) misalnya Syafi’i Anwar yang bekerjasama dengan The Asia Foundation dengan lembaganya, ICIP –International Center for Islam and Pluralism– menyuarakan suara kemusyrikan yaitu pluralisme agama. Lembaga inilah yang mendatangkan tokoh Mesir yang telah divonis sebagai orang murtad oleh Mahkamah Agung Mesir tahun 1996 karena tulisan-tulisannya yang menghujat Islam yakni Dr Nasr Hamid Abu Zayd ke Indonesia untuk ke UIN Jakarta dan lembaga-lembaga liberal lainnya, September 2004.

Orang-orang JIL pun sibuk mengikuti work shopnya, bahkan sibuk menulis dan wawancara untuk disebarkan di sana-sini. Nama Amin Abdullah rector UIN Jogjakarta dan ketua Majlis Tarjih Muhammadiyah selaku pengagum Nasr Hamid Abu Zayd karena teori hermeneutic yang diikutinya telah menganggap Al-Qur’an sebagai produk budaya itupun diwawancarai dan disebarkan, pada bulan September 2004.

Masyarakat Islam Indonesia dijejali suguhan yang dikais-kais dari otak orang yang sudah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir dengan sejumlah pelecehan terhadap Islam.

Berikut ini cuplikan artikel yang pantas disimak:

Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd
Oleh Dr. Syamsuddin Arif
Orientalisches Seminar, Universitas Frankfurt, Jerman

Beberapa waktu lalu, sebuah workshop bertemakan kritik Wacana Agama, digelar di Jakarta.

Penyelenggaranya, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan International Center for Islam and Pluralism (ICIP), menghadirkan Nasr Hamid Abu Zayd sebagai pembicara utama. Tulisan ini bermaksud mengkritisi sosok tokoh yang sedang tenar di Indonesia ini.

Nama Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual asal Mesir yang ‘kabur’ ke Belanda dan kini mengajar di Universitas Leiden itu, pertama kali saya dengar dari Profesor Arif Nayed, seorang pakar hermeneutika yang pernah menjadi guru besar tamu di ISTAC, Malaysia, sekitar tujuh tahun yang lalu. Perkembangan kasusnya saya ikuti dari liputan media dan laporan jurnal.

Terus-terang saya tidak begitu tertarik oleh teori dan ide-idenya mengenai analisis wacana, kritik teks, apalagi hermeneutika. Sebabnya, saya melihat apa yang dia lontarkan kebanyakan –untuk tidak mengatakan seluruhnya– adalah gagasan-gagasan nyeleneh yang diimpor dari tradisi pemikiran dan pengalaman intelektual masyarakat Barat.

Promosi guru besar

Nasr Hamid Abu Zayd adalah orang Mesir asli, lahir di Tantra, 7 Oktober 1943. Pendidikan tinggi, dari S1 sampai S3, jurusan sastra Arab, diselesaikannya di Universitas Kairo, tempatnya mengabdi sebagai dosen sejak 1972. Namun ia pernah tinggal di Amerika selama dua tahun (1978-1980), saat memperoleh beasiswa untuk penelitian doktoralnya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania, Philadelphia.

Karena itu ia menguasai bahasa Inggris lisan maupun tulisan. Ia juga pernah menjadi dosen tamu di Universitas Osaka, Jepang. Di sana ia mengajar Bahasa Arab selama empat tahun (Maret 1985-Juli 1989). Karya tulisnya yang telah diterbitkan antara lain: (1) Rasionalisme dalam Tafsir: Studi Konsep Metafor Menurut Mu’tazilah (al-Ittijah al-‘Aqliy fi-t Tafsir: Dirasah fi Mafhum al-Majaz ‘inda al-Mu’tazilah, Beirut 1982); (2) Filsafat Hermeneutika: Studi Hermeneutika al-Quran menurut Muhyiddin ibn ‘Arabi’ (Falsafat at-Ta’wil: Dirasah fi Ta’wil al-Qur’an ‘inda Muhyiddin ibn ‘Arabi, Beirut, 1983); (3) Konsep Teks: Studi Ulumul Quran (Mafhum an-Nashsh: Dirasah fi ‘Ulum al-Qur’an, Kairo, 1987); (4) Problematika Pembacaan dan Mekanisme Hermeneutik (Isykaliyyat al-Qira’ah wa Aliyyat at-Ta’wil, Kairo, 1992); (5) Kritik Wacana Agama (Naqd al-Khithab ad-Diniy, 1992); dan (6) Imam Syafi’i dan Peletakan Dasar Ideologi Tengah (al-Imam asy-Syafi’i wa Ta’sis Aidulujiyyat al-Wasathiyyah, Kairo, 1992).

Kecuali nomor satu dan dua, yang berasal dari tesis master dan doktoralnya, tulisan-tulisan Abu Zayd telah memicu kontroversi dan berbuntut panjang. Ceritanya bermula di bulan Mei 1992. Abu Zayd mengajukan promosi untuk menjadi guru besar di fakultas sastra Universitas Kairo. Beserta berkas yang diperlukan ia melampirkan semua karya tulisnya yang sudah diterbitkan. Enam bulan kemudian, 3 Desember 1992, keluar keputusannya: promosi ditolak. Abu Zayd tidak layak menjadi profesor, karya-karyanya dinilai kurang bermutu bahkan menyimpang dan merusak karena isinya melecehkan ajaran Islam, menghina Rasulullah SAW, meremehkan al-Quran, dan menghina para ulama salaf. Abu Zayd tidak bisa menerima dan protes.

Beberapa bulan kemudian, pada Jumat, 2 April 1993, Profesor Abdushshabur Syahin, yang juga salah seorang anggota tim penilai, dalam khutbahnya di Mesjid ‘Amru bin ‘Ash, menyatakan Abu Zayd murtad. Pernyataan Ustadz Syahin diikuti oleh para khatib di masjid-masjid pada Jumat berikutnya. Mesir pun heboh. Harian al-Liwa’ al-Islami dalam editorialnya 15 April 1993 mendesak pihak Universitas Kairo agar Abu Zayd segera dipecat karena dikhawatirkan akan meracuni para mahasiswa dengan pikiran-pikirannya yang sesat dan menyesatkan.

Pada 10 Juni 1993 sejumlah pengacara, dipimpin oleh M Samida Abdushshamad, memperkarakan Abu Zayd ke pengadilan Giza. Pengadilan membatalkan tuntutan mereka pada 27 Januari 1994. Namun di tingkat banding tuntutan mereka dikabulkan. Pada 14 Juni 1995, dua minggu setelah Universitas Kairo mengeluarkan surat pengangkatannya sebagai profesor, keputusan Mahkamah al-Isti’naf Kairo menyatakan Abu Zayd telah keluar dari Islam alias murtad dan, karena itu, perkawinannya dibatalkan. Ia diharuskan bercerai dari istrinya (Dr Ebtehal Yunis), karena seorang yang murtad tidak boleh menikahi wanita muslimah. Abu Zayd mengajukan banding.

Ulama al-azhar

Sementara itu, Fron Ulama al-Azhar yang beranggotakan 2.000 orang, meminta pemerintah turun tangan: Abu Zayd mesti disuruh bertaubat atau—kalau yang bersangkutan tidak mau—ia harus dikenakan hukuman mati. Tidak lama kemudian, 23 Juli 1995, bersama istrinya, Abu Zayd terbang pergi ke Madrid, Spanyol, sebelum akhirnya menetap di Leiden, Belanda, sejak 2 Oktober 1995 sampai sekarang. Mahkamah Agung Mesir pada 5 Agustus 1996 mengeluarkan keputusan yang sama:

Abu Zayd dinyatakan murtad dan perkawinannya dibatalkan. Dalam putusan tersebut, kesalahan-kesalahan Abu Zayd disimpulkan sebagai berikut:

Pertama, berpendapat dan mengatakan bahwa perkara-perkara gaib yang disebut dalam al-Quran seperti ‘arasy, malaikat, setan, jin, surga, dan neraka adalah mitos belaka.

Kedua, berpendapat dan mengatakan bahwa al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), dan karenanya mengingkari status azali al-Quran sebagai Kalamullah yang telah ada dalam al-Lawh al-Mahfuz.

Ketiga, berpendapat dan mengatakan bahwa al-Quran adalah teks linguistik (nashsh lughawi). Ini sama dengan mengatakan bahwa Rasulullah  telah berdusta dalam menyampaikan wahyu dan al-Quran adalah karangan beliau.

Keempat, berpendapat dan mengatakan bahwa ilmu-ilmu al-Quran adalah tradisi reaksioner serta berpendapat dan mengatakan bahwa syariah adalah faktor penyebab kemunduran umat Islam.

Kelima, berpendapat dan mengatakan bahwa iman kepada perkara-perkara gaib merupakan indikator akal yang larut dalam mitos.

Keenam, berpendapat dan mengatakan bahwa Islam adalah agama Arab, dan karenanya mengingkari statusnya sebagai agama universal bagi seluruh umat manusia.

Ketujuh, berpendapat dan mengatakan bahwa teks al-Quran yang ada merupa kan versi Quraisy dan itu sengaja demi mempertahankan supremasi suku Quraisy.

Kedelapan, mengingkari otentisitas Sunnah Rasulullah .

Kesembilan, mengingkari dan mengajak orang keluar dari otoritas Teks-teks agama.

Kesepuluh, berpendapat dan mengatakan bahwa patuh dan tunduk kepada teks-teks agama adalah salah satu bentuk perbudakan.

Reaksi pro dan kontra bermunculan, dari kalangan intelektual maupun aktivis HAM. Pelbagai media di Barat kontan mengecam keputusan tersebut seraya memihak dan membela Abu Zayd. Mereka menuduh Abu Zayd telah dizalimi dan ditindas, bahwa hak asasinya dirampas, bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi telah dipasung. The Middle East Studies Association of North America, misalnya, melalui Komite Kebebasan Akademis melayangkan surat keprihatinan kepada Presiden Mesir, Husni Mubarak. Namun keputusan tersebut sudah final, tidak dapat diganggu-gugat dan tidak dapat dicabut lagi.

Di Belanda Abu Zayd justru mendapat sambutan hangat dan diperlakukan istimewa. Rijksuniversiteit Leiden langsung merekrutnya sebagai dosen sejak kedatangannya (1995) sampai sekarang. Ia bahkan diberi kesempatan dan kehormatan untuk menduduki the Cleveringa Chair in Law Responsibility, Freedom of Religion and Conscience, kursi profesor prestisius di universitas itu. Tidak lama kemudian, Institute of Advanced Studies (Wissenschaftskolleg) Berlin mengangkatnya sebagai Bucerius/ZEIT Fellow untuk proyek Hermeneutika Yahudi dan Islam.

Pihak Amerika tidak mau ketinggalan. Pada 8 Juni 2002, the Franklin and Eleanor Roosevelt Institute menganugrahkan The Freedom of Worship Medal_ kepada Abu Zayd. Lembaga ini menyanjung Abu Zayd terutama karena pikiran-pikiranya yang dinilai ‘berani’ dan ‘bebas’ (courageous independence of thought) serta sikapnya yang apresiatif terhadap tradisi falsafah dan agama Kristen, modernisme dan humanisme Eropa.

Di Indonesia, Abu Zayd diundang dan disambut meriah. Gagasan-gagasannya diadopsi dan dipropagandakan secara besar-besaran, buku-bukunya diterjemahkan, lokakarya dan seminar digelar. Prof Dr M Amin Abdullah dari IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dalam sebuah wawancara dengan JIL, mengaku cukup tertarik dengan karya-karya Abu Zayd seperti Naqd al-Khithab ad-Dini yang dinilainya cocok untuk dibahas (diajarkan?) di lingkungan IAIN atau PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam). Ia dan cendekiawan lainnya di Tanah Air tampaknya lupa atau sengaja menganggap sepi keputusan Mahkamah Agung Mesir, menganggap keputusan tersebut berlatarbelakang politik, dan karenanya tidak valid secara akademis.

Padahal, keputusan hukum tersebut diambil berdasarkan fakta-fakta dan hasil kesimpulan penelitian tim dan saksi ahli yang pakar di bidangnya. Jadi keputusan tersebut sah dan mengikat (valid and binding) baik secara hukum maupun secara akademis. Lebih jauh dari itu, karena dicapai melalui prosedur ilmiah, musyawarah dan kesepakatan para ahli (ulama) di bidangnya, maka keputusan tersebut sesungguhnya merupakan ijma’, bukan lagi pendapat pribadi. Dan itu diperkuat dengan pernyataan sikap ulama yang tergabung dalam Jabhat Ulama al-Azhar.

Sumber: http://www.voa-islam.com

Orang Yahudi Seperti Anjing

Oleh: Ahmad Salimin Dani

 

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (175) Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(176) Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.(177)” (QS. Al A’raf 175-177)

Mufradat al Lughowiyah

\ واتل عليهم نبــأ Wat-lu ‘alaihim naba-a : Bacakanlah pada mereka, tentang orang-orang Yahudi yang telah diberikan Al Kitab (Taurat)

\ فانسلخ منها  Pan Salakho min-haa : Lalu mereka lari melepaskan diri dari hukum Taurat, seperti lepasnya kulit ular dari badanya. Memang ini kissa Bal’am bin Bauraa yang sangat dekat  dengan nabi Musa. Lalu karena kecintaanya pada dunia, Bal’am murtad karena dia mau diperalat Fir’aun memusuhi Musa, lalu kedekatannya kepada Musa berbalik seperti Air dan minyak. Sebagai mana dikatakan Abu Su’ud.

\ فأ تبعه الشيطان Fat-ba’ahusy-syaitoon : Lalu Syaiton menyertai Bal’am

\ فكان من الغاوينFakaana minal-ghoowiin : Lalu Bal’am bin Bauraa menjadi sesat, padahal sewaktu dekat dengan nabi Musa, ia termasuk orang yang soleh.

\ و لو شئنا لـرفعناه بها  Walau Syi’naa larafa’naahu Bihaa : Dan sekiranya Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya menjadi Ulama bani Israil

\ أخلد الى الآرض Akhlada ilal-ardli : Tetapi Bal’am cinta dunia, gila harta dan dia menuhankan jabatan.

\ واتبع هواهWat-taba’a hawaa-hu : Dan Bal’am salalu mengikuti kehendak nafsunya, dari itu ia termasuk orang yang hina.

\ فمثله  كمثل الكل Fa Masaluhu kamatsali kalbi : Maka Allah jadikan perumpamaan kehidupan tokoh Yahudi seperti Bal’am, Allah perumpamakan sipatnya seperti anjing.

\ ان تحمل عليه يلهثIn Tahmilu ‘alaihi yal-has :  jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan pula  lidahnya. yang di maksud seperti Anjing yang mengeluarkan lidahnya adalah ayat tasbih, artinya orang yahudi itu sipatnya seperti anjing yang sedang kelaparan, kita beri makan atau tidak, mereka tetap saja buas dan tidak simpatik.

 

\ ذالك مثل الذين كذّبوا بآياتنا Dzaalika  mitslul-ladziina kadz-dzabuu bi-aayaatinaa : yang demikian itu, perumpamaan seperti Anjing adalah perumpamaan bagi orang-orang yang hidupnya mendustakan atau menyelisih dari ayat-ayat Allah, setelah mereka mengambil janjinya kepada Allah dan juga kepada manusia.

\ فاقصصل قصص لعلهم يتفكّرونPaq-susil Qosos la’alahum Yatafak-karuun :  Maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah kaum Yahudi yang durhaka kepada Allah itu,  agar mereka orang-orang yang sekarang berfikir

\ ســاء مثل القوم الذين كذّبوا بآياتنا  Saa-a matsalal-qaumilladzii-nakadz-dzabuu biayaatinaa : Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami

 

Bal’am Ulama yahudi

Ayat diatas menceritakan tentang Bal’am bin Bauraa, seorang ulama Yahudi yang sesat, dia adalah pembesar Bani Israil yang hidup semasa nabi Musa, bal’am orang yang terpandang, karena dia seorang ulama yang cerdik dan pandai. Kedudukannya sebagai rahib Yahudi yang menguasai isi kandungan kitab Taurat membuat bal’am disegani dikalangan bani Israil dan juga pengikut Fir’aun. Keberanian Musa menentang berbagai kejahatan dan kemusyrikan yang dilakukan Fir’aun dan para pengikutnya membuat bal’am popularitasnya tersisi, apalagi dia tahu hubungan Musa sebagai anak angkat fir’aun.

Musa semakin dikenal dikalangan bani israil. Dan keberpihakan musa yang membela bani Israil dari kedzoliman Fir’aun menjadi gondamkeretakan hubungan Musa dan keluarga Fir’aun, hingga ahirnya nabi Musa diburu dan lari mengembara, keberanian Musa menentang Firaun bagaikan petir disiang hari yang menyambar istana Fir’aun, dari itu Fir’aun mengumpulkan tukang-tukang sihirnya untuk membela diri atas kekalahannya. Dan dalam dialog ketuhanan dengan Musa. Fir’aun lagi-lagi kalah dan dipermalukan di muka umum, karena tukang-tukan g sihirnya menyatakan beriman kepda Allah dihadapan Musa. Fir’aum marah, lalu menghukum tukang-tukang sihir yang telah beriman dengan cara menyalibnya.

Firaun kehabisan akal menghadapi anak angkatnya, ahirnya dicarilah ahli kitab yang mau menghentikan da’wah nabi Musa. Hingga ahirnya Fir’aun menggunakan ketokohan Bal’am sebagai Rohib bani Israil untuk memerangi Musa. Bal’am bin Bauraa yang cinta dunia, gila harta dan jabatan, bersedia diajak Fir’aun menghadapi Musa. Bal’am diperalat untuk membungkam dan merebut keturunan bani israil dengan cara diberikan jabatan dan harta. Fir’aun sangat dekat dengan Bal’am, lebih-lebih lagi setelah nabi Musa secara terbuka menentangnya sebagai Tuhan, dengan menggunakan Bal’am berusaha memecah belah bani Israil, dan membunuh Musa. Bal’am mati dalam keadaan kufur, keimanannya kepada Allah dan kitab Taurat lepas tak berbekas, lepasnya iman dari Bal’am bagaikan kulit ular yang terlepas dari ular yang megganti kulitnya. Dari keturunan Bal’am inilah lahir keturunan bani israil yang terkutuk.

Pembangkangan bani Israel terhadap hukum-hukum Allah membuat kita ingin mengetahui lebih banyak mengenai bangsa Yahudi… Korak-korek ke sana ke mari terkumpullah bahan bahasan yang dapat kita renungkan.
Siapakah bangsa Yahudi ?
Menurut studi sejarah yang didasarkan penggalian arkeologi dan lembaran-lembaran kitab suci, awal bangsa Yahudi erat hubungannya dengan kisah nabi Ibrahim AS yang ditengarai terjadi kurang lebih 3800 tahun yang lalu atau 1800 tahun SM.

Tafsir Al-Qur’an menunjukkan bahwa Ibrahim (Abraham) alaihissalam, diperkirakan tinggal di daerah Palestina yang dikenal saat ini sebagai Al-Khalil (Hebron), tinggal di sana bersama Nabi Luth (Lot) (QS, 21:69-71). Putra nabi Ibrahim adalah nabi Ismail dan nabi Ishak kemudian putra nabi Ishak adalah nabi Jakub. 12 putra nabi Yakub ini yang kemudian dikenal sebagai 12 suku Israel.
Putra bungsu nabi Yakub alaihissalam adalah nabi Yusuf alaihissalam, setelah diceburkan dalam sumur di tengah padang pasir oleh kakak-kakaknya, lalu di selamatkan oleh para pedagang dan menjualnya kepada raja Mesir Abdul aziz kemudian diangkat anak dan mewarisi tahta menjadi kepala bendahara di Mesir. Karena itu ayahnya nabi Yakub, serta kakak-kakaknya menyusul nabi Yusuf alaihissalam ke Mesir dan hidup damai di sana sampai suatu hari Firaun yang berkuasa memperbudak keturunan mereka yang dikenal dengan bani Israel.

Karena kekejaman Firaun yang tak terkira terhadap bani Israel, Allah SWT telah mengirim nabi Musa (Moses) alaihissalam masa itu, dan memerintahkannya untuk membawa bani Israel keluar dari Mesir. Musa dan kaumnya meninggalkan Mesir, dengan pertolongan mukjizat Allah, sekitar tahun 1250 SM. Mereka tinggal di Semenanjung Sinai dan timur Kanaan. Dalam Al-Qur’an, Musa memerintahkan Bani Israel untuk memasuki Kanaan, (Qur’an, 5:21).

Setelah nabi Musa alaihissalam, bangsa Israel tetap berdiam di Kanaan (Palestina). Menurut ahli sejarah, Daud (David) menjadi raja Israel dan membangun sebuah kerajaan berpengaruh. Selama pemerintahan putranya Sulaiman (Solomon), batas-batas Israel diperluas dari Sungai Nil di Selatan hingga sungai Eufrat di negara Siria sekarang di utara.

Ini adalah sebuah masa gemilang bagi kerajaan Israel dalam banyak bidang, terutama arsitektur. Di Yerusalem, Sulaiman membangun sebuah istana yang luar biasa. Setelah wafatnya, Allah mengutus banyak lagi nabi kepada Bani Israel meskipun dalam banyak hal mereka tidak mendengarkan mereka dan mengkhianati Allah.

Setelah kematin Sulaiman, kerajaan yahudi terbelah di utara Israel dengan ibukota Samarria dan Di Selatan Juda dengan ibukota Yerrusalem. Dengan berlalunya waktu Suku yahudi jatuh di bawah Assyurriea dan Babilon atau pergi ke Mesir sebagai pelarian. Ketika raja Perrsia Kyros 539 SM mengizinkan orang Yahudi kembali dari pelarian mereka, banyak orang Yahudi yang tidak kembali, di sinilah mulainya Diaspora.  63 SM Juda dan Israel jatuh ke tangan orang Romawi dan tahun 70 berhasil menghancurkan pemberontakan Yerusalem dan menghancurkan tempat ibadah biara dan Juda.

Awal terbentuknya Israel

Setelah itu kehidupan orang Yahudi hanya ada dalam pelarian dan pengejaran, mereka umumnya hidup berasimilasi, baru di kekalifahan Usman, orang Yahudi dapat merasakan kehidupan yang damai dengan membayar pajak perlindungan. Akhir abad ke 19, ditunjang oleh Jewish Colonization Assocation Baron Hirsch, Yahudi dari Eropa Timur berreimigrasi ke Argentina dan membentuk Kolonialisme pertanian, untuk kembali ke Palestina. Ini dimulai tahun 1881.

Tanun 1798 Napoleon berpendapat bahwa bangsa Yahudi bisa diperalat bagi tujuan-tujuan Perancis di Timur Tengah. Wilayah itu secara resmi  di bawah Khilafah Usmaniyah.

Tahun 1831, untuk mendukung strategi “devide et impera” Perancis mendukung gerakan nasionalisme Arab, yakni Muhammad Ali di Mesir dan Pasya Basyir di Libanon. Khilafah mulai lemah dirongrong oleh semangat nasionalisme Arab yang menular begitu cepat di tanah Arab.

Tahun 1835 Sekelompok Yahudi membeli tanah di Palestina, lalu mendirikan sekolah Yahudi pertama di sana. Sponsornya adalah milyuder Yahudi di Inggris, Sir Moshe Monteveury, anggota Free Masonry. Ini adalah pertama kalinya sekolah berkurikulum asing di wilayah Khilafah Usmaniyah.

Tahun 1838 Inggris membuka konsulat di Yerusalem yang merupakan perwakilan Eropa pertama di Palestina. Tujuannya untuk mempermudah penempatan kaum yahudi yang yang akan berimigran secara bergerombol.

Tahun 1849 Kampanye mendorong imigrasi orang Yahudi ke Palestina. Pada masa itu tahun 1838 jumlah Yahudi di Palestina baru sekitar 12.000 orang. Pada tahun 1948 jumlahnya menjadi 716.700 dan pada tahun 1964 sudah hampir 3 juta orang. Dan Imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Palestina berselubung agama, simpatisan  dan alasan kemanusiaan bagi penderitaan Yahudi di Eropa saat itu.

Tahun 1891 Para penduduk Palestina mengirim petisi ke Khalifah, menuntut dilarangnya imigrasi besar-besaran ras Yahudi ke Palestina. Sayang saat itu khilafah sudah “sakit-sakitan” (dijuluki “the sick man at Bosporus). Dekadensi pemikiran meluas, walau Sultan Abdul Hamid sempat membuat terobosan dengan memodernisir infrastruktur, termasuk memasang jalur kereta api dari Damaskus ke Madinah via Palestina! Sayang, sebelum selesai, Sultan Abdul Hamid dipecat oleh Syaikhul Islam (Hakim Agung) yang telah dipegaruhi oleh Inggris. Perang Dunia I meletus, dan jalur kereta tersebut dihancurkan.

Tahun 1897 Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, yang isinya: Bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka”. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan “tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin” ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun. Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi !” Apa yang direncanakan Herzl menjadi kenyataan pada tahun 1948.

Tahun 1896 Theodor Herzl kelahiran Budapest membuat Negara Yahudi. Tujuannya untuk membuat negara untuk orang Yahudi di Palestina, didukung oleh uang hasil sumbangan dari seluruh orang Yahudi di dunia. Herzl ini juga dikenal pendiri zionisme, yang juga tidak disetujui oleh orang Yahudinya sendiri.

Tahun 1916 Perjanjian rahasia Sykes – Picot oleh sekutu (Inggris, Perancis, Rusia) dibuat saat meletusnya Perang Dunia (PD) I, untuk mencengkeram wilayah-wilayah Arab dan Khalifah Utsmaniyah dan membagi-bagi di antara mereka. PD I berakhir dengan kemenangan sekutu, dan Inggris mendapat tugas mengontrol wilayah Palestina. Dan di Perang Dunia I ini, Yahudi Jerman berkomplot dengan Sekutu untuk tujuan mereka sendiri (memiliki pengaruh atau kekuasaan yang lebih besar). Sehingga Jerman dan ustmaniayah kalah perang.

Tahun 1917 Menlu Inggris keturunan Yahudi, Arthur James Balfour, dalam deklarasi Balfour memberitahu pemimpin Zionis Inggris, Lord Rothschild, bahwa Inggris akan memperkokoh pemukiman Yahudi di Palestina dalam membantu pembentukan tanah air Yahudi. Lima tahun kemudian Liga Bangsa-bangsa (cikal bakal PBB) memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina.

Tahun 1938 Nazi Jerman menganggap bahwa pengkhianatan Yahudi Jerman adalah biang keladi kekalahan mereka pada PD I yang telah menghancurkan ekonomi Jerman. Maka mereka perlu “penyelesaian terakhir” (endivsung). Ratusan ribu keturunan Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi atau lari ke luar negeri (terutama ke AS). Sebenarnya ada etnis lain serta kaum intelektual yang berbeda politik dengan Nazi yang bernasib sama, namun setelah PD II Yahudi lebih berhasil menjual ceritanya karena menguasai banyak surat kabar atau kantor-kantor berita di dunia.

Tahun 1914 Di Palestina hidup 1200 orang Yahudi. Setelah kekalahan kekalifahan Usman di perang dunia ke-1, Palestina menjadi bola permainan para penguasa. Para Zionis ada di sisi Inggris dan Amerika.

Tahun 1917 Tanggal 2 November mentri luar negri Inggris Lord Balfour menandatangani Deklarasi Balfour untuk membangun negara yahudi. Sebulan kemudian masuklah tentara Inggris ke Yerusalem.

Tahun 1920 Gabungan Negara-negara menyerahkan mandat Palestina ke Inggris. Akibatnya datanglah 75.000 lagi orang Yahudi ke Palestina. Negara-negara Arab tidak menyetujui didirikannya negar Yahudi di Palestina.

Tahun 1922 Transjordania dipisahkan dari daerah mandat. Sebagai perwakilan orang Yahudi dibuatlah Jewish Agency. Di tahun ini hidup kurang lebih 80.000 orang Yahudi di Palestina

Tahun 1933 Di Jerman dimulailah pengejaran secara sistematis orang Yahudi.

Tahun 1936 Masyarakat Arab menentang politik masuknya orang Yahudi ke Palestina, tapi orang Yahudi dibantu oleh tentara Inggris.

Tahun 1937 Sesudah pemerintah Mandat membatasi imigrasi dan pembelian tanah oleh orang Yahudi, timbullah ketegangan yang dilakukan oleh organisasi bawah tanah Yahudi terhadap orang Inggris.

Tahun 1939 Pendidikan sebuah brigade Yahudi untuk memasukkan orang Yahudi ke Palestina

Tahun 1945 Komisi Inggris Amerika menganjurkan penerimaan 100.000 orang Yahudi di Palestina, tapi kemudian ditolak oleh Inggris sehingga menyebabkan kerusuhan di antara Yahudi – Palestina.

Tahun 1947 UNO menganjurkan pemisahan Palestina dan pembentukan negara Yahudi dan Arab. Perang antara Yahudi dan Arab menghindarkan dilanjutkannya rencana itu.

Tahun 1948 Inggris mengakhiri Mandatnya atas Palestina dan tanggal 14 Mei meninggalkan Palestina. Dan pada waktu yang sama berdiri Negara Israel. Tentara Yahudi dari berbagai negara yang hidup berasimilasi berkumpul untuk memasuki Palestina dan mengusir orang Palestina yang didukung oleh negara-negara Arab. Di hari yang sama Ben Gurion menyerukan kemerdekaan Israel di kota yang dibentuk mereka, Tel Aviv, dan dalam hitungan jam pendirian Negara Zionis Israel ini mendapat pengakuan dari AS dan Uni soviet, sehingga kemudian menyebabkan meletus perang hari pertama Timur Tengah.

Kelahiran Israel pada 14 Mei 1948 telah menginisiasi konflik berkepanjangan antara Arab dengan Israel. Konflik bersenjata pertama antara Arab dengan Israel terjadi beberapa hari sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Israel. Pada saat itu, Israel belum memiliki angkatan bersenjata yang resmi, dan hanya mengandalkan organisasi paramiliter seperti Haganah, Irgun, Palmach yang berjuang tanpa komando dari berbagai penjuru negara. Sementara bangsa Arab di Palestina juga mengandalkan organisasi paramiliter Futuwa dan Najjada. Namun setelah itu, bangsa Arab didukung oleh negara-negara Arab disekitar Israel seperti Irak, Yordania dan Mesir untuk mendukung perlawanan Arab terhadap Israel.

Di tengah-tengah peperangan, organisasi paramiliter Israel dilebur menjadi sebuah angkatan bersenjata yang disebut dengan Israeli Defense Forces, sehingga mereka memiliki kekuatan militer yang lebih terkomando dan rapi. Peperangan 1948 atau yang dikenal dengan nama Al Nakba dimenangkan oleh Israel, setelah selama lebih dari satu tahun bertempur. Berakhirnya perang Al Nakba ini ditandai dengan dibuatnya perjanjian perdamaian antara Israel dengan negara-negara Arab disekitarnya pada bulan Juli 1949. Dan pada tahun itu pula, eksistensi Israel sebagai negara ditegaskan dengan diterimanya Israel sebagai anggota PBB. Perang 1948 telah memunculkan persoalan pengungsi Palestina yang terusir dari kediamannya di Palestina. Sekitar 750.000 warga Palestina terpaksa menjadi pengungsi dan mencari perlindungan di negara-negara Arab.

Konflik bersenjata Arab dan Israel tidak berhenti di tahun 1949. Selama 17 tahun, ketegangan antara negara-negara Arab dan Israel masih terus terjadi, khususnya dari Presiden Mesir pada saat itu, yaitu Gamal Abdul Nasser. Dirinya seringkali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berisikan tentang keinginannya untuk menghancurkan Israel. Pada tahun 1967, terjadi konflik berikutnya antara Arab dan Israel. Israel yang telah mengerahkan kekuatan intelijennya ke seluruh wilayah negara-negara Arab, telah berhasil menghimpun informasi berkaitan dengan rencana negara-negara Arab untuk menyerang Israel. Tepatnya pada tanggal 5 Juni 1957, Israel melancarkan serangan pertamanya ke Mesir, yang dikhususkan ke pangkalan udara militer yang menjadi basis kekuatan Mesir dan selama 5 (lima) hari kemudian, Israel terus melancarkan serangan-serangannya ke negara-negara Arab yang berbatasan langsung dengan Israel seperti Yordania, Suriah, dan Lebanon. Perang yang dikenal juga dengan Six-Days War ini kembali dimenangkan oleh Israel, dan tidak hanya itu, Israel berhasil merebut wilayah Gaza dan Semenanjung Sinai dari Mesir, Jerusalem Timur dan Tepi Barat dari Yordania, dan Dataran Tinggi Golan (Golan Heights) dari Suriah. Secara faktual, aliansi kekuatan militer negara-negara Arab jauh lebih besar dibandingkan dengan Israel. Namun Israel berhasil memenangkan peperangan dan berhasil mengubah peta geopolitik di kawasan Timur Tengah. Perang 1967 lagi-lagi menghasilkan problem pengungsi. Sekitar 250.000 penduduk Palestina menjadi bagian dari gelombang kedua pengungsi Palestina, dan bergabung bersama penduduk Palestina lain yang telah berada di pengungsian.

Kekalahan negara-negara Arab dalam Six-Days War tidak membuat konflik antara Arab dengan Israel berakhir. Pada tahun 1973, tepat sebelum peringatan hari Yom Kippur oleh Yahudi, kembali terjadi konflik bersenjata antara Arab dengan Israel. Yom Kippur War menjadi puncak konflik bersenjata antara Arab dan Israel. Dalam perang ini, Bangsa Arab berhasil membalas kekalahannya dari Israel. Serbuan negara-negara Arab berhasil melumpuhkan Israel, meski Israel tidak dikalahkan secara telak. Perang ini berhasil memaksa Israel untuk mengembalikan Semenanjung Sinai dan Gaza kepada Mesir melalui sebuah perjanjian perdamaian pada tahun 1979. Sampai pada titik ini, belum ada entitas Palestina yang menjadi representasi perlawanan bangsa Arab yang berada di Palestina. Palestine Liberation Organization (PLO) memang telah dibentuk pada tahun 1964 oleh Liga Arab, tetapi statusnya sebagai representasi masyarakat Palestina baru ditegaskan pada tahun 1974.

Kehadiran PLO sebagai representasi resmi bagi rakyat Palestina telah membuat perjuangan Palestina semakin terkontrol, dan memudahkan Palestina untuk ikut serta dalam konferensi-konferensi internasional, karena status PLO sebagai gerakan pembebasan nasional yang diakui sebagai salah satu subyek hukum internasional. Meski telah memiliki organisasi yang resmi, masyarakat Palestina di tataran akar rumput tetap melancarkan perjuangannya secara otonom. Salah satu buktinya, rakyat Palestina melakukan perlawanan terhadap Israel atau yang dikenal dengan “Intifada”. Perlawanan ini dilatarbelakangi oleh kekecewaan rakyat Palestina terhadap bangsa Arab yang tidak lagi berjuang bersama-sama mereka, lalu PLO yang belum bisa menunjukkan posisinya sebagai representasi dari rakyat Palestina, dan juga tindakan represif dari Israel melalui pembunuhan-pembunuhan terhadap tokoh Palestina, penghancuran properti milik warga Palestina, dan juga pemindahan penduduk secara paksa (deportasi). Salah satu ciri khas Intifada di Palestina adalah pelemparan batu yang dilakukan oleh rakyat Palestina terhadap angkatan bersenjata Israel. Lahirnya Intifada pertama di Palestina, dan juga kematian Abu Jihad, telah menginspirasi beberapa pemimpin Palestina untuk memproklamasikan berdirinya negara Palestina pada tahun 1988. Semenjak tahun 1988, istilah “Palestina” untuk menggambarkan sebuah negara mulai dikenal. Meski pada tahun-tahun selanjutnya, PLO tetap menjadi representasi Palestina untuk berjuang di forum internasional, karena status Palestina sebagai negara belum diakui secara internasional.

Setelah terbentuknya PLO dan dideklarasikannya negara Palestina, sejumlah konferensi perdamaian antara Palestina dan Israel mulai marak dilakukan oleh negara-negara besar, seperti AS dan Russia. Konferensi perdamaian paling awal adalah Madrid Conference yang dilaksanakan pada tahun 1991, yang kemudian dilanjutkan dengan Oslo Accords pada tahun 1993. Oslo Accords menjadi salah satu tahapan penting dalam kronik perdamaian Palestina-Israel, karena memuat rencana-rencana perdamaian dan pembentukan negara Palestina. Bahkan dengan adanya Oslo Accords, Intifada yang telah berlangsung selama 5 tahun dapat dihentikan. Namun seiring terbunuhnya Yitzhak Rabin yang berperan penting dalam Oslo Accords, kesepatakan tersebut kembali mentah dan tidak dapat diimplementasikan. Setelah Oslo Accords, masih ada Hebron Agreement dan juga Wye River Memorandum yang tidak menghasilkan apapun bagi proses perdamaian Palestina dan Israel.

Pada tahun 2000, AS kembali berusaha untuk membuka jalan bagi kemungkinan perdamaian antara Palestina dan Israel. Pertemuan antara Bill Clinton, Ehud Barak, dan Yasser Arafat di Camp David, AS, kembali tidak menghasilkan kesepakatan apapun. Pada tahun ini pula, Intifada jilid ke-2 kembali muncul di masyarakat Palestina. Pasca Camp David Summit, masih ada upaya perdamaian melalui Beirut Summit yang diprakarsai oleh Arab Peace Initiative, dan juga proposal Peta Jalan atau Road Map for Peace yang diusulkan oleh Quartet on Middle East yang terdiri dari AS, Rusia, PBB, dan Uni Eropa (UE). Dan sama seperti upaya-upaya perdamaian sebelumnya, kedua pertemuan itu tidak berhasil mendamaikan Palestina dan Israel.

Pada tahun 2007, di masa-masa akhir pemerintahan George W. Bush, Quartet on Middle East ditambah dengan partisipasi dari Mesir, mengadakan konferensi untuk kembali membicarakan perdamaian antara Palestina dan Israel di Annapolis. Untuk pertama kalinya dalam kronik sejarah proses perdamaian Palestina dan Israel, solusi dua negara disebutkan secara eksplisit dalam proses konferensi. Dengan diterimanya solusi dua negara dalam Annapolis Conference, maka telah terjadi perubahan dalam platform politik yang telah lama dianut oleh Palestina dan Israel. Meski demikian, hasil dari Annapolis Conference masih belum bisa diimplementasikan karena semakin rumitnya konflik yang terjadi di wilayah Palestina-Israel.

Setelah memahami permasalahan watak tabiat yahudi dan kondisi umat islam Palestina, maka kita harus mensosialisasikan pemahaman ini kepada seluruh umat Islam. Masih banyak umat Islam yang belum memahami kondisi dan permasalahan Palestina. Hal ini terjadi karena banyak sebab, di antaranya faktor lemahnya keimanan dan problematika yang dihadapi oleh umat Islam itu sendiri di seluruh dunia, sehingga yang unggul propaganda Zionis yang selalu menyudutkan um at Islam. Oleh karena itu setiap individu yang mengaku muslim harus memberikan pengertian pada umat Islam yang lain di seluruh dunia bahwa masalah Palestina adalah masalah utama umat Islam, dan masa depan umat akan sangat terkait dengan perjuangannya melawan kedzoliman bangsa Yahudi, teruitama terhadap umat Islam Palestina. Di Palestina ada Al-Masjid Al-Aqsa kiblat pertama umat Islam yang sedang terancam. Bahwa Rasulullah saw. memimpin shalat berjama’ah yang diikuti oleh para nabi dan rasul pada peristiwa Isra’ yang merupakan pewarisan tanah Palestina pada umat Islam. Bahwa Umar bin Khattab r.a. menerima penyerahan kunci langsung Kota Palestina (Al-Quds).

(av/voa-islam)

http://voa-islam.com

Voa-islam.com Michel Collon, seorang wartawan Belgia dan penulis, dalam bukunya “Israel, let’s talk about it,” telah mengecam media Eropa selama beberapa dekade karena “berbohong” kepada orang-orang untuk mendukung Israel.

Collon, dalam bukunya, telah menceritakan “10 kebohongan besar” yang disebarkan oleh media Barat untuk “membenarkan keberadaan dan tindakan Israel”, yang ringkas disajikan di bawah ini:

1. Kebohongan pertama adalah bahwa Israel didirikan sebagai reaksi terhadap pembantaian orang Yahudi selama Perang Dunia II.

  • Anggapan ini salah sama sekali. Israel sebenarnya menguasai proyek yang telah disetujui dalam Kongres Pertama Zionis di Basel, Swiss, pada tahun 1897, ketika orang-orang Yahudi nasionalis memutuskan untuk menduduki Palestina.

2. Pembenaran kedua untuk membuat dan melegitimasi Israel adalah bahwa orang Yahudi akan kembali ke tanah nenek moyang mereka, dimana mereka telah diusir pergi pada tahun 70 AD

  • Ini adalah dongeng, Aku telah berbicara kepada sejarawan Israel terkenal Shlomo Sand dan sejarawan lainnya dan mereka semua percaya bahwa tidak ada “eksodus” dari Yahudi, jadi “kembali” tidak ada artinya. Orang-orang yang meniggalkan di Palestina tidak meninggalkan tanah mereka di era kuno.
  • Bahkan keturunan Yahudi yang berada di Palestina adalah orang-orang yang saat ini tinggal di Palestina. Mereka yang mengklaim bahwa mereka ingin kembali ke tanah mereka justru Yahudi yang berasal dari Barat, Eropa Timur dan Afrika Utara.
  • Sand mengatakan tidak ada bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi tidak memiliki sejarah umum, bahasa atau budaya. Satu-satunya hal yang umum di antara mereka adalah agama mereka, dan agama tidak membuat suatu bangsa.

3. Kebohongan ketiga adalah bahwa ketika Palestina diduduki imigran Yahudi, wilayah itu tidak berpenduduk dan tanpa batas negara.

  • Namun, ada dokumen dan fakta-fakta yang membuktikan bahwa pada abad ke-19 produk pertanian Palestina yang diekspor ke berbagai negara, termasuk Prancis.

4. Keempat, beberapa orang mengatakan orang-orang Palestina meninggalkan negara mereka pada mereka ingin bebas sendiri.

  • Ini adalah satu lagi kebohongan yang banyak orang percaya, termasuk saya sendiri. Sampai sejarawan Israel seperti Benny Morris dan Ilan Pappe mengatakan bahwa orang Palestina diusir dan dibuang dari tanah mereka dengan menggunakan kekerasan dan teror.

5. Dikatakan bahwa saat ini Israel adalah satu-satunya demokrasi di Timur Tengah dan itu harus dilindungi, ini adalah “hukum dari pemerintah.”

  • Tetapi menurut saya tidak hanya itu bukan hukum dari pemerintah, melainkan hanya rezim yang hukumnya tidak mendefinisikan wilayah dan batas-batas. Semua negara-negara di dunia memiliki konstitusi yang mendefinisikan batas-batas negara mereka, tetapi hal seperti itu berlaku bagi Israel. Israel adalah proyek perluasan wilayah yang tidak tahu batas, dan hukum yang benar-benar rasis, menurut hukum ini Israel adalah negara bagi orang Yahudi, dan warga non-Yahudi tidak dianggap sebagai manusia. hukum seperti ini merupakan kontradiksi terhadap demokrasi.

6. Dikatakan bahwa AS berusaha untuk melindungi demokrasi di Timur Tengah dengan melindungi Israel. Dan kita tahu bahwa jumlah bantuan keuangan tahunan AS ke Israel sebesar 3 miliar dolar. Dan uang ini digunakan untuk membombardir negara-negara tetangga Israel.

  • Tapi Amerika tidak sedang membangun demokrasi di Timur Tengah, melainkan hanya menginginkan arus minyak mereka tidak terganggu.

7. Mereka berpura-pura bahwa AS mencari kesepakatan damai antara Israel dan Palestina.

  • Hal ini juga sepenuhnya salah dan dusta. Mantan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana mengatakan kepada Israel bahwa “Anda adalah negara Uni Eropa ke-21.” Industri senjata Eropa bekerja sama dengan industri militer Israel dan mendukung mereka secara finansial. Tapi ketika orang-orang Palestina memilih pemerintahan mereka, Eropa tidak mengakui itu dan memberi lampu hijau kepada Israel untuk menyerang Jalur Gaza.

8. Ketika seseorang berbicara tentang fakta-fakta dan sejarah Israel dan Palestina, ketika seseorang mengungkapkan kepentingan AS dalam situasi ini, mereka menyebut Anda sebagai anti-Semit untuk membuat Anda diam.

  • Tapi kita harus mengatakan bahwa ketika kita mengkritik Israel, itu bukan rasisme atau anti-Semitisme. Kita mengkritik pemerintah yang tidak percaya pada kesetaraan antara Yahudi, Kristen dan Muslim, dan menghancurkan perdamaian antara pengikut agama yang berbeda.

9. Media massa mengatakan bahwa orang-orang Palestina penyebab kekerasan dan terorisme.

  • Kita mengatakan tentara pendudukan Israel adalah kejam, kebijakan mereka yang telah mencuri tanah dan rumah milik orang-orang Palestina adalah kejam.

10. Suatu hal yang sering diajukan adalah bahwa tidak ada cara untuk mengatasi situasi ini, dan tidak ada solusi untuk kebencian dan dendam yang disebabkan oleh Israel dan kaki tangannya.

  • Tapi ada solusi. Satu-satunya hal yang dapat menghentikan proses ini adalah tekanan publik kepada Antek Israel di AS dan Eropa dan bagian lain dari dunia; tekanan publik di media massa yang menahan diri dari mengatakan kebenaran tentang Israel, dan menggunakan Internet atau dari media lain membiarkan untuk mempublikasikan berita nyata tentang Palestina. (pt)

 

Sumber: http://www.voa-islam.com