Munculnya aliran sesat di Indonesia berlatarbelakang Kejawen yang melecehkan ajaran-ajaran Islam bukan kali ini saja terjadi. Pada masa lalu, pelecehan terhadap Islam oleh para penganut Kejawen dan aktivis kebangsaan juga kerap dilakukan. Mereka menyebut Islam sebagai agama yang diimpor dari Arab dan tidak cocok bagi masyarakat Jawa. Karena itu, mereka melakukan pelecehan terhadap syariat haji, shalat lima waktu, melecehkan al-Qur’an, dan lain-lain.

Sebut misalnya pelecehan yang dilakukan oleh dr Soetomo, pendiri organisasi Boedi Oetomo. Dalam sebuah pernyataannya di koran Soeara Oemoem, Soetomo pernah mengatakan, “Uang yang digunakan untuk naik haji ke Mekkah sebenarnya lebih baik digunakan untuk usaha-usaha di bidang ekonomi dan kepentingan nasional.” Bagi Soetomo, uang yang dipakai untuk berhaji, tak lain adalah menimbun uang untuk kepentingan asing. Soeara Oemoem juga pernah memuat sebuah artikel yang ditulis oleh orang yang menggunakan nama samaran “Homo Sum”. Tulisan itu mengatakan bahwa ke Boven Digul lebih baik dari pada ke Makkah. Siapa “Homo Sum” itu? Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa itu adalah Soetomo. Soeara Oemoem adalah surat kabar yang dipimpin oleh Soetomo, yang banyak menyajikan berita dan artikel tentang kebatinan.

pelecehan Islam yang mereka lakukan adalah mengulang cerita lama pelecehan-pelecehan yang pernah dilakukan para penganut Kejawen. Mereka seolah menyimpan ‘dendam turunan’, karena kepercayaan Kejawen terkikis oleh ajaran Islam.

Kebanyakan aktivis Kejawen saat itu adalah orang-orang yang berada di bawah pengaruh Theosofi dan Freemasonry. Sebab, pelecehan yang dilakukan mereka terhadap Islam, sama persis dengan pelecehan yang dilakukan oleh para anggota Freemasonry dan Theosofi pada masa itu. Theosofi misalnya, pernah mengatakan, tidak usah beribadah haji ke Mekkah, cukup dengan mengunjungi candi Borobudur saja. Saat itu, kelompok Theosofi di Indonesia menyebut Candi Borobudur sebagai “Baitullah di Tanah Java”.

Pelecehan serupa pernah dilakukan oleh Jong Vrijmeteselarij alias Pemuda Freemasonry di Batavia. Dalam sebuah pertemuan di Loge Broderketen Batavia, seorang propaganda Freemasonry yang menyebut Islam sebagai agama impor dan menghina tempat suci umat Islam, Baitullah, yang menurut mereka tak lebih baik dari Candi Borobudur dan Mendut.” Indonesia mempunyai kultur sendiri dan kultur Arab tidak lebih tinggi dari Indonesia. Mana mereka mempunyai Borobudur dan Mendut? Lebih baik mengkaji dan memperdalam Budi Pekerti daripada mengkaji agama impor. Kembangkan nasionalisme dalam semua bidang!” tegasnya.

Pada 21 April 1904, sebuah Koran Melayu-Jawa bernama “Darmo-Kondo” yang terbit di Surakarta memuat karangan tanpa nama penulis berjudul “Hal Budi Manusia”. Dalam tulisan itu dibahas tentang pengertian Budi. “Di antara keagungan yang ada di dunia, tidak ada yang lebih agung daripada “Budi”…orang berbudi yang tertidur lebih mulia daripada si dungu yang shalat.”

Dalam Koran Djawi Hisworo yang terbit di Solo pada 1918, penganut Kejawen Marthodharsono dan Djojodikromo membuat tulisan yang menghina Nabi Muhammad SAW dengan menyebutnya sebagai pemabuk dan penghisap candu. Penghinaan juga dilakukan aktifis Kejawen yang juga anggota Theosofi, Soewarni Pringgodigdo, yang mengatakan bahwa poligami adalah hal yang nista dan merendahkan perempuan. Soewarni mengatakan, Indonesia tidak akan mendapatkan kemerdekaan yang sempurna selama rakyatnya menyukai poligami. Poligami, katanya, hanya menjerumuskan orang ke jurang kehinaan dan ketidakmerdekaan. Karena itu jika bangsa Indonesia ingin maju dan modern, poligami harus dihapuskan.

Penghinaan terhadap ajaran Islam juga pernah dilakukan oleh aktifis Theosofi-Kejawen Siti Soemandari dalam Majalah Bangoen pada tahun 1937. Dalam beberapa artikel di majalah tersebut, Siti Soemandari sebagai pemimpin redaksi banyak memuat artikel yang melecehkan Islam, terutama tentang pernikahan dan menghina istri-istri Rasulullah. Akibat pelecehan yang dilakukan Majalah Bangoen umat Islam mengadakan rapat akbar di Batavia untuk memprotes artikel tersebut. Apalagi diketahui, Majalah Bangoen dibiayai oleh Freemasonry.

Pelecehan Islam oleh Aliran Sesat Masa Kini

Kasus terbaru tentang aliran sesat Perguruan Santriloka dan Padange Ati (PA), sejatinya adalah mengulang cerita lama pelecehan-pelecehan yang pernah dilakukan para penganut Kejawen. Mereka seolah menyimpan ‘dendam turunan’, karena kepercayaan Kejawen terkikis oleh ajaran Islam.

Mengapa para penganut Kejawen begitu membenci ajaran Islam? Setidaknya kita bisa merunut kisah dari sejarah runtuhnya Kerajaan Mojopahit yang bercorak Hindu-Budha dan berdirinya Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Para raja Demak yang menganut Islam kemudian menyebarkan ajaran Islam ke rakyatnya, dan berusaha membersihkan kepercayaan peninggalan Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa.

Mereka beranggapan, al-Qur’an yang beredar saat ini salah karena dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Mojopahit, Jawa, dan Pancasila…

Kisah paling terkenal dalam masyarakat Jawa adalah tentang Syekh Siti Jenar alias Syekh Lemah Abang (1426-1517), penganut kebatinan yang menyebarkan ajaran wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti), yaitu bersatunya hamba dengan Tuhan. Ajaran Syekh Siti Jenar kemudian dianggap meresahkan oleh Wali Songo, para mubaligh Islam pada masa Kerajaan Islam Demak, karena bisa membawa kepada kesesatan. Syekh Siti Jenar kemudian dipanggil para wali dan petinggi kerajaan. Karena tetap mempertahankan keyakinannya, Syekh Siti Jenar akhirnya dihukum gantung di hadapan Sultan Fatah.

Meski sudah mati, ajaran Syekh Siti Jenar masih berkembang di Jawa. Mereka yang menganut paham wihdatul wujud atau al-hulul masih menjadikan Siti Jenar sebagai panutan, terutama oleh berbagai aliran kebatinan. Mereka yang meyakini Syekh Siti Jenar sebagai waliyullah, seperti menyimpan dendam turunan pada ajaran Islam. Sampai akhirnya muncul berbagai pernyataan yang mengatakan bahwa Islam adalah agama impor yang menjajah tanah Jawa. Pernyataan ini pernah dilontarkan oleh para aktivis Theosofi dan Freemasonry pada masa-masa suburnya gerakan tersebut di negeri ini.

Sebagai bukti bahwa penganut Kejawen seperti “menyimpan dendam turunan” pada ajaran Islam adalah kasus terbaru munculnya Perguruan Ilmu Kalam Santriloka, di Mojokerto, Jawa Timur, pada Oktober 2009. Santriloka menyatakan bahwa Islam adalah agama impor yang bertujuan menjajah tanah Jawa. Mereka juga beranggapan, al-Qur’an yang beredar saat ini salah, karena sesungguhnya al-Qur’an itu bukan dalam bahasa Arab, melainkan bahasa Kawi, bahasa Sanskerta, dan bahasa Jawa Kuno. Al-Qur’an yang beredar saat ini disebut sebagai buatan orang Arab untuk menjajah bangsa Indonesia. Karena mereka yakin bahwa al-Qur’an sesungguhnya dalam bahasa Jawa Kuno, maka bagi mereka al-Qur’an sebenarnya diturunkan di tanah Jawa kepada para wali dan Dewa. Naf’an menegaskan, ”Al-Qur’an yang ada ini, dimodifikasi oleh orang-orang untuk merusak Mojopahit, Jawa, dan Pancasila. Siapa yang bertanggungjawab kalau al-Qur’an ini salah. Apa Nabi mau tanggungjawab.

Santriloka juga mengaku menjalankan kepercayaan wihdatul wujud dan meyakini Syekh Siti Jenar sebagai waliyullah yang bisa menjadi sarana tawassul. “Syekh Siti Jenar merupakan salah satu wali yang kami tawassul saat wiridan, ” ujar Ahmad Naf’an pimpinan perguruan sesat ini. Bagi para penganut kebatinan Syekh Siti Jenar adalah waliyullah yang dizalimi oleh para penganut Islam pada masa Kerajaan Demak

Doktrin Pluralisme
Seperti juga doktrin Theosofi yang kental dengan aroma pluralisme, Santriloka dan juga catatan-catatan dalam kitab para penganut Kejawen juga sangat kental dengan paham yang sama. Santriloka misalnya, menggunakan motto “Iman Sedarah” yang maksudnya agama apa saja pada intinya sama dalam keimanan. Mereka juga menolak surat al-Kafirun dalam Al-Qur’an yang dianggap bisa memecah-belah umat manusia. “Surat Al-Kafirun, itu sesat. Bukan kalam Allah tapi suara orang Arab. Bagaimana, kok bisa Tuhan Allah mengecam dan menyuruh orang agar memusuhi orang yang dianggap kafir, ” tegas Naf’an.

Doktrin pluralisme juga bisa dilihat dalam Darmogandul. Kitab  penganut Kejawen ini banyak berisi pelecehan terhadap ajaran Islam. Ajaran-ajaran Kejawen yang mirip dengan doktrin-doktrin yang ada pada ajaran Kristen…

Ketika para penganut Kejawen mengatakan bahwa tak perlu beribadah haji ke Mekkah, cukup dengan mengunjungi Borobudur dan Islam adalah agama impor yang menjajah tanah Jawa, maka jelaslah “sikap dendam” mereka terhadap ajaran Islam yang dianggap bertanggungjawab dalam runtuhnya peradaban Jawa Kuno yang bercorak Hindu-Budha.

Doktrin pluralisme juga bisa dilihat dari Kitab Darmogandul, kitab para penganut Kejawen yang banyak berisi pelecehan terhadap ajaran Islam. Dalam kitab tersebut, banyak ajaran-ajaran Kejawen yang mirip dengan doktrin-doktrin yang ada pada ajaran Kristen. Isi Kitab Darmogandul dalam beberapa hal justru menunjukkan bahwa penulisnya yang no name (tanpa nama) terlihat lebih menguasai ajaran-ajaran Kristen. Dalam kitab ini penulisnya berusaha untuk menggambarkan bahwa agama Kristen lebih unggul dibanding agama-agama lain. Kristen dalam Darmogandul digambarkan dengan imej positif, sementara Islam digambarkan dengan sangat negatif, bahkan melecehkan. (Lihat: Susiyanto: Jejak Syariah Phobia dalam Pemikiran Jawa, (Makalah), 2009).

Dalam Kitab Darmogandul disebut istilah wit kawruh yang berarti “Pohon Pengetahuan”, sebuah idiom yang terdapat dalam ajaran Kristen seperti tercatat dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Kejadian 2:16-17: “Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”. Dalam istilah yang hampir sama, ajaran Kabbalah menggunakan istilah “Pohon Kehidupan” (Tree of Life).

Berikut kutipannya:

“… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora naganggo nembah brahala, mung nembah marang Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane Allah, awit Allah kang mujudake, mangkana kang kasebut ing kitab Ambiya.”

(Yang dinamakan agama Nasrani artinya sarana berbakti benar-benar berbakti kepada Tuhan, tanpa menyembah berhala, hanya menyembah Allah, Maka gelar Gusti Kanjeng Nabi Isa adalah Putra Allah, karena Allah yang mewujudkannya, demikian yang termaktub dalam kitab Ambiya).

Kisah dalam Kitab Darmogandul juga merujuk pada Perjanjian Lama yang dijadikan dasar rujukan oleh Kristen dan Yahudi. Misalnya kisah mengenai putra Nabi Daud yang disebut akan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan ayahnya. Kudeta tersebut gagal, dan sang anak mati tersangkut di pohon.

Berikut kutipannya:
“…carita tanah Mesir, panjenengane Kanjeng Nabi Dawud, putrane anggege keprabone rama, Nabi dawud nganti kengser saka nagara, putrane banjur sumilih jumeneng nata, ora lawas Nabi Dawud saged wangsul ngrebut negarane. Putrane nunggang jaran mlayu menyang alas, jaranae ambandang kecantol-cantol kayu, putrane Nabi Dawud sirahe kecantol kayu, ngati potol gumantung ana ing kayu, iya iku kang di arani kukuming Allah.”

(cerita dari Mesir, Beliau Nabi Dawud, putranya bernafsu menggantikan kekuasaan sang ayah. Nabi Dawud sampai terdesak meloloskan diri keluar dari Negara, Anaknya tersebut kemudian menggantikan sebagai raja, tidak seberapa lama Nabi dawud kembali berhasil merebut negaranya. Anaknya melarikan diri dengan mengendarai kuda menuju ke hutan. Kuda tersebut berlari tanpa tentu arah tersangkut-sangkut kayu. Putra Nabi dawud kepalanya menyangkut di kayu sampai terpotong menggantung dikayu. Itulah yang dinamakan hukum Allah).

Dalam perjanjian Lama, Kitab Samuel 2 pasal 15-18 diceritakan, Absalom putra Raja Daud berusaha mengadakan makar dengan menghimpun kekuatan rakyat untuk memberontak terhadap ayahnya. Dalam pemberontakan itu, Absalom kalah dan tewas mengenaskan dengan kepala tersangkut di atas pohon saat melarikan diri dengan menggunakan bagal, binatang keturunan kuda dan keledai. (Susiyanto, Ibid, hal.6)

Contoh doktrin-doktrin pluralisme juga bisa dilihat dari ajaran-ajaran yang menjadi kepercayaan organisasi-organisasi Kejawen seperti Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu), Agama Sapta Dharma, Paguyuban Sumarah, Paguyuban Ilmu Sejati, Susila Budi Dharma, Agama Jawa-Sunda, dan lain-lain. Organisasi-organisasi ini meyakini bahwa semua agama adalah sama.

Politik Kolonialis
Mengenai asal usul Kejawen, sejarawan Niels Mulder mengatakan, ”Kejawen sejauh yang kita ketahui saat ini jelas-jelas merupakan sebuah produk dari pertemuan antara Islam dengan peradaban Jawa Kuno, produk dari penjinakan, penundukkan kerajaan-kerajaan Jawa oleh kongsi dagang Hindia Timur (VOC), hasil dari pertemuan kolonial antara orang Jawa dan Belanda.” (Niels Mulder, Mistisisme Jawa: Ideologi di Indonesia, Yogyakarta: LKiS, 2009).

Karena persentuhannya dengan kolonialisme dan aliran-aliran lain seperti Theosofi yang berupaya merusak Islam, maka wajar jika ajaran kebatinan juga banyak melecehkan ajaran Islam…

Niels menggambarkan bahwa Kejawen adalah “produk penjinakan dan penundukkan” kerajaan-kerajaan Jawa oleh VOC. Dan seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya, bahwa banyak dari pegawai VOC, dari juru tulis sampai jabatan tertinggi, adalah para keturunan Yahudi yang di kemudian hari membangun jaringan Freemasonry dan Theosofi di Indonesia. Niels menegaskan, orang Jawa dan Eropa bertemu dalam masyarakat Theosofis, dalam kawruh beja (Ilmu Kebahagiaan).

Soal pengaruh kolonialis dalam Kejawen juga dinyatakan oleh Buya Hamka. Dalam tulisannya tentang perkembangan kebatinan di Indonesia, Hamka menyatakan bahwa ada upaya-upaya dari kelompok orientalis Belanda yang menyusup ke dalam ajaran kebatinan atau Kejawen, dengan berkedok meneliti ajaran kepercayaan Jawa tersebut, kemudian menyebarkannya ke kalangan masyarakat Islam dengan tujuan perusakan akidah. Mereka menyebarkan propaganda bahwa kebatinan tak ubahnya sebagai sufisme dalam Islam.

Hamka mengatakan, “Sarjana-sarjana orientalis seperti Snouck Hurgronye, Dr Drewes, Dr Rinkes, dan lain-lain mengkaji secara ilmiah tasauf kuno dan kejawen, kemudian disebarkan kepada masyarakat. Sehingga disimpulkan oleh mereka bahwa tasawuf Islam adalah “al-hulul” atau “bersatunya kawula nan gusti”. Tujuannya, apabila tasawuf sudah dipelajari secara mendalam, maka syariat tidak perlu lagi. Orang Islam yang bertasawuf bisa mencapai persatuan dengan Tuhan.” (Hamka, Perkembangan Kebatinan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1974).

Karena persentuhannya dengan kolonialisme dan aliran-aliran lain seperti Theosofi yang berupaya merusak keyakinan Islam, maka wajar jika ajaran-ajaran kebatinan juga banyak melecehkan ajaran Islam. Tentang jihad misalnya, para penganut kebatinan mengatakan, ”berjuang melawan hawa nafsu sendiri karena isyq dan cinta kepada Tuhan Semesta Sekalian Alam lebih tinggi nilainya daripada mati syahid di medan perang karena mempertahankan agama dari serbuan musuh.”

Antara misi Kristen dengan penjajahan Belanda memang satu paket. Dan untuk melakukan pelemahan terhadap Islam yang saat itu begitu gigih melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, menghasut dengan membuat cerita-cerita negatif dan melecehkan adalah salah satu cara yang mereka gunakan. Tak tertutup kemungkinan, mereka melakukan politik pecah belah, memukul dengan menggunakan tangan kelompok kebatinan, yang memang sudah dari dulu menyimpan ‘dendam’ dengan umat Islam akibat jatuhnya Mojopahit ke tangan kerajaan Demak. [Artawijaya/voa-islam.com