KITA sering tidak tahu apa itu perayaaan hari Valentine yang sebenarnya?
Saat ini banyak orang-orang yang tak tahu sejarah terciptanya valentine.
Maka dari itu, ketahuilah sejarah Valentine jika Anda ingin merayakan
Valentine. Menurut sumber yang sangat dipercaya, Valentine berawal dari
sebuah perayaan Lupercalia yang tak lain adalah rangkaian upacara
pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari).

Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish
love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama ?nama
gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan
gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk
senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta
perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini,
kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk
dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini
dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama
gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah
Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia
Britannica, sub judul: Christianity). Dan pada 496 M Paus Gelasius I
menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan
nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan
mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).

The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada
3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya
dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak
pernah ada penjelasan siapa St. Valentine termaksud, juga dengan
kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber
mengisahkan cerita yang berbeda.

Tapi menurut versi PERTAMA, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap
dan memenjarakan St. Valentine. Ia adalah seorang Bishop (Pendeta) di
Terni, satu tempat sekitar 60 mil dari Roma. Iapun dikejar-kejar karena
mempengaruhi beberapa keluarga Romawi dan memasukkan mereka ke dalam
agama Kristen. Kemudian ia dipancung di Roma sekitar tahun 273 masehi.

Sebelum kepalanya dipenggal, Bishop (Pendeta) itu mengirim surat kepada
para putri penjaga-penjaga penjara dengan mendoakan semoga bisa melihat
dan mendapat kasih sayang Tuhan dan kasih sayang manusia. ?Dari
Valentinemu? demikian tulis Valentine pada akhir suratnya itu. Surat itu
tertanggal 14 Februari 270 M. sehingga tanggal tersebut ditetapkan
sebagai Valentine?s Day atau Hari Kasih Sayang.

Versi KEDUA, menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara
muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada
orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah,
namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda
sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M
(lihat: The World Book Encyclopedia, 1998).

Versi KETIGA, perayaan ini dihubungkan dengan St. Valentine, seorang
Pendeta yang hidup di Roma pada tahun 200 masehi, dibawah kekuasaan
Kaisar Claudius II. St. Valentine ini pernah ditangkap oleh orang-orang
Romawi dan dimasukkan ke dalam penjara, karena dituduh membantu satu
pihak untuk memusuhi dan menentang Kaisar. St. Valentine ini berhasil
ditangkap pada akhir tahun 270 masehi. Kemudian orang-orang Romawi
memenggal kepalanya di Palatine Hill (Bukit Palatine) dekat altar Juno.

Adapun kebiasaan mengirim kartu Valentine yang sering dilakukan pada
saat perayaan hari kasih sayang tersebut, sebenarnya tidak ada kaitan
langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans
dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang
St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis.
Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim
kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12
hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).

Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine? Ken Sweiger dalam artikel
Should Biblical Christians Observe It?? mengatakan kata Valentine
berasal dari Latin yang berarti : ?Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan
Yang Maha Kuasa. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan
orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita
meminta orang menjadi, to be my Valentine, hal itu berarti menduakan
Tuhan (karena memintanya menjadi Sang Maha Kuasa) dan menghidupkan
budaya pemujaan kepada berhala. Adapun lambang Cupid (berarti: the
desire), si bayi bersayap dengan panah adalah putra Nimrod the hunter
dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu
wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!

Merayakan Valentine Day, Berarti Ikut Menuhankan Yesus

Di hari-hari ini, sesekali pergilah ke mall atau supermarket besar yang

ada di kota Anda. Lihatlah interior mall atau supermarket tersebut. Anda

pasti menjumpai interiornya dipenuhi pernak-pernik—apakah itu berbentuk

pita, bantal berbentuk hati, boneka beruang, atau rangkaian bunga—yang

didominasi dua warna: pink dan biru muda.

Dan Anda pasti mafhum, sebentar lagi kebanyakan anak-anak muda seluruh

dunia akan merayakan Hari Kasih Sayang atau yang lebih tenar distilahkan

dengan Valentine Day.

Momentum ini sangat disukai anak-anak remaja, terutama remaja perkotaan.

Karena di hari itu, 14 Februari, mereka terbiasa merayakannya bersama

orang-orang yang dicintai atau disayanginya, terutama kekasih. Valentine

Day memang berasal dari tradisi Kristen Barat, namun sekarang momentum

ini dirayakan di hampir semua negara, tak terkecuali negeri-negeri Islam

besar seperti Indonesia.

Sayangnya, tidak semua anak-anak remaja memahami dengan baik esensi dari

Valentine Day. Mereka menganggap perayaan ini sama saja dengan

perayaan-perayaan lain seperti Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan sebagainya.

Padahal kenyataannya sama sekali berbeda.

Hari Ibu, Hari Pahlawan, dan semacamnya sedikit pun tidak mengandung

muatan religius. Sedangkan Valentine Day sarat dengan muatan religius,

bahkan bagi orang Islam yang ikut-ikutan merayakannya, hukumnya bisa

musyrik, karena merayakan Valentine Day tidak bisa tidak berarti juga

ikut mengakui Yesus sebagai Tuhan. Naudzubilahi min Dzalik. Mengapa

demikian?

SEJARAH VALENTINE DAY

Sesungguhnya, belum ada kesepakatan final di antara para sejarawan

tentang apa yang sebenarnya terjadi yang kemudian diperingati sebagai

hari Valentine. Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April

Mop, Hallowen: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar, 2005),

sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:

Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang

paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup

pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14

Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak

memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke

dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi

dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.

Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang

sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender

Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan

Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada

pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.

Di Roma kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, yang

merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa

kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang

dan berpakaian kulit kambing.

Di zaman Roma Kuno, para pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan

ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban

berupa kambing kepada sang dewa.

Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam

kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh

siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk

disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit

kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu

yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi

Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana pada tanggal

15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari),

dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno

Februata.

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di

dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilakan mengambil nama secara

acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun

penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek hiburan sang pemuda yang

memilihnya.

Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan

Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki

muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuann itu

berebutan untuk bisa mendapat lecutan karena menganggap bahwa kian banyak

mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara

paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara

lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor.

Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius

I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan

nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang

kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari.

Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah

disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini

sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari.

Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi.

Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya

“St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah

diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang

berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan

Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo

Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa

Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi.

Orang-orang yang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan

menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda

bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang

yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi

tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tentangan

dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam pula menikahkan banyak

pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan

hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada tanggal 14

Februari 269 M.

TRADISI KIRIM KARTU

Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan

langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of

Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang

St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di

Perancis.

Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkannya dengan

musim kawin burung-burung dalam puisinya.

Lantas, bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” yang sampai sekarang

masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh

pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine”

berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan dengan arti: “Yang

Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini sebenarnya

pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang

Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain

atau pasangannya menjadi “To be my Valentine?”, maka dengan hal itu

sesungguhnya kita telah terang-terangan melakukan suatu perbuatan yang

dimurkai Tuhan, istilah Sweiger, karena meminta seseorang menjadi “Sang

Maha Kuasa” dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali

budaya pemujaan kepada berhala.

Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi atau lelaki rupawan setengah

telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod “the hunter”

dewa Matahari. Disebut tuhan Cinta, karena ia begitu rupawan sehingga

diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri

pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu!

Silang sengketa siapa sesungguhnya Santo Valentine sendiri juga terjadi

di dalam Gereja Katolik sendiri. Menurut gereja Katolik seperti yang

ditulis dalam The Catholic Encyclopedia (1908), nama Santo Valentinus

paling tidak merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang

berbeda, yakni: seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna (modern

Terni), dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Koneksi antara

ketiga martir ini dengan Hari Valentine juga tidak jelas.

Bahkan Paus Gelasius II, pada tahun 496 menyatakan bahwa sebenarnya tidak

ada yang diketahui secara pasti mengenai martir-martir ini, walau

demikian Gelasius II tetap menyatakan tanggal 14 Februari tiap tahun

sebagai hari raya peringatan Santo Valentinus.

Ada yang mengatakan, Paus Gelasius II sengaja menetapkan hal ini untuk

menandingi hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via

Tibertinus dekat Roma, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus.

Jenazah itu kemudian ditaruh dalam sebuah peti emas dan dikirim ke Gereja

Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah

diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada 1836.

Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari

Valentine, di mana peti emas diarak dalam sebuah prosesi khusyuk dan

dibawa ke sebuah altar tinggi di dalam gereja. Pada hari itu, sebuah misa

khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang

sedang menjalin hubungan cinta. Hari raya ini dihapus dari kalender

gerejawi pada tahun 1969 dengan alasan sebagai bagian dari sebuah usaha

gereja yang lebih luas untuk menghapus santo dan santa yang

asal-muasalnya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena hanya berdasarkan

mitos atau legenda. Namun walau demikian, misa ini sampai sekarang masih

dirayakan oleh kelompok-kelompok gereja tertentu.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari mitos dan legenda

zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme

(penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati

siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada

tanggal 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati

secara resmi Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin,

Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok

gereja Katolik masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.

KEPENTINGAN BISNIS

Kalau pun Hari Valentine masih dihidup-hidupkan hingga sekarang, bahkan

ada kesan kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang

bergerak di bidang pencetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha

bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang

telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.

Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan

Hari Valentine Day sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang

yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang

amat sangat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog

sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis

dibelokkan menjadi perayaan bisnis.

PESTA KEMAKSIATAN

Christendom adalah sebutan lain untuk tanah-tanah atau negeri-negeri

Kristen di Barat. Awalnya hanya merujuk pada daratan Kristen Eropa

seperti Inggris, Perancis, Belanda, Jerman, dan sebagainya, namun dewasa

ini juga merambah ke daratan Amerika.

Orang biasanya mengira perayaan Hari Valentine berasal dari Amerika.

Namun sejarah menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine sesungguhnya

berasal dari Inggris. Di abad ke-19, Kerajaan Inggris masih menjajah

wilayah Amerika Utara. Kebudayaan Kerajaan inggris ini kemudian diimpor

oleh daerah koloninya di Amerika Utara.

Di Amerika, kartu Valentine pertama yang diproduksi secara massal dicetak

setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester,

Massachusetts. Ayahnya memiliki sebuah toko buku dan toko peralatan

kantor yang besar. Mr. Howland mendapat ilham untuk memproduksi kartu di

Amerika dari sebuah kartu Valentine Inggris yang ia terima. Upayanya ini

kemudian diikuti oleh pengusaha-pengusaha lainnya hingga kini.

Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan

AS) tiap tahun mengeluarkan penghargaan “Esther Howland Award for a

Greeting Card Visionary” kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.

Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika,

produksi kartu dibuat secara massal di selutuh dunia. The Greeting Card

Association memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar

kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua

setelah Natal dan Tahun Baru (Merry Christmast and The Happy New Year),

di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga

memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari

semua kartu valentine.

Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika

mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik

sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang lebih besar.

Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa

berupa bunga mawar dan coklat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian

mulai mempromosikan hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk

memberikan perhiasan kepada perempuan pilihan.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada hari

Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang

serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat ‘dating’

yang sering di akhiri dengan tidur bareng (perzinaan) ketimbang

pengungkapan rasa kasih sayang dari anak ke orangtua, ke guru, dan

sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah

sesungguhnya esensi dari Valentine Day.

Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan

sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja,

sesuatu yang lumrah di negara-negara Barat, sepanjang malam itu. Malah di

berbagai hotel diselenggarakan aneka lomba dan acara yang berakhir di

masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlainan jenis. Ini yang

dianggap wajar, belum lagi party-party yang lebih bersifat tertutup dan

menjijikan.

IKUT MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN

Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang

notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan

Valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine

Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung

nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak terlalu dipusingkan

mereka. “Ah, aku kan ngerayaain Valentine buat fun-fun aja…, ” demikian

banyak remaja Islam bersikap. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan

seperti itu?

Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan

ideologi Kristiani seperti mengakui “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan lain

sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau

tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani

tersebut, apa pun alasanya.

Nah, jika ada seorang Muslim yang ikut-ikutan merayakan Hari Valentine,

maka diakuinya atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang

mengatakan bahwa “Yesus sebagai Anak Tuhan” dan sebagainya yang di dalam

Islam sesungguhnya sudah termasuk dalam perbuatan musyrik, menyekutukan

Allah SWT, suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah

SWT. Naudzubillahi min dzalik!

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ”

Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, “Memberi selamat atas

acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa

perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan

puasa mereka, dengan mengucapkan, “Selamat hari raya!” dan sejenisnya.

Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling

tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat

atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut

lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi

selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang

kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari

buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan

kemarahan dan kemurkaan Allah. ”

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat

Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai

orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan

Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin

bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka

menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Wallahu’alam bishawab.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

”Tidak semua yang kita anggap baik bagus untuk kita

tetapi yang kita anggap jelek malah bagus untuk kita”

Saudaraku, itulah sejarah Valentine’s Day yang sebenarnya, yang seluruhnya tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan “kasih sayang”, lalu kenapa kita masih juga menyambut Hari Valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya?. Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita remaja putra-putri Islam yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain. Padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya” (Al Isra’ : 36).

sumber : http://gokimhock.wordpress.com; Group Situs http://www.mediamuslim.info

Valentine day

Bulan Februari kayaknya jadi bulannya para muda-mudi… lho kenapa? Karena banyak dari mereka yang sibuk berburu pernak-pernik bernuansa cinta. Buat para pebisnis, bulan Februari ini boleh dibilang “tambang uang”. Bisa kita lihat nuansa penuh warna pink di pusat-pusat perbelanjaan yang juga di semarakkan balon warna-warni berbentuk hati. Semua produk berlabel love alias cinta pun banyak dicari.

Banyak banget produk di tawarin. Mulai dari kartu ucapan, cokelat yang bentuk dan kemasannya bervariasi, bunga, boneka, bantal, aneka baju berwarna pink, pernak-pernik, hingga buku dan CD. Udah gitu, pakek diskon lagi! Gimana konsumen nggak ngiler?, tinggal pilih, cocok, bayar!.

Hari kasih sayang yang tiap taun jatuh pada tanggal 14 februari ini lho yang kita maksud. Dunia mengenalnya, valentine day’s. Momen yang udah pasti gak akan lewat dari pengamatan remaja sejagat raya. Bagi mereka, makna nya begitu spesial. Sehingga kian bejibun remaja-remaji yang ikut berpartisipasi dalam merayakannya dari tahun ke tahun.

Survey dilapangan perihal perayaan valentine ini seperti; biasanya para remaja merayakannya dengan cara ngasih ucapan, baik secara langsung, via kartu, sms, e-mail, yang pasti melankolis abis !. Ada juga acara tuker kado antar teman, atau makan bareng di cafe atau di rumah temen. Yang parahnya lagi, dari hasil survey ke lapangan, ada salah seorang remaja berpendapat, “biasanya temen-temen saya merayakan valentine dengan jalan-jalan bareng sama pacar, dan malahan ada yang booking di hotel dan berzina alias ML……”. Waduh!!

Sobat, makin serem aja yah ekspresi cinta remaja di bawah bendera valentine’s day. Padahal dari hasil survey itu semua, gak semua remaja yang tahu asal-usul tentang valentine’s day itu sendiri. Paling-paling tahu artinya hari kasih sayang doank. Gak lebih. Walau mereka aktif merayakannya setiap tahun. Emang sih, kebanyakan ikut-ikutan ajakan temen atau terprovokasi oleh media massa tapi tetep aja menikmati. Nah, biar kita semua pada gak penasaran, lebih baik kita intip dulu yuk sekilas tentang sejarah valentine’s day tersebut.

Sekilas Sejarah Valentine’s Day


Konon si empunya cerita, valentine day diperingati untuk mengenang jasa seorang pendeta kristen namanya St. Valentino tapi ada yang menceritakan St. Valentine beda huruf terakhirnya aja, yang hidup di Roma pada masa pemerintahan Kaisar Cladius II (268-270 M). Begini ceritanya, orang-orang Romawi merayakan acara untuk memperingati suatu hari yang menurut mereka bersejarah pada tanggal 15 Februari, mereka menamakannya Lupercalia untuk memperingati Juno (Dewa wanita dan perkawinan) serta Pan (Dewa dari alam ini). Acara ini berisi pesta muda-mudi yang memilih pasangannya masing-masing dengan menuliskan nama yang dimasukkan dalam jambangan kemudian diundi. Pasangan itu saling tukar kado sebagai pernyataan cinta kasih, acara dilanjutkan dari pesta dansa-dansi sampai pesta seks.

Setelah penyebaran Kristen, para pemuka gereja mencoba memberikan pengertian ajaran Kristen terhadap perayaan para pemuja berhala itu. Pada tahun 496 Masehi Paus Gelasius (Pope Gelagius) mengganti perayaan itu menjadi Saint Valentine’s Day dan dipindah tanggalnya menjadi 14 Februari yang diperingati sebagai penghormatan bagi seorang pendeta yang dihukum mati pada tanggal tersebut.

Dalam sejarah Valentine para ahli sejarah tidak setuju dengan adanya upaya untuk mengaitkan hal itu dengan kematian St. Valentine yang dipenggal kepalanya di Palatine, tapi sejarah lain mengatakan acara valentine dikaitkan dengan St. Valentine yang lain, yang dikejar-kejar karena memasukkan suatu keluarga Romawi ke dalam Kristen, kemudian dia dipancung di Roma sekitar tahun 273 Masehi. Walhasil tidak sedikit versi cerita valentine day itu, tapi hasil akhirnya sama bahwa sejarah valentine day hanya rekaan dan bisa jadi bohong (kaget khan!).

Kata “Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada dewa orang Romawi yang tadi udah disebutin. Jadi sebenernya, kalo kita meminta orang “to be my Valentine”, hal itu berarti kita memintanya menjadi “Sang Maha Kuasa”. Dengan begitu kita udah menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Syirik tuh!

Jangan lupa, perayaan VD juga telah sukses menghanyutkan jutaan remaja muslim untuk memuja cinta. Waktu hidupnya habis dipake buat ngurusin cinta dan mengejar kepuasan hawa nafsu. Inilah salah satu potret keberhasilan serangan budaya barat untuk melemahkan mental generasi muda Islam. Dalam konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen menyatakan: “Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang Kristen. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas, dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.”

Pren, Islam nggak ngelarang kamu mengekpresikan cinta kepada lawan jenis asal diridhoi Allah سبحانه و تعالى‎. Tapi kalo dikemas dengan label VD? Hmm… kayanya kamu mesti hati-hati deh. Soalnya kan udah jelas kalo asal-usul VD itu dari budaya kufur. Rasul صلى الله عليه و سلم ngingetin kita dalam sabdanya:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari golongan mereka” (HR Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar)

Meski demi menjaga hubungan baik ama temen, bukan berarti ngerayain VD jadi boleh lho. Sekedar ngucapin selamat juga mesti hati-hati. Seorang ulama sekelas Ibnul Qayyim mengingatkan, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Bagi yang mengucapkannya, berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas perbuatan maksiat, bid’ah atau kekufuran maka ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah.”

Pren, kalo kita sayang ama temen, ingetin deh mereka untuk tetep pede sebagai muslim dan say no to VD. Ikut ngerayain VD nggak bikin kita istimewa. Malah, bisa mengancam akidah dan bikin impoten potensi yang kita punya. Apa jadinya kalo remaja muslim lebih asyik mengejar kesenangan dunia dan lupa dengan urusan Islam dan Kaum Muslimin. Cuek bebek dengan kondisi sodara kita di Palestina. Acuh dengan masalah pendidikan, sosial, budaya, politik, sampe ekonomi akibat cengkeraman kapitalis sekuler yang ngatur hidup kita. Bisa-bisa, selamanya hidup kita sengsara. Makanya ayo kita sama-sama mulai dari sekarang: ikut ngaji, lupakan VD!

Cinta Kita Begitu Luas

Sobat muda muslim, mendengar obrolan remaja tentang cinta, sepertinya makna cinta itu makin menyempit. Sesempit ruang bernafas dalam KRD Cicalengka-Padalarang di pagi hari. Maknanya gak jauh berbeda dari cerita indah yang menghiasi rasa suka Haruno Sakura kepada Uchiha Sasuke dalam kisah Naruto. Selalu diartikan kasih asmara antar lawan jenis. Padahal Allah سبحانه و تعالى‎ Menciptakan rasa ini dalam diri manusia nggak Cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang tengah kasmaran. Bisa juga berupa kecintaan seorang bapak kepada anak dan istrinya, cinta kita pada ortu dan keluarga , atau kepada saudara seakidah , dan cinta kita kepada guru.

Seorang bapak, gak kenal lelah untuk mencari nafkah sebagai ekspresi cintanya kepada keluarga. Sekecil apapun kesempatan yang Allah سبحانه و تعالى‎ berikan untuk menghidupi keluarganya , akan dia kejar meski harus membanting tulang dan bermandikan keringat. Baginya, jadi pedagang asongan, tukang sampah, petugas parkir, bahkan pembantu sekalipun lebih terhormat dibanding seorang pencopet, maling, penjudi, bahkan pejabat yang korup.

Cinta kita kepada ortu seharusnya membuat kita belajar untuk mandiri dan berbakti kepadanya. Sebab Someday, kita pun akan jadi ortu yang mengurus keluarga sendiri dan juga mereka yang telah renta.

Cinta kepada saudara seakidah akan menghancurkan tembok sekolah, rumah, suku, atau negara yang menyekat kita seperti susahnya perjuangan umat Islam Indonesia dalam membela Saudara-saudaranya yang tengah di bantai oleh tentara zionis israel keparat di palestina pada awal muharam lalu. Dalam hadist Mutafaq alaih dari anas dari Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”

Dan yang terakhir adalah kecintaan kita kepada Allah سبحانه و تعالى‎ dan RasulNya صلى الله عليه و سلم. Menurut Al-Zujaj:

“Cintanya manusia kepada Allah‎ dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah.”

Nah sobat, inilah makna cinta bagi seorang muslim. Begitu Universal dan luas. Saking luasnya gak perlu dibatasi dengan hari khusus macam valentine day. Atau di ekspresikan dengan pacaran dan gaul bebas yang malah menghancurkan cinta itu sendiri kedalam jurang nafsu setan. Kita bisa mencintai sepanjang hari selama hidup kita dan tidak terbatas Cuma kepada lawan jenis saja. Karena itu, Syukurilah cinta dari Sang Pencipta cinta yaitu Allah سبحانه و تعالى‎.

Serangan Budaya Didepan Kita

Sobat muda muslim, di era bobroknya globalisasi kayak sekarang, memang gak gampang menghindari serangan budaya sekuler barat. Dunia begitu sempit. Sementara jangkuan pengaruh budaya itu malah makin meluas dengan bantuan kecanggihan teknologi, baik di dunia maya maupun nyata arus budaya itu keluar masuk gak pake karcis dan bebas menyapa remaja. Kondisi ini diperparah oleh kampanye “selamatkan remaja dari status jomblo” melalui tayangan sinetron atau reality show yang bertemakan cinta remaja. Pada akhirnya, kian banyak remaja yang tergoda untuk ikut-ikutan gaul bebas dan menodai cintanya dengan lumuran hawa nafsu. Ancur dah! Lantas mesti gimana donk?

Yaa, itulah hasil kebebasan berekspresi yang akhirnya berujung kebablasan berekspresi, dan demokrasi yang menjadi democrazy, semua orang gila berdemo untuk mempertahankan, melindungi, dan memperjuangkan aspirasi rakyat yang selalu dia acuhkan oleh penguasa pengkhianat umat. Budaya hedonisme yang menjadi-jadi ini menciptakan kerusakan moral remaja kian terpuruk, sehingga indonesia memecah rekor sebagai negara peringkat satu pelaku aborsi di Asia dan peringkat dua sebagai negara “terporno” didunia setelah Rusia. Aneh! Negara yang katanya mayoritas muslim tapi kok kayak gini ya???, sobat muslim harus tau, bahwa keterpurukan ini semua terjadi karena Islam gak dipandang lagi sebagai ideologi yang didalamnya terdapat sistem peraturan kehidupan yang lengkap banget. Kelengkapan Islam ini mulai dari ngatur masalah kita bersuci sampe ke masalah sistem pemerintahan. Ya!, itulah Islam yang kaffah (sempurna), dan Allah سبحانه و تعالى‎ telah mewajibkan setiap muslim untuk berislam secara kaffah. Mungkin, bencana-bencana yang melanda negeri kita tercinta ini terjadi karena kita gak mematuhi hukumNya secara keseluruhan kali ya???, ya donk!. Lalu apa solusinya?, buang sistem hidup barat, saatnya kita kembali menerapkan aturan-aturan Allah سبحانه و تعالى yang dibawa Rasul-Nya صلى الله عليه و سلم yaitu syariah dalam naungan khilafah, yang telah dijanjikan akan kembali lagi. Sebagaimana hadits dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم:

“…Kemudian akan ada khilafah berdasarkan metode kenabian. Kemudian (Beliau صلى الله عليه و سلم) diam” (HR. Ahmad)

Kita kembali ke urusan cinta.. Islam dalam hal ini udah ngatur ekspresinya biar gak ketuker ama ayam jago yang main sosor aja kalo udah kebelet. Nggak ada tuh yang namanya pacaran, HTS (Hubungan Tanpa Sex), ataupun pacaran islami. Yang ada dalam Islam adalah mekanisme khitbah dan nikah untuk penyaluran hasrat mencintai lawan jenis, yang pastinya lebih mantap dari pada sistem pergaulan cowok-cewek yang di punyai oleh barat. Dan perlu dicatet, mekanismenya Islam ini bukanlah pilihan, tapi kewajiban. Allah سبحانه و تعالى‎ Berfirman:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa yang mendurhkai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 36)

Selain itu, kita juga kudu berani berkata ‘tidaaaaak…!’ pada ajakan teman untuk bermaksiat kepadaNya. Seperti berpartisipasi dalam perayaan valentine day, tahun baru masehi, April mop, dugem, atau gaul bebas dengan lawan jenis. Ngapain juga kita kudu ngikut ajakan dia??? Demi nilai persahabatan??? Huh gombal! Seorang sahabat yang baik dan benar, pasti ngajak kita untuk taat, bukan untuk bermaksiat. Catet bro!

Oke deh sobat, kita bukan anak kecil lagi yang gampang latah ngikutin ajakan temen yang gak bener. Kita udah cukup dewasa untuk menjadikan hidup ini lebih berarti. Sebab hidup gak cuman sekali. Ada kehidupan kedua di akhirat nanti yang perbuatan kita akan di hitung oleh-Nya.

Dan belajar terus tentang Islam menjadi pilihan terbaik dalam mengisi masa muda kita. Jadi tunggu apa lagi??? Haruskah nunggu kita tua berbau tanah???. Mari kita sama-sama ikut berjuang demi melanjutkan kembali kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islamiyyah. Allahuakbar !! [Studia, Gaul Islam, edited by rev24]

sumber : http://7cgen.blogspot.com